Kecelakaan Bus RS Bina Sehat, Kemampuan Sopir Jadi Pertanyaan
Kecelakaan maut kembali terjadi di Indonesia. Kali ini melibatkan satu unit bus pariwisata yang mengangkut rombongan wisatawan dari RS Bina Sehat Jember.
Peristiwa ini terjadi di Jalan Raya Sukapura, Desa Boto, Kecamatan Lumbang, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur pada Minggu (14/09) siang.
Kejadian berawal ketika bus melaju dari arah Bromo menuju ke Jember. Setibanya di lokasi kejadian, kendaraan besar ini mengalami rem blong.
Sopir bus bernama Albahri mengungkapkan kalau dirinya sudah merasakan ada masalah pada sistem pengereman sejak berada di wilayah Jatia, Desa Boto.

Albahri mengatakan bahwa angin pada sistem pengereman bus sudah habis. Sehingga ia tidak mampu menghentikan laju kendaraan.
Akan tetapi bus melaju tak terkendali dalam kecepatan tinggi. Membuat kecelakaan tidak bisa terhindarkan.
Bus RS Bina Sehat Jember itu sempat menghantam pembatas jalan. Lalu menabrak sebuah sepeda motor milik kurir yang sedang melintas.
Sebagian penumpang dilaporkan sampai terlempar keluar dari badan bus. Mengakibatkan delapan orang meninggal dunia dan puluhan lain luka-luka.
Kecelakaan bus RS Bina Sehat Jember lantas menyedot perhatian banyak orang. Sebab ada yang meragukan keterangan dari sang sopir.
“Saya tidak tahu ini bus tipe apa, kalau dia menggunakan (sistem) full air brake maka statement si supir menyebut anginnya habis saya ragu,” buka Jusri Pulubuhu, Founder Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) kepada KatadataOTO, Senin (15/09).
Jusri menjelaskan kalau bus mengandalkan sistem pengereman full air brake, maka ban akan mengunci ketika kehabisan angin.
Ia menilai kalau sang sopir kurang mengenal dengan benar bus yang dikendarai. Jadi memberikan keterangan seperti itu.
Lebih jauh Jusri mengungkapkan kalau rem blong pada bus bisa saja terjadi. Seperti karena konstruksi rem dalam kondisi sangat panas.
“Mungkin karena penggunaan yang berlebihan. Misal karena lingkungan atau medan jalan menurun dan trafik lalu lintas padat,” Jusri menambahkan.
Sang sopir diduga terlalu sering menggunakan rem kaki atau service brake. Padahal hal tersebut tidak dianjurkan.

Mengingat beban dibawa kendaraan tersebut sangat berat. Memaksa pengereman bekerja ekstra saat melewati jalan menurun.
Padahal sopir bisa memadukan dengan sistem auxiliary brake berupa exhaust brake. Memungkinkan kecepatan bus RS Bina Sehat Jember berhenti perlahan.
“Sehingga si sopir tidak selalu menggunakan rem kaki. Tetapi mengandalkan auxiliary brake (juga),” tegas Jusri.
Oleh sebab itu Jusri menduga sang sopir kurang kompeten dalam mengoperasikan bus tersebut. Sehingga tidak dapat meminimalisir risiko yang akan terjadi.