Teknologi Asli Indonesia Jadi Tameng Terakhir Ketahanan Siber

Ilustrasi serangan siber.
Ilustrasi serangan siber.

Platform ini dirancang khusus untuk membantu tim CSIRT (Computer Security Incident Response Team) di korporasi untuk melacak kebocoran data di Dark Web, sekaligus memberikan peringatan kerentanan (vulnerability) siber yang terjadi.

Laporan terbaru mencatat terjadinya 56.128.160 data exposure dari 461 stakeholder di Indonesia ke dark web sepanjang 2024, yang didominasi oleh data sektor administrasi pemerintahan (58,34 persen), lainnya (30,14), keuangan (3,58), dan TIK (2,73).

Angka ini menunjukkan betapa seriusnya ancaman kebocoran data dan menegaskan urgensi organisasi di Indonesia untuk memiliki mekanisme deteksi, peringatan, dan respons yang lebih kuat guna mencegah kerugian finansial maupun reputasi.

“CSIRTradar hadir untuk mengisi kebutuhan krusial di ekosistem keamanan siber Indonesia. Dengan gabungan dark web monitoring yang proaktif dan vulnerability alert yang akurat, kami memberi tim CSIRT kemampuan untuk melihat ancaman sebelum dieksploitasi, mengubah respons reaktif menjadi tindakan preventif yang terukur,” ujar Yudhi Kukuh, pendiri CISRTradar, di Jakarta, Sabtu, 11 Oktober 2025.

Layanan CSIRTradar yang bisa didapatkan dengan model berlangganan ini, menggabungkan dua kapabilitas utama, yaitu Dark Web Monitoring dan Vulnerability Alert.

Pada sisi Dark Web monitoring, CSIRTradar menerapkan sistem radar berteknologi tinggi yang terus memantau Dark Web untuk mendeteksi dan memberi peringatan dini saat informasi sensitif perusahaan atau individu, seperti kredensial login, data pribadi, atau kekayaan intelektual, muncul di Dark Web atau pasar online ilegal.

Metode pencarian menitikberatkan pada indikator seperti infostealer log (malware yang dibuat untuk menyusup dan mencuri informasi sensitif yang kemudian muncul di Dark Web), kebocoran kredensial email yang umumnya disebabkan kelalaian internal atau serangan dari luar seperti phishing, kebocoran domain, company breach, serta diskusi dan transaksi di forum rahasia atau darknet marketplace.

"Semua dimonitor untuk memberi peringatan dini terhadap potensi penyalahgunaan," tegas Yudhi. Sementara itu, Vulnerability Alert memberikan peringatan dini akan celah keamanan terbaru di CVE dan OSV. Common Vulnerabilities and Exposures (CVE) adalah penamaan standar untuk kerentanan keamanan siber yang sudah diketahui secara umum.

Laporan terbaru mendapati tingginya upaya eksploitasi terhadap celah keamanan siber atau CVE ini, khususnya pada semester 1 2025. Sedangkan, Open Source Vulnerabilities (OSV) adalah basis data kerentanan yang ada pada sistem open source.

Sistem di CSIRTradar akan aktif melakukan pemberitahuan penting ketika ada kerentanan baru yang teridentifikasi pada sistem, aplikasi, atau infrastruktur yang digunakan oleh korporasi. Solusi ini juga merupakan pelindung bagi aset organisasi atau perusahaan.

CSIRTradar mengonsolidasikan data-data kerentanan dari CVE dan OSV ini, lalu menghadirkannya dalam bentuk notifikasi yang dikategorikan menurut vendor dan produk untuk menentukan cakupan dampak kerentanan dalam infrastruktur, nilai Common Vulnerability Scoring System (CVSS), dan rekomendasi prioritas penanganan.

Integrasi via email dan webhook memudahkan tim keamanan menerima peringatan secara real-time dan mengotomatiskan alur respons. CSIRTradar juga menyediakan konsol berbasis web untuk memberikan akses yang cepat dan terjadwal kepada pelanggan, laporan yang lengkap untuk kemudahan cyber threat intelligence dan siap dicetak sehingga mudah dipahami oleh level manajerial.

Laporan ini meliputi username/email kredensial, URL dan protocol, tipe malware, waktu dan sumber kebocoran, serta rekomendasi penanganan.

"Dengan fitur seperti dark web monitoring dan vulnerability alert, organisasi di Indonesia dapat mempertahankan kontrol atas informasi penting, mencegah penyalahgunaan, dan memastikan perlindungan menyeluruh terhadap merek dan sistem internal mereka," tutur Yudhi.