Selangkah Lagi, Drama Pemblokiran TikTok di AS Akan Berakhir

Tanggal 17 September waktu Amerika Serikat seharusnya menjadi jatuh tempo bagi TikTok untuk beroperasi di AS. Akan tetapi, nyawa TikTok di AS terselamatkan sebelum deadline.
Pasalnya, pemerintah AS dan China akhirnya mengumumkan bahwa mereka telah mencapai "framework deal" atau kesepakatan kerangka terkait kepemilikan TikTok. Kesepakatan ini memperbesar peluang TikTok untuk tetap bisa beroperasi di AS.
Menurut Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, kesepakatan ini pada dasarnya membuka jalan agar kepemilikan TikTok di AS beralih dari ByteDance ke pihak Amerika.
“Kami tidak akan membicarakan detail komersial dari kesepakatan ini. Itu urusan dua perusahaan swasta. Tapi syarat-syarat komersialnya sudah disepakati,” kata Bessent dalam konferensi pers usai putaran perundingan di Madrid, Spanyol.
Kesepakatan juga mencakup isu sensitif lain, yaitu soal algoritma dan data pengguna. Pejabat China, Wang Jingtao, menyebut kedua pihak sudah menyetujui adanya lisensi untuk penggunaan hak kekayaan intelektual, termasuk algoritma TikTok.
Kesepakatan ini juga disebut menunjuk mitra di AS yang bertugas menangani data dan keamanan konten pengguuna di Amerika.
Menurut Bessent, China tetap ingin mempertahankan aspek budaya lokal di platform tersebut.
Sebab, China menganggap hal tersebut sebagai soft power.
“Mereka (China) tertarik pada karakteristik Tiongkok dari aplikasi ini, yang mereka anggap sebagai soft power. Kami tidak peduli soal itu. Kami peduli soal keamanan nasional,” ujar Bessent, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari APNews, Rabu (17/9/2025).
Kesepakatan belum final
Meskipun menjadi angin segar bagi nasib TikTok di AS, kesepakatan ini belum final. Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping dijadwalkan berbicara lewat sambungan telepon pada Jumat pekan ini untuk meresmikan detailnya.
Trump juga memberikan sinyal positif soal keberlangsungan TikTok di AS, meskipun disampaikan secara implisit. Hal itu ia sampaikan lewat sebuah unggahan di media sosial Truth Social.
"Pertemuan Dagang yang penting di Eropa antara AS dan China berjalan sangat baik," tulis Trump.
"Sebuah kesepakatan menentukan perusahaan "tertentu" yang sangat ingin diselamatkan anak muda di negeri ini. Mereka akan sangat senang," kata Trump tanpa menyebut nama perusahaan apa yang dimaksud.
Presiden China Xi Jinping dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Setelah kerangka kesepakatan disetujui, proses selanjutnya adalah menentukan perusahaan AS mana yang akan mengambil alih kepemilikan TikTok.
Kemungkinan besar, pembicaraan ini juga akan melibatkan persetujuan Kongres, yang sebelumnya meloloskan aturan divestasi TikTok dari perusahaan induknya, ByteDance.
Jika semua berjalan sesuai rencana, TikTok tidak jadi dilarang di AS, melainkan akan beroperasi dengan kepemilikan dan pengelolaan baru di bawah perusahaan AS, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari APNews, Rabu (17/9/2025).
Pemblokiran ditunda tiga kali
Drama wacana pemblokiran Tiktok mulai muncul di akhir periode pemerintahan Presiden Joe Biden. Alasan utama yang disorot adalah soal keamanan data.
Setelah Trump memenangkan pemilihan presiden (pilpres) akhir tahun lalu, salah satu janjinya adalah menyelamatkan nasib TikTok di AS.
Janji ini kontradiktif dengan pandangannya mengenai TikTok saat menjabat sebagai Presiden AS di periode pertama (2017-2021). Kala itu, Trump justru ingin memblokir aplikasi ini.
Seharusnya, TikTok diblokir tanggal 19 Januari 2025, sehari sebelum Trump dilantik menjadi Presiden AS untuk periode kedua.
Akibatnya, tepat pada 20 Januari, TikTok sempat diblokir secara nasional di Amerika Serikat. Aplikasi itu bahkan sempat diturunkan dari Apple App Store dan Google Play Store.
Namun tak lama kemudian, Trump memberi perpanjangan pertama selama 75 hari, menjadikan tenggat baru jatuh pada 5 April 2025.
Dalam tenggat waktu tersebut, TikTok harus melakukan menjual bisnis (divestasi) dan saham mereka di AS ke entitas atau pihak asal AS. Artinya, TikTok harus benar-benar lepas dari induk perusahaannya, ByteDance.
Apabila hal tersebut belum terealisasi hingga jatuh tempo, TikTok akan diblokir di AS.
Menjelang deadline April, Trump kembali melunak dengan memberi perpanjangan kedua, memperpanjang tenggat hingga 19 Juni 2025. Kemudian, Trump memberikan injury time ketiga dengan deadline 17 September ini.
Di saat situasi tidak menentu, Kompas.com tetap berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update terkini dan notifikasi penting di Aplikasi Kompas.com.