Tangis Pilu Suami Korban Kecelakaan Bus Cahaya Trans di Tol Krapyak: Kenapa Tidak Saya Saja yang Diambil?
Kecelakaan bus PO Cahaya Trans rute Jakarta–Yogyakarta terjadi di Simpang Susun exit Tol Krapyak, Kota Semarang, Jawa Tengah, pada Senin (22/12/2025) dini hari.
Insiden berlangsung sekitar pukul 00.45 WIB saat bus melintas di tikungan fly over Tol Krapyak.
Bus dilaporkan kehilangan kendali, menabrak pagar pembatas jalan tol, lalu terguling dalam kecelakaan tunggal.
Peristiwa ini menewaskan 16 penumpang, termasuk istri Purwoko (49), salah satu korban selamat asal Cangkringan, Sleman.
Tangis Korban Selamat Pecah di IGD RS Tugurejo
Suara tangis dan rintihan terdengar di lorong Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Tugurejo Semarang, Senin (22/12/2025).
Isak pilu bercampur kecemasan memenuhi ruang tunggu yang disekat tirai kain putih.
Di salah satu bilik IGD, Purwoko terbaring lemah dengan mata terpejam. Tubuhnya sesekali bergerak gelisah, sementara mulutnya terus mengigau di tengah trauma mendalam.
"Kenapa tidak saya saja yang diambil? Kenapa istri saya?" kata Purwoko.
"Saya ini orang jalanan, banyak membuat kesalahan, ya Allah," suara lirih itu terdengar berulang dari mulutnya.
Istri Meninggal, Purwoko Selamat
Purwoko merupakan warga Kebur Lor, Argomulyo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Ia menjadi salah satu korban selamat dalam kecelakaan maut bus PO Cahaya Trans di Simpang Susun Krapyak.
Meski selamat, tubuh Purwoko dipenuhi luka dan pikirannya masih diliputi trauma.
Dengan suara terengah, ia mencoba menceritakan perjalanan terakhir bersama sang istri.
Keduanya dalam Perjalanan Pulang Setelah Menjenguk Orangtua
Malam itu, Purwoko dan istrinya tengah dalam perjalanan pulang dari Bogor menuju Sleman. Keduanya baru saja menjenguk orangtua Purwoko yang sedang sakit.
"Saya itu pulang setelah menjenguk orangtua. Orang tua saya juga sakit, jantung dan stroke," tuturnya pelan.
Air mata kembali mengalir di pipinya saat mengingat perjalanan tersebut.
Detik-detik Bus Oleng dan Menghantam Pembatas
Purwoko mengingat, sebelum kecelakaan terjadi, ia sempat berbincang santai dengan istrinya di dalam bus. Tidak ada tanda-tanda bahaya atau firasat buruk sebelumnya.
"Saya lagi ngobrol sama istri, tiba-tiba bus oleng terus menghantam pembatas jalan," katanya.
Benturan keras membuat tubuhnya terlempar dan kehilangan orientasi.
Akibat benturan tersebut, Purwoko mengaku tubuhnya terpental hebat di dalam bus.
Ia bahkan tak menyadari arah jatuhnya saat kecelakaan terjadi.
"Saya sampai salto tiga kali, dan busnya terseret, mungkin sekitar 50 meter," ucapnya lirih.
Selain trauma psikologis, Purwoko juga merasakan nyeri hebat di bagian punggung.
"Ini punggung saya rasanya sakit sekali," katanya sambil meringis saat tim medis kembali memeriksa kondisinya.
Artikel ini telah tayang di TribunBanyumas.com dengan judul “Bus Cahya Trans Hantam Pembatas Tol Semarang di Krapyak Hingga Bikin Purwoko Salto, Istri Tewas”.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang