Pengamat Keamanan Internasional: Pameran Alutsista di HUT TNI Jadi Pesan Kekuatan Indonesia Tak Gentar Ke Negara Lain

Kapal Selam Tanpa Awak KSOT-008 Muncul di HUT TNI ke-80
Kapal Selam Tanpa Awak KSOT-008 Muncul di HUT TNI ke-80

 Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Tentara Nasional Indonesia (TNI) tidak hanya menghadirkan tontonan parade militer yang megah, tetapi juga mengandung makna diplomasi pertahanan.

Melalui pameran alat utama sistem persenjataan (alutsista), Indonesia menunjukkan kepada dunia bahwa kekuatan militernya terus dimodernisasi untuk menghadapi tantangan global.

Peneliti dan pengamat keamanan internasional, Ulta Lavenia, menegaskan bahwa pameran alutsista dalam momentum ini bukan sekadar simbol perayaan, melainkan juga pesan strategis bagi negara lain.

“Iya benar. Penting sekali dan tidak bisa dibantahkan. Contohnya ketika kita melihat Cina, dunia membicarakan parade militer mereka. Kemarin juga Prabowo hadir di sana, itu kan menjadi sorotan dan bahkan memprovokasi Amerika mengubah Kementerian Pertahanan mereka menjadi Kementerian Perang,” ujar Ulta dikutip tvOne.

Peneliti dan pengamat keamanan internasional, Ulta Lavenia

Menurutnya, makna di balik pameran militer semacam ini adalah menunjukkan bahwa Indonesia memiliki sistem pertahanan yang mumpuni dan siap memberikan efek gentar (deterrent effect) kepada pihak yang berpotensi mengganggu kedaulatan.

“Dengan itu mereka bisa memperlihatkan kekuatan dan sejauh mana bisa melakukan sesuatu jika ada negara lain yang mengganggu. Itu pesan yang mau disampaikan. Jadi saya berharap melalui panglima di HUT ini kita juga bisa memperlihatkan kepada negara-negara lain bahwa kita punya defense system yang mumpuni,” tegasnya.

Optimum Essential Force di Era Prabowo

Ulta juga menyinggung bahwa arah kebijakan pertahanan di era Presiden Prabowo Subianto kini lebih ambisius. Jika sebelumnya Indonesia berfokus pada minimum essential force, kini konsep tersebut ditingkatkan menjadi optimum essential force.

“Dengan kepemimpinan Pak Prabowo, teman-teman di Komisi I tidak lagi bicara minimum essential force, tapi optimum essential force. Karena Pak Prabowo ingin motivasinya agar optimal, bukan sekadar minimum 40 persen, tetapi bagaimana bisa semaksimal mungkin dioptimalkan,” jelasnya.

Presiden RI Prabowo Subianto di HUT ke-80 TNI

Presiden RI Prabowo Subianto di HUT ke-80 TNI

Kebijakan ini sejalan dengan tren geopolitik global yang semakin multipolar, di mana rivalitas antarnegara besar seperti Amerika Serikat dan Cina semakin tajam. Indonesia dituntut memperkuat militernya agar tetap memiliki posisi strategis di kawasan Asia.

Selain sebagai pesan internasional, pameran alutsista dan parade militer juga diharapkan dapat memperkuat dukungan publik serta politik di dalam negeri. Analis Pertahanan Lembaga Keris, Adrianus Prima Manggala, menilai langkah ini penting agar program penguatan TNI mendapatkan legitimasi dari DPR dan masyarakat luas.

“Kami berharap dengan adanya parade ini dukungan masyarakat dan DPR semakin kuat untuk melengkapi alutsista yang ada. Karena alutsista itu bukan hanya pesawat, kapal, atau tank, tapi juga persenjataan dan integrasinya,” ujar Analis Pertahanan Lembaga Keris, Adrianus Prima Manggal.

HUT TNI ke-80 menghadirkan sejumlah atraksi militer besar. Mulai dari sail pass lebih dari 50 kapal, fly pass TNI AU, hingga defile pasukan dengan melibatkan 100.000 prajurit. Uniknya, tahun ini juga ada defile khusus perwira tinggi (Pati), yang jarang dilakukan sebelumnya.