Drama TikTok di AS Berakhir? AS dan China Capai Kesepakatan

Setelah berbulan-bulan tarik ulur, akhirnya ada kabar baik soal masa depan TikTok di Amerika Serikat.
Aplikasi video pendek yang dimiliki ByteDance asal China itu sejak awal 2025 berada di ujung tanduk karena terancam dilarang beroperasi.
Pemerintah AS, lewat undang-undang Keamanan Nasional yang disahkan tahun lalu oleh Joe Biden, mewajibkan ByteDance untuk menjual TikTok ke perusahaan AS. Jika tidak, TikTok bakal benar-benar diblokir di negara AS.
Donald Trump, yang kini kembali menjabat Presiden AS, sudah beberapa kali memperpanjang tenggat waktu larangan, dengan alasan masih ada ruang negosiasi dengan Tiongkok.
Tenggat terakhir dari injury time ketiga, seharusnya berakhir pada 17 September 2025.
Namun, di tengah ancaman larangan tersebut, AS dan China akhirnya mengumumkan bahwa mereka telah mencapai “framework deal” atau kesepakatan kerangka terkait kepemilikan TikTok.
AS kuasai algoritma TikTok?
Beberapa negara sudah melarang penggunaan aplikasi TikTok.
Menurut Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, kesepakatan ini pada dasarnya membuka jalan agar kepemilikan TikTok di AS beralih dari ByteDance ke pihak Amerika.“Kami tidak akan membicarakan detail komersial dari kesepakatan ini. Itu urusan dua perusahaan swasta. Tapi syarat-syarat komersialnya sudah disepakati,” kata Bessent dalam konferensi pers usai putaran perundingan di Madrid, Spanyol.
Kesepakatan juga mencakup isu sensitif lain, yaitu soal algoritma dan data pengguna.
Pejabat China, Wang Jingtao, menyebut kedua pihak sudah menyetujui adanya lisensi untuk penggunaan hak kekayaan intelektual, termasuk algoritma TikTok.
Kesepakatan ini disebut sekaligus menunjuk mitra di AS yang bertugas menangani data dan keamanan konten pengguna di Amerika.
Bessent menambahkan bahwa aspek budaya lokal yang menjadi perhatian Tiongkok tetap dipertahankan, tetapi yang paling penting bagi AS adalah aspek keamanan nasional.
“Mereka (China) tertarik pada karakteristik Tiongkok dari aplikasi ini, yang mereka anggap sebagai soft power. Kami tidak peduli soal itu. Kami peduli soal keamanan nasional,” ujar Bessent.
Meski begitu, perlu digarisbawahi bahwa framework deal ini belum final. Trump dan Presiden China Xi Jinping dijadwalkan berbicara lewat sambungan telepon pada Jumat pekan ini untuk meresmikan detailnya.
Ilustrasi TikTok di tengah perseteruan Amerika Serikat yang dipimpin Donald Trump dengan China yang dikomandoi Xi Jinping.
Trump sendiri memberi sinyal positif. Ia bahkan menulis di akun Truth Social bahwa kesepakatan ini akan menyelamatkan aplikasi yang “sangat diinginkan oleh anak-anak muda di negeri ini” dan mereka akan “sangat senang.”
Setelah kerangka kesepakatan disetujui, proses selanjutnya adalah menentukan perusahaan AS mana yang akan mengambil alih kepemilikan TikTok.
Kemungkinan besar, pembicaraan ini juga akan melibatkan persetujuan Kongres, yang sebelumnya meloloskan aturan divestasi TikTok dari perusahaan induknya, ByteDance.
Jika semua berjalan sesuai rencana, TikTok tidak jadi dilarang di AS, melainkan akan beroperasi dengan kepemilikan dan pengelolaan baru di bawah perusahaan AS, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari APNews, Selasa (16/9/2025).
Ditunda tiga kali
Ilustrasi TikTok ByteDance
Kisruh TikTok di AS bermula dari kekhawatiran soal keamanan data. ByteDance sebagai induk TikTok berbasis di Tiongkok, dan hukum di negara itu memungkinkan pemerintah meminta akses ke data perusahaan.Hal ini memicu kekhawatiran bahwa data pengguna AS bisa jatuh ke tangan Beijing. Selain itu, algoritma TikTok yang sangat berpengaruh dalam menentukan konten juga dianggap bisa digunakan untuk kampanye propaganda atau operasi pengaruh.
Pada masa Presiden Joe Biden, Kongres AS sudah mengesahkan undang-undang yang mewajibkan ByteDance melepas kendali atas TikTok.
UU Keamanan Nasional bernama "Protecting Americans from Foreign Adversary Controlled Applications Act" atau Perlindungan Warga dan Aplikasi yang Dikendalikan Pesaing Asing.
TikTok sejatinya telah menghadapi tenggat awal sejak 19 Januari 2025, sehari sebelum Trump dilantik kembali sebagai Presiden AS.
Akibatnya, tepat pada 20 Januari, TikTok sempat diblokir secara nasional di Amerika Serikat. Aplikasi itu bahkan sempat diturunkan dari Apple App Store dan Google Play Store.
Namun tak lama kemudian, Trump memberi perpanjangan pertama selama 75 hari, menjadikan tenggat baru jatuh pada 5 April 2025.
Di masa pemerintahan Trump, larangan total selalu ditunda. Ini mengingat popularitas TikTok yang begitu besar di AS, dengan lebih dari 170 juta pengguna. Bahkan Trump sendiri memiliki lebih dari 15 juta pengikut di aplikasi itu.
Menjelang deadline April, Trump kembali melunak dengan memberi perpanjangan kedua, memperpanjang tenggat hingga 19 Juni 2025. Kemudian, Trump memberikan injury time ketiga dengan deadline 17 September ini.
Di saat situasi tidak menentu, Kompas.com tetap berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update terkini dan notifikasi penting di Aplikasi Kompas.com.