Top 10+ Negara Teraman untuk Jalan-jalan Malam, Tetangga Indonesia Juaranya
Berjalan kaki di malam hari bisa menjadi hal menyenangkan, tapi juga menakutkan bila lingkungan sekitar dianggap berbahaya.
Belum lama ini, lembaga riset dan konsultasi global Gallup, merilis laporan keamanan global Gallup 2025 yang menunjukkan bahwa orang-orang merasa lebih aman dibandingkan 20 tahun terakhir.
Sebanyak 73 persen orang dewasa merasa aman berjalan sendirian di malam hari di tempat tinggal mereka. Angka ini tertinggi sejak Gallup mulai merilis laporan pada 2006.
Rasa aman berjalan kaki pada malam hari meningkat di sejumlah kawasan Asia-Pasifik, Eropa Barat, Amerika Latin dan Karibia, dan Afrika Sub-Sahara
"Bahkan di tengah konflik dan ketidakpastian, orang-orang di seluruh dunia membangun komunitas yang lebih aman dari nol," kata CEO Gallup Jon Clifton, dalam keterangan di situs resminya, dikutip pada Sabtu (27/9/2025).
"Temuan ini menunjukkan bahwa rasa aman bukan hanya ketiadaan kekerasan, tetapi juga adanya kepercayaan, institusi, dan ketahanan kolektif," lanjut dia.
Negara teraman di dunia untuk berjalan kaki pada malam hari
Gallup merilis laporan 10 negara paling aman di dunia untuk berjalan kaki di malam hari pada Kamis (18/9/2025).
Negara tetangga Indonesia, Singapura, menduduki peringkat pertama negara paling aman untuk berjalan kaki saat malam hari.
Ini bukan kali pertama Singapura dinyatakan sebagai negara teraman di dunia untuk berjalan kaki di malam hari, melainkan kali ke-12 bagi negara tersebut menduduki puncak daftar global Gallup.
Menurut riset yang dilakukan lembaga ini, 98 persen penduduk Singapura merasa aman berjalan sendirian di malam hari.
Sebaliknya, Afrika Selatan melaporkan persepsi keselamatan terendah di dunia dengan hanya 33 persen orang dewasa yang merasa aman.
Disusul dengan negara-negara tetangganya, yakni Lesotho dan Botswana, dengan hanya 34 persen orang dewasa yang merasa aman berjalan kaki pada malam hari.
Selengkapnya, simak daftar negara teraman di dunia untuk berjalan kaki pada malam hari menurut Gallup 2025 berikut ini.
- Singapura dengan persentase 98 persen
- Tajikistan dengan persentase 95 persen
- China dengan persentase 94 persen
- Oman dengan persentase 94 persen
- Arab Saudi dengan persentase 93 persen
- Hong Kong dengan persentase 91 persen
- Kuwait dengan persentase 91 persen
- Norwegia dengan persentase 91 persen
- Bahrain dengan persentase 90 persen
- Unit Emirat Arab (UEA) dengan persentase 90 persen
Mengapa Singapura jadi negara teraman di dunia?
Singapura sudah sejak lama dikenal sebagai negara dengan tingkat kejahatan rendah, penegakan hukum yang efektif, serta ketertiban umum yang kuat.
hal tersebut dinilai berkontribusi pada persepsi keamanan yang tinggi secara konsisten dari masyarakatnya.
Ikon wisata Singapura, Taman Merlion di distrik Marina Bay yang biasanya ramai dipadati turis terlihat sepi, Sabtu sore (11/04/2020). Hanya terlihat segelintir warga yang sedang berlari sore. Untuk melawan pandemi corona terutama kasus infeksi domestik yang melonjak, Singapura mengumumkan kebijakan circuit breaker atau separuh lockdown sejak Selasa (07/04/2020). Warga diminta berdiam diri di rumah dan hanya keluar untuk keperluan darurat atau esensial seperti berbelanja atau membeli makanan. Berolahraga masih diizinkan jika dilakukan sendiri atau dengan penghuni serumah dan jarak minimal 1 meter dijaga antara individu ke individu
Namun, karena Singapura merupakan negara-kota kepulauan yang kecil dan berpenghasilan tinggi, kemajuan yang dicapai mungkin tidak mudah direplikasi dalam konteks lain.
Dikutip dari Conde Nast Traveller, negara-negara teraman di dunia, termasuk Singapura dan China, memiliki investasi infrastruktur dan pengawasan sangat tinggi, serta keberadaan otoritas merupakan bagian dari tatanan sosial.
Hasilnya, rasa keteraturan dan prediktabilitas yang menghasilkan kepercayaan masyarakat untuk tidak khawatir berjalan kaki di malam hari.
Berbeda dengan Singapura, Norwegia yang menduduki peringkat kedelapan justru tidak terlalu menekankan penegakan hukum yang ketat, melainkan lebih pada kepercayaan yang mengikat komunitasnya.
Kesenjangan gender
Perbedaan persepsi keselamatan berdasarkan gender masih terlihat jelas. Secara global, 67 persen perempuan mengatakan mereka merasa aman berjalan sendirian di malam hari.
Sementara untuk laki-laki yang merasa aman berjalan kaki sendirian di malam hari, jumlahnya mencapai 78 persen.
Di lebih dari 100 negara dan wilayah, kesenjangan gender dalam persepsi keselamatan melebihi 10 poin persentase.
Beberapa negara berpenghasilan tinggi, termasuk Amerika Serikat (AS), Australia, dan beberapa negara anggota Uni Eropa, memiliki beberapa perbedaan gender terbesar, dengan kesenjangan 26 poin atau lebih.
Misalnya, di AS, sebanyak 71 persen orang dewasa mengatakan mereka merasa aman berjalan di malam hari, yang sejalan dengan peringkat dalam beberapa tahun terakhir.
Namun, AS memiliki salah satu gap gender terbesar di antara negara-negara berpenghasilan tinggi.
Total 58 persen perempuan melaporkan merasa aman, dibandingkan dengan 84 persen laki-laki yang merasa aman berjalan sendirian di malam hari. Artinya, ada kesenjangan gender sebesar 26 poin.
Di saat situasi tidak menentu, Kompas.com tetap berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update terkini dan notifikasi penting di Aplikasi Kompas.com.