Dari Hammersonic hingga Java Jazz, Indonesia Buktikan Mampu Menyelenggarakan Acara Musik Kelas Dunia
Kancah musik dan pariwisata Indonesia kian bersinar. Deretan festival musik berskala internasional, mulai dari Java Jazz yang bernuansa elegan hingga Hammersonic yang penuh energi cadas, telah menjadi bukti nyata kemampuan Indonesia dalam menyelenggarakan acara kelas dunia sekaligus menjadikannya motor penggerak ekonomi kreatif nasional.
Fenomena ini diperkuat oleh tren global gig tripping, di mana perjalanan wisata khusus dilakukan untuk menghadiri konser dan festival musik, membuka peluang besar bagi Indonesia untuk memperkuat posisi sebagai destinasi wisata kreatif. Scroll lebih lanjut yuk!
Wakil Menteri Pariwisata RI, Ni Luh Puspa, dalam diskusi di Konferensi Musik Indonesia (KMI) 2025, menegaskan pentingnya strategi kolaboratif dalam mengembangkan wisata musik sebagai salah satu daya tarik utama pariwisata Indonesia. Ia menyoroti dampak signifikan dari perhelatan akbar ini terhadap perekonomian negara.
“Dari dua event besar seperti Hammersonic dan Java Jazz saja, dampak ekonominya berkontribusi nyata terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dan kesejahteraan masyarakat melalui penyerapan tenaga kerja. Ini bukti bahwa musik bukan sekadar hiburan, tapi motor penggerak ekonomi dan pariwisata," kata Ni Luh Puspa.
Penyelenggaraan festival-festival besar seperti Prambanan Jazz, Synchronize Festival, hingga Dieng Culture Festival menunjukkan keragaman dan kapabilitas Indonesia. Group Advisor, Creative and Tourism Programs InJourney, Ishaq Reza, memaparkan bahwa pengembangan wisata musik dilakukan melalui berbagai inisiatif seperti Borobudur Festival, Golo Mori Jazz, dan program Event by Indonesia, di mana seni dan musik memperkaya pengalaman wisata.
“Seluruh upaya ini berpijak pada semangat collaborative tourism, yaitu kerja sama lintas sektor antara pemerintah, pelaku industri, dan komunitas kreatif untuk meningkatkan nilai dan daya tarik destinasi Indonesia di mata dunia," ujarnya.
Semangat kolaborasi ini tidak hanya berhenti di tingkat korporat dan pemerintah. Pengagas Dieng Culture Festival (DCF), Budhi Hermanto, berbagi pengalamannya bahwa festival tersebut merupakan inisiatif murni masyarakat Dieng yang dijalankan melalui gotong royong, dengan musik sebagai unsur penting.
“Kami tidak menentukan siapa musisi yang harus tampil, semuanya tumbuh secara alami melalui komunikasi antarwarga dan komunitas. Banyak musisi datang dengan inisiatif sendiri untuk berpartisipasi, sehingga festival ini benar-benar berbasis kolaborasi,” ujar Budhi.
Meskipun demikian, sektor pariwisata dan musik masih menghadapi sejumlah tantangan, salah satunya terkait regulasi.
Sekretaris Jenderal Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Maulana Yusran, menyebutkan pentingnya kolaborasi antara Kementerian Kebudayaan, Kementerian Pariwisata, dan Pemerintah Daerah untuk mempopulerkan musik tradisi.
Dalam konteks bisnis, ia berharap adanya kebijakan yang memperjelas status public domain agar musik daerah dapat dimanfaatkan secara lebih luas oleh sektor pariwisata.
Isu administrasi juga menjadi perhatian. Agus Setiawan Basuni, mewakili Warta Jazz Agency, menyoroti hambatan yang dihadapi musisi Indonesia di mancanegara.
“Persoalan kita ada di administrasi. Namun kita bersyukur hal tersebut sudah mulai diperbaiki. Saya ingin mendorong semua pihak di KMI untuk dapat duduk bersama dan menyamakan pandangan dalam menyelesaikan berbagai persoalan di lapangan yang dapat menghambat para musisi kita,” ucap Agus Setiawan.
Keberhasilan festival-festival musik ini, dari megah hingga yang berbasis komunitas, menegaskan bahwa musik bukan hanya aset budaya yang tak ternilai, tetapi juga katalisator ekonomi yang efektif. Dengan terus memperkuat kolaborasi dan membenahi regulasi, Indonesia berpotensi besar untuk mengokohkan dirinya sebagai pusat wisata musik kreatif global.