Gegara Wisatawan Membeludak, Desa Wisata Ini Terapkan Tiket Masuk Rp 300.000 Mulai 2026
Sebuah desa wisata bernama Zaanse Schans di Belanda yang terkenal dengan kincir anginnya akan memberlakukan tiket masuk sebesar 17,50 Euro atau sekitar Rp 300.000 per orang mulai 2026 mendatang.
Kebijakan ini menjadi perubahan besar karena selama ini, para wisatawan yang berkunjung ke desa bersejarah tersebut tak perlu membayar biaya masuk alias gratis.
Desa kecil yang terletak 20 menit dari Amsterdam ini memang mudah diakses dan tak pernah sepi pengunjung.
Zaanse Schans merupakan sebuah desa wisata bersejarah yang terkenal dengan kincir angin, lanskap yang asri, dan kental dengan suasana pedesaan di Belanda.
Melansir BBC, pada tahun 2017 Zaanse Schans didatangi 1,7 juta pengunjung dan tahun 2024 meningkat tajam menjadi 2,6 juta.
Salah satu sudut di Desa Zaanse Schans, Belanda.
Jumlah ini diperkirakan akan meningkat di tahun 2025 bahkan mencapai 2,8 juta orang.
Jika memiliki banyak pengunjung, mengapa desa wisata di Belanda ini memilih untuk menerapkan tiket masuk bagi wisatawan? Simak penjelasannya di bawah ini!
Menekan jumlah wisatawan
Zaanse Schans terkenal dengan wisata sejarah kincir angin.
Seorang direktur museum desa, Marieke Verweij menjelaskan, pemberlakuan tiket masuk tersebut untuk menekan lonjakan jumlah wisatawan yang terjadi.
Banyaknya wisatawan yang datang ke Zaanse Schans justru membuat kondisi desa tak terkendali.
Meski berstatus desa bersejarah, Zaanse Schanse masih dihuni oleh 100 orang penduduk yang menjalankan kehidupan di desa tersebut.
Sayangnya, sebagian besar wisatawan tak mengetahui bahwa desa itu masih berpenghuni. Akibatnya, wisatawan memasuki kebun tanpa izin, masuk ke rumah, buang air kecil di halaman rumah, mengetuk-ketuk pintu, mengambil foto, hingga mengintip rumah menggunakan tongkat selfie.
Selain untuk menekan wisatawan, pendapatan tahunan dari tiket tersebut akan dikelola untuk memelihara kincir angin dan infrastruktur baru, salah satunya toilet.
Rencananya, mulai musim semi 2026 mendatang, wisatawan yang akan berkunjung wajib melakukan pembelian tiket secara daring.
Namun, tak semua pihak setuju
Meski akan memberikan dampak baik untuk sektor pengelolaan desa, namun rupanya tak semua pihak setuju dengan kebijakan ini.
Mengutip Travel and Leisure Asia, seorang pemilik toko dan restoran beranggapan jika pemberlakuan tiket dari gratis menjadi berbayar akan membuat pengunjung berkurang dan berdampak pada toko mereka.
Schaap, seorang pemilik toko souvenir juga khawatir tak akan ada orang berkunjung jika tiket diterapkan.
Zaanse Schans bukanlah satu-satunya desa wisata yang pada akhirnya memberlakukan tiket masuk untuk menekan wisatawan.
Sebelumnya, beberapa desa wisata di dunia telah menerapkan hal serupa, sebut saja Clovelly di Devon, Civita di Bagnoregjo, hingga Penglipuran di Bali.