2026 Diprediksi Jadi Tahun Terberat Bagi Para Pencari Kerja, Ini Penyebabnya

Ilustrasi Job Fair Nasional.
Ilustrasi Job Fair Nasional.

 Memasuki tahun 2026, pasar kerja Amerika Serikat diprediksi akan menghadapi tantangan yang tidak ringan. Mulai dari para pencari kerja yang merasa sulit menemukan posisi sesuai, hingga perusahaan yang kesulitan mendapatkan kandidat berkualitas. 

Fenomena ini menciptakan sebuah paradoks, di mana pengangguran jangka panjang meningkat, tetapi sebagian sektor justru mengalami kekurangan tenaga kerja. 

Perlambatan pertumbuhan lapangan kerja menjadi salah satu indikator yang mencolok. Menurut survei yang dilakukan oleh Federal Reserve Bank of Philadelphia, ekonomi AS diperkirakan hanya akan menambah rata-rata 57.000 pekerjaan per bulan pada kuartal pertama 2026. 

Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan sebelum pengumuman tarif “Liberation Day” oleh Presiden AS Donald Trump, yang mencatat penciptaan rata-rata 147.000 pekerjaan per bulan. Sejak pengumuman tarif tersebut, pertumbuhan lapangan kerja menurun menjadi sekitar 38.600 per bulan. 

Ilustrasi pengangguran.

Salah satu penyebab perlambatan ini adalah kebijakan tarif dan perdagangan yang sering berubah. Banyak perusahaan menunda ekspansi maupun perekrutan karena ketidakpastian biaya yang harus dibayarkan di masa depan. 

Para pemimpin bisnis dan ekonom juga sepakat bahwa fluktuasi kebijakan perdagangan menjadi faktor utama yang membuat pasar kerja tersendat. Selain itu, adopsi kecerdasan buatan (AI) turut memengaruhi pasar kerja. 

Ekonom Goldman Sachs memperkirakan bahwa AI berpotensi menggantikan 6 persen sampai 7 persen pekerjaan yang ada saat ini. Namun, sejarah inovasi teknologi menunjukkan bahwa pekerjaan baru bisa muncul di sektor yang sebelumnya belum ada. 

Kebijakan imigrasi yang ketat juga menjadi faktor penting. Federal Reserve Bank of San Francisco memperkirakan jumlah imigran yang masuk ke AS pada 2025 hanya 500.000 orang, turun drastis dari 2,2 juta orang pada 2024. Dengan berkurangnya tenaga kerja dari imigran, beberapa sektor industri mengalami kesulitan menutupi kebutuhan pekerja, yang pada gilirannya turut menahan pertumbuhan ekonomi. 

"Masih belum jelas sejauh mana perlambatan pertumbuhan pekerjaan disebabkan oleh penurunan permintaan tenaga kerja versus pasokan tenaga kerja," Ungkap Preston Caldwell, Kepala Ekonom AS di Morningstar, sebagaimana dikutip dari Investopedia, Senin, 29 Desember 2025.

Paradoks ini memiliki implikasi luas, termasuk pada kebijakan suku bunga dan keputusan investasi. Beberapa pejabat Federal Reserve menilai permintaan tenaga kerja menurun lebih cepat daripada pasokan, yang berpotensi menaikkan tingkat pengangguran. Dalam skenario ini, bank sentral mungkin akan menurunkan suku bunga untuk mendorong perekrutan, meski efektivitasnya tidak bisa dijamin.

Secara keseluruhan, tahun 2026 diperkirakan menjadi tahun yang penuh tantangan bagi pasar kerja AS. Para pencari kerja harus lebih selektif dan strategis dalam mencari peluang, sementara perusahaan perlu berhati-hati merencanakan perekrutan dan ekspansi.