Lasem “Tiongkok Kecil” yang Jadi Pusat Sejarah Batik Pesisiran Indonesia

Rembang, Lasem, Batik Lasem, Lasem Kota Batik, kota batik, sejarah lasem, sejarah Batik lasem, batik lasem berasal dari, batik lasem rembang, batik laseman, Lasem “Tiongkok Kecil” yang Jadi Pusat Sejarah Batik Pesisiran Indonesia, Jejak Sejarah Lasem sebagai Kota Pelabuhan, Batik Lasem, Simbol Akulturasi Budaya Jawa dan Tionghoa, Masa Kejayaan dan Kemunduran Batik Lasem, Lasem sebagai Pusat Peradaban Maritim, Batik Lasem

Lasem, sebuah kota tua di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, memiliki sejarah panjang sebagai pusat peradaban dan perdagangan di pesisir utara Jawa.

Kota ini bahkan dijuluki “Petit Chinois” (Tiongkok Kecil) oleh peneliti Perancis, serta disebut sebagai “The Little Beijing Old Town” oleh sejarawan Eropa pada masa kolonial.

Julukan tersebut lahir karena kuatnya akulturasi budaya antara Jawa dan Tionghoa yang meninggalkan warisan berharga, termasuk dalam seni batik Lasem yang kini menjadi bagian penting dari identitas budaya Indonesia.

Peringatan Hari Batik Nasional 2 Oktober pun menjadi momen yang tepat untuk kembali menengok sejarah batik Lasem sebagai wujud akulturasi budaya yang telah berlangsung berabad-abad.

Jejak Sejarah Lasem sebagai Kota Pelabuhan

Dikutip dari Buku "Lasem Negeri Dampoawang: Sejarah yang Terlupakan" yang ditulis Muhammad Akrom Unjiya, sejarah mencatat, sejak abad ke-14 hingga ke-15, Lasem telah menjadi pusat persinggahan pedagang mancanegara, khususnya dari Tiongkok.

Catatan ini sejalan dengan kejayaan Kerajaan Majapahit, ketika jalur perdagangan maritim Nusantara berkembang pesat.

Sejarawan N.J. Krom menyebutkan bahwa perkampungan Tionghoa sudah ada di Jawa sejak tahun 1294–1527 Masehi.

Hal ini dibuktikan dengan keberadaan pemukiman khas Tionghoa, bangunan pecinan, serta klenteng-klenteng tua di Lasem. Salah satunya berada di sepanjang Sungai Babagan, jalur penting yang menghubungkan pelabuhan dengan daratan.

Pada abad ke-15, Lasem juga menjadi salah satu pelabuhan yang disinggahi armada besar Laksamana Cheng Ho, utusan politik Kaisar Tiongkok Dinasti Ming, Kaisar Yung Lo.

Kehadiran Cheng Ho membuka jalan bagi pedagang Tionghoa untuk memperoleh legitimasi berdagang di kota-kota pesisir seperti Tuban, Semarang, dan Lasem.

Setelah abad ke-17, migrasi besar-besaran dari Provinsi Fujian, Tiongkok Selatan, semakin memperkuat komunitas Tionghoa di Lasem.

Mereka kemudian menguasai pusat-pusat perdagangan strategis, terutama di sepanjang jalur jalan pos Daendels.

Batik Lasem, Simbol Akulturasi Budaya Jawa dan Tionghoa

Rembang, Lasem, Batik Lasem, Lasem Kota Batik, kota batik, sejarah lasem, sejarah Batik lasem, batik lasem berasal dari, batik lasem rembang, batik laseman, Lasem “Tiongkok Kecil” yang Jadi Pusat Sejarah Batik Pesisiran Indonesia, Jejak Sejarah Lasem sebagai Kota Pelabuhan, Batik Lasem, Simbol Akulturasi Budaya Jawa dan Tionghoa, Masa Kejayaan dan Kemunduran Batik Lasem, Lasem sebagai Pusat Peradaban Maritim, Batik Lasem

Kain tokwi di rumah keluarga Sigit Witjaksono.

Dalam literatur perbatikan, termasuk di Museum Batik Nasional, Lasem disebut sebagai salah satu pusat batik pesisiran.

Batik Lasem dikenal memiliki pola dan corak khas yang disebut “pakem Laseman”, berbeda dengan batik Yogyakarta atau Solo yang kental dengan pakem keraton.

Batik Lasem disebut lebih egaliter dan dapat digunakan oleh semua kalangan tanpa memandang status sosial.

Konon, perkembangan batik ini erat kaitannya dengan kedatangan pengikut Cheng Ho pada tahun 1413 M.

Dalam naskah Carita Lasem (Babad Lasem), disebutkan bahwa seorang perempuan bernama Na Li Ni, istri dari Bi Nang Un asal Campa, mulai memperkenalkan teknik membatik di Lasem.

Ia menciptakan motif khas seperti burung hong, naga (liong), bunga seruni, banji, mata uang, serta warna merah darah ayam yang menjadi ciri khas batik Lasem.

“Na Li Ni mulai membatik bermotifkan burung hong, liong, bunga seruni, banji, mata uang, dan warna merah darah ayam khas Tiong Hwa,” demikian tertulis dalam naskah Carita Lasem.

Motif-motif ini kemudian berkembang menjadi batik tiga negri dan empat negri yang dikenal indah, elegan, dan sarat makna.

Masa Kejayaan dan Kemunduran Batik Lasem

Batik Lasem pernah mencapai puncak kejayaan pada abad ke-19. Batik ini tidak hanya diperdagangkan antar-pulau di Nusantara, tetapi juga diekspor hingga ke Thailand dan Suriname.

Bahkan, pada masa kolonial Belanda, motif batik juga mencerminkan kondisi sosial masyarakat.

Misalnya, motif kricakan lahir dari penderitaan rakyat yang dipaksa memecah batu besar untuk pembangunan jalan pos Daendels.

Hingga tahun 1970-an, batik Lasem masih termasuk enam besar produksi batik di Indonesia, bersama Surakarta, Yogyakarta, Pekalongan, Banyumas, dan Cirebon. Direktur IPI, William Kwan H.L., mencatat bahwa pemasaran batik Lasem merambah Sumatera, Bali, Sulawesi, hingga Asia Timur dan Semenanjung Malaka.

Namun, kejayaan itu meredup pada 1960-an akibat masuknya batik cap yang lebih murah dan kebijakan diskriminatif terhadap etnis Tionghoa pada masa Orde Baru.

Lasem sebagai Pusat Peradaban Maritim

Rembang, Lasem, Batik Lasem, Lasem Kota Batik, kota batik, sejarah lasem, sejarah Batik lasem, batik lasem berasal dari, batik lasem rembang, batik laseman, Lasem “Tiongkok Kecil” yang Jadi Pusat Sejarah Batik Pesisiran Indonesia, Jejak Sejarah Lasem sebagai Kota Pelabuhan, Batik Lasem, Simbol Akulturasi Budaya Jawa dan Tionghoa, Masa Kejayaan dan Kemunduran Batik Lasem, Lasem sebagai Pusat Peradaban Maritim, Batik Lasem

Javier memasarkan kain-kain buatannya melalui media sosial.

Selain dikenal dengan batiknya, Lasem juga tercatat sebagai pusat penting dalam kekuatan maritim Nusantara.

Dalam Nagarakretagama dan Pararaton, Lasem disebut sebagai salah satu dari 11 kerajaan bawahan Majapahit yang memiliki otonomi sendiri.

Lasem juga menjadi pangkalan armada laut Majapahit. Hutan-hutan jati di Lasem menyediakan bahan baku utama galangan kapal di Caruban. Kapal-kapal Majapahit yang dibuat di Lasem terkenal tangguh dan berlayar hingga ke Asia Tenggara.

Catatan Portugis abad ke-17 menyebut, pelabuhan Lasem bersama Gresik, Tuban, dan Jepara merupakan pusat perdagangan yang sangat sibuk, dengan ratusan kapal berlabuh setiap harinya.

Batik Lasem

Meski sempat meredup, semangat melestarikan batik Lasem tidak pernah padam. Kini, batik Lasem kembali menggeliat, tidak hanya diproduksi oleh pengusaha Tionghoa, tetapi juga oleh banyak perajin dari kalangan Jawa.

Batik Lasem pun tidak lagi sekadar simbol budaya, tetapi juga menjadi komoditas ekonomi kreatif yang memiliki nilai jual tinggi. Setiap lembar batik Lasem merepresentasikan akulturasi budaya Jawa dan Tionghoa yang telah berlangsung ratusan tahun.

Peringatan Hari Batik Nasional 2 Oktober sekaligus menjadi momentum penting untuk semakin mengangkat pamor batik Lasem ke panggung nasional dan dunia.