Jejak Prasejarah Megalit di Sulteng Disiapkan Jadi Magnet Wisata Global
Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) tengah menggenjot pengembangan warisan megalitikum sebagai destinasi wisata budaya kelas dunia.
Langkah strategis ini juga diarahkan untuk mengusulkan warisan megalitik Sulteng sebagai Warisan Dunia UNESCO pada tahun 2028.
“Ini pekerjaan besar, tapi dengan kolaborasi antara pemerintah daerah, pusat, akademisi, dan masyarakat adat, kita bisa menjadikan Sulteng sebagai pusat peradaban yang diakui dunia,” ujar Gubernur Sulteng Anwar Hafid di Palu, Jumat (13/9/2025).
Sejalan dengan visi pembangunan daerah
Menurut Anwar, rencana tersebut selaras dengan visi Pemprov Sulteng melalui program Berani Harmoni dan Berani Cerdas, yang menempatkan kebudayaan sebagai fondasi pembangunan.
Untuk itu, ia meminta Dinas Kebudayaan Sulteng segera menyiapkan dokumen perencanaan pengembangan kawasan wisata budaya berbasis kebudayaan periode 2026–2029.
Salah satu langkah konkret adalah penetapan kawasan khusus seluas 100–200 hektare yang akan dikelola bersama pemerintah daerah dan masyarakat adat.
Kawasan ini diharapkan menjadi pusat pengembangan wisata budaya yang berkelanjutan dan berbasis kearifan lokal.
Museum Sulteng jadi pusat pengetahuan
Selain pengembangan kawasan khusus, peran Museum Sulawesi Tengah juga akan diperkuat. Museum yang kini menyimpan lebih dari 7.500 koleksi tersebut mencakup etnografi, arkeologi, hingga tradisi prasejarah.
Di antaranya, pembuatan kulit kayu berusia 4.500 tahun dan gerabah kubur terbesar di Indonesia, yang menjadi bukti kekayaan peradaban masa lalu di wilayah ini.
Lelaki suku Lore subetnis To Bada berbincang di depan arca menhir Palindo di Lembah Bada, tepatnya di Padang Sepe, Desa Bewa, Kecamatan Lore Selatan, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, Jumat (30/8/2013), dalam kegiatan Ekspedisi Budaya Lembah Bada. Palindo adalah arca megalitik terbesar yang ada di Lembah Bada.
Pemerintah berharap museum tidak hanya menjadi tempat penyimpanan benda bersejarah, tetapi juga berkembang menjadi pusat pengetahuan dan destinasi wisata budaya yang mampu menarik wisatawan nasional maupun mancanegara.
Dengan dukungan dari Kementerian Kebudayaan, akademisi, serta masyarakat adat, Pemprov Sulteng optimistis upaya ini akan membuka jalan menuju pengakuan UNESCO.
Jika berhasil, Sulawesi Tengah tak hanya memperkuat identitas budaya lokal, tetapi juga menempatkan diri sebagai salah satu pusat peradaban dunia.
Di saat situasi tidak menentu, Kompas.com tetap berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update terkini dan notifikasi penting di Aplikasi Kompas.com.