Menyedihkan, Rodrigo Holgado Dipecat Klub Buntut Skandal Naturalisasi Ilegal Timnas Malaysia
Pemain naturalisasi ilegal Timnas Malaysia, Rodrigo Holgado dikabarkan kehilangan karier di klubnya, usai pemutusan kontrak dari klub asal Kolombia, America de Cali.
Kabar pemutusan kontrak ini langsung menjadi perbincangan hangat di media sosial. Klub America de Cali mengambil langkah tegas setelah sang pemain tersandung kasus dokumen naturalisasi palsu yang menyeret nama Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM) beberapa waktu lalu.
“RESMI: America de Cali, klub Kolombia tempat bernaung Rodrigo Holgado (30/ST) telah memutus kontraknya sebagai akibat sanksi larangan bermain satu tahun dari FIFA karena kasus dokumen naturalisasi palsu,” tulis akun @idextratime di media sosial.
Timnas Malaysia
Kabar ini memicu gelombang reaksi dari publik sepak bola Asia Tenggara. Sejumlah netizen ramai-ramai menyerukan agar FIFA tidak hanya menghukum pemain, tetapi juga memberi sanksi lebih berat kepada FAM.
Beberapa warganet bahkan terang-terangan menuntut agar Federasi Sepak Bola Malaysia dibekukan sementara.
“FAM harusnya dibanned sementara juga biar adil,” tulis salah satu akun.
“FAM tidak dapat hukuman banned kah ini?” sahut yang lain.
Sejauh ini, FAM hanya menerima sanksi berupa denda senilai CHF 350 ribu atau sekitar Rp7,3 miliar dari FIFA. Namun, banyak pihak menilai hukuman itu terlalu ringan jika dibandingkan dengan konsekuensi yang diterima para pemain, termasuk Rodrigo Holgado yang kehilangan kontrak profesionalnya.
Kronologi Skandal Naturalisasi Ilegal Timnas Malaysia
Kasus ini bermula dari proyek besar yang digagas Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM) pada akhir tahun 2024. Ambisi mereka saat itu adalah meniru langkah sukses Timnas Indonesia yang berhasil meroket di peringkat FIFA berkat program naturalisasi pemain keturunan.
Untuk merealisasikan ambisi tersebut, FAM menggelar pertemuan dengan sejumlah perwakilan asosiasi sepak bola luar negeri guna menyusun strategi “revolusi sepak bola Malaysia”. Dalam pertemuan itu, Tunku Ismail, Putra Mahkota Johor sekaligus pemilik klub Johor Darul Ta’zim (JDT), turut hadir dan menjadi salah satu tokoh kunci di balik proyek ini.
Memasuki Desember 2024, FAM mulai aktif menelusuri pemain berdarah Malaysia yang tersebar di berbagai belahan dunia. Upaya ini disebut berhasil pada Januari 2025, ketika Tunku Ismail mengumumkan bahwa pihaknya telah menemukan tujuh pemain yang memiliki garis keturunan Malaysia.
Meski FAM saat itu enggan menyebutkan nama-nama mereka, proses naturalisasi tetap dijalankan secara tertutup agar para pemain bisa segera memperkuat tim nasional.
Namun belakangan, identitas para pemain itu akhirnya terungkap: Facundo Garces, Jon Irazabal, Hector Hevel, Joao Figueiredo, Rodrigo Holgado, Gabriel Palmero, dan Imanol Machuca.
Kabar ini sontak memicu kehebohan di dunia sepak bola ASEAN. Pasalnya, sebagian besar pemain tersebut berasal dari Argentina, Portugal, dan Brasil—negara yang tidak memiliki hubungan migrasi kuat dengan Malaysia. Meski menuai polemik, FAM tetap melanjutkan proyek tersebut dan resmi memperkenalkan tujuh pemain itu sebagai bagian dari Timnas Malaysia.
Dari Kemenangan 4-0 hingga Sanksi FIFA
Pada Juni 2025, Malaysia mencatat kemenangan besar 4-0 atas Vietnam dalam laga uji coba internasional. Namun, kemenangan tersebut justru membuka babak baru skandal ini. Federasi Sepak Bola Vietnam melayangkan laporan resmi ke FIFA, menuding bahwa lima dari tujuh pemain naturalisasi Malaysia tidak memenuhi syarat eligibilitas.
Laporan itu menyoroti Facundo Garces, Rodrigo Holgado, Joao Figueiredo, Jon Irazabal, dan Hector Hevel, yang disebut sama sekali tidak memiliki hubungan darah dengan Malaysia.
Setelah tiga bulan penyelidikan, FIFA akhirnya menjatuhkan vonis: kelima pemain tersebut dinyatakan tidak sah memperkuat Timnas Malaysia. FAM pun dijatuhi denda sebesar CHF 350.000 (sekitar Rp7,3 miliar), sementara para pemain dikenakan larangan tampil di level internasional selama 12 bulan dan denda tambahan CHF 2.000 (sekitar Rp41 juta).