Konservasi Jadi Kunci Keberlanjutan Wisata Hiu Paus di Botubarani, Gorontalo
Hiu paus di Botubarani. Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, saat ini menjadi daya tarik wisata. Banyak orang yang penasaran untuk menyaksikannya secara langsung.
Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Puspa menegaskan, pentingnya menjaga keberlangsungan hiu paus yang menjadi ikon wisata ini.
Menurutnya, pengembangan wisata berbasis hiu paus hanya akan berkelanjutan jika semua pihak mengedepankan konservasi.
Dalam dialog bersama masyarakat dan pelaku wisata setempat, Wamenpar menekankan bahwa habitat alami satwa laut raksasa tersebut tidak boleh terganggu oleh aktivitas pariwisata. “
Pesan Bu Menteri Pariwisata jelas, kita harus menjaga area konservasi dan kelestarian hiu paus agar daya tarik wisata ini tetap ada di masa depan,” kata Ni Luh Puspa dalam rilis Kemenpar yang Kompas.com terima, Selasa (30/9/2025).
Wisata berbasis konservasi
Wamenpar juga mengingatkan wisatawan agar berperilaku bijak saat menikmati atraksi hiu paus, mulai dari menjaga jarak aman, tidak memberi makan langsung, hingga memastikan laut tetap bersih.
Selain itu, ia mendorong masyarakat serta pemerintah daerah untuk berinovasi menciptakan atraksi tambahan agar Botubarani tidak hanya bergantung pada kehadiran hiu paus.
“Tentu perlu inovasi lain untuk mengembangkan desa wisata ini. Tidak hanya mengandalkan hiu paus, tetapi juga menghadirkan atraksi-atraksi baru agar wisatawan bisa merasakan berbagai pengalaman saat berkunjung,” katanya.
Sejak kemunculan hiu paus pertama kali di Botubarani pada 2016, desa ini menjelma menjadi salah satu destinasi unggulan Gorontalo. Keistimewaannya, wisatawan bisa menyaksikan hewan raksasa itu dari jarak dekat bahkan dari bibir pantai.
Ada pula pengalaman unik seperti menaiki perahu transparan dan berfoto dengan bantuan drone yang menyorot langsung hiu paus dari udara.
Namun, potensi besar ini sekaligus menghadirkan tantangan. Peningkatan jumlah kunjungan wisatawan dikhawatirkan dapat mengganggu kenyamanan hiu paus jika tidak diatur dengan baik.
Dampak nyata bagi warga
Ketua Kelompok Sadar Wisata Desa Botubarani, Wahab Matoka, menyebut kehadiran hiu paus telah membawa perubahan besar bagi kehidupan masyarakat.
Hiu Paus di Botubarani, Gorontalo.
Pariwisata kini dikelola secara mandiri oleh warga desa. Meski begitu, ia menilai jumlah wisatawan masih perlu ditingkatkan.
“Kami ingin wisata di sini berbeda dari Bali, tetapi jumlah pengunjungnya bisa setara dengan Bali,” ujarnya.
Wahab juga berharap dukungan Kementerian Pariwisata untuk pengadaan rumpon plankton. Menurutnya, keberadaan rumpon akan menjaga ekosistem laut sekaligus menjamin ketersediaan makanan bagi hiu paus dan ikan-ikan lain.
“Dengan banyak plankton, hiu paus akan lebih sering datang, sehingga wisatawan selalu bisa melihatnya,” tambahnya.