Gaikindo Sebut Harga Mobil Listrik CBU Naik di 2026 Jika Tak CKD
Insentif mobil listrik impor resmi akan diberhentikan oleh pemerintah mulai akhir 2025.
Seluruh merek yang menerima insentif perlu melakukan perakitan lokal mulai tahun depan dan memanfaatkan komponen lokal guna mempertahankan harga jual.
Perlu diingat sepanjang 2025 ada sejumlah merek penerima insentif mobil listrik impor, termasuk BYD dan GAC Aion.
Insentif tersebut memang terbukti mendongkrak angka penjualan mobil listrik BYD di dalam negeri.

Sebab meskipun berstatus Completely Built Up (CBU), potongan pajak membuat harga mobil semakin kompetitif.
Namun sampai saat ini, diketahui bahwa BYD belum mengikat perjanjian kerja sama dengan penyedia komponen lokal.
Menurut pihak Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia atau Gaikindo, deretan mobil listrik CBU yang tidak dirakit lokal per 2026 berpotensi mengalami lonjakan harga.
“Kalau tahun depan kan mereka sudah harus bikin (mobil listrik) di sini. Jika impor, pasti (harga) akan naik karena ada logistic cost,” kata Kukuh Kumara, Sekretaris Umum Gaikindo di Jakarta beberapa waktu lalu.
Sebagai gambaran, harga mobil listrik termurah BYD di dalam negeri adalah Atto 1 mulai dari Rp 195 jutaan.
Tanpa bantuan insentif, harganya diperkirakan naik 40 persen menjadi Rp 273 jutaan.
Hal serupa berpotensi dialami oleh model-model BYD lain jika tidak memenuhi persyaratan perakitan lokal dan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) 40 persen per 2026.
Hanya saja Gaikindo menegaskan keputusan akhir soal harga ada di tangan setiap pabrikan.
“Itu (soal perubahan harga) kebijakan masing-masing pabrikan yang memuat,” tegas Kukuh.
Dalam kesempatan terpisah, ekonom menilai perlu ada transisi kebijakan sebelum insentif mobil listrik impor benar-benar disetop.
Sehingga harganya meroket pesat dan kembali menurunkan angka penjualan.
Misalnya Tiered Incentives berbasis TKDN atau CO2. Lalu merek yang cepat produksi lokal bisa mempertahankan harga kompetitif.

“Pembebasan bea masuk komponen, bukan CBU. Super-deduction untuk investasi tooling atau pack baterai,” kata Josua Pardede, Chief Economist Permata Bank kepada KatadataOTO beberapa waktu lalu.
Namun yang jadi catatan, impor komponen justru dapat merugikan produsen lokal.
Mengingat industri komponen menanti lokalisasi pasca disetopnya insentif mobil listrik impor demi menghindari terjadinya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).