I.League Tidak Janjikan Kompetisi Usia Muda di Indonesia
I.League sebagai operator Liga Indonesia masih belum bisa memberikan kepastian mengenai adanya kompetisi untuk usia muda atau tim cadangan untuk klub-klub di tanah air.
Dua liga teratas di Indonesia, yaitu BRI Super League dan Pegadaian Championship, saat ini dijalankan dengan lebih profesional, salah satunya melalui penerapan VAR, bahkan di Liga Championship.
“Memang Liga punya visi, tetapi seperti yang saya sampaikan, kami berkomunikasi dengan PSSI yang memiliki roadmap lebih komprehensif daripada yang dibahas saat ini,” ujar President Director I.League Ferry Paulus setelah peluncuran Pegadaian Championship di Hotel Adimulia, Medan, pada Jumat (12/9/2025).
“Oleh karena itu, kita harus menunggu beberapa tahun ke depan untuk melihat kolaborasi yang mungkin terjadi, apakah Liga bisa menjalankan semua itu,” lanjutnya.
Ferry menjelaskan bahwa ada beberapa tantangan yang membuat sulitnya penyelenggaraan kompetisi di bawah dua liga utama Indonesia.
Antara lain, ia menyebut masalah infrastruktur, penggunaan LED dan VAR, serta keberadaan kompetisi Elite Pro Academy dan U19 yang masih bersifat turnamen lokal.
“Musim depan, PSSI telah menetapkan bahwa harus ada kompetisi U17, dan tahun berikutnya U15. Saya rasa ini sejalan dengan regulasi yang telah ditetapkan oleh PSSI dalam perkembangan sepak bola ke depan,” tambahnya.
“Tuntutan untuk menghadirkan kompetisi yang baik ke depan sangatlah berat,” tuturnya, merujuk pada tantangan yang harus dihadapi.
Kompetisi Sepak Bola Putri
Ferry juga memaparkan bahwa dalam waktu dekat, kompetisi untuk sepak bola putri akan segera diluncurkan.
“Kami sedang menganalisis potensi yang ada. Jika berbicara mengenai talenta, kami ingin mengetahui format seperti apa yang dapat menghadirkan pemain-pemain nasional, dan PSSI meminta agar klub-klub besar yang diberikan kesempatan terlebih dahulu,” ungkapnya.
Ferry menekankan bahwa operator liga tidak ingin sembarangan dalam menyelenggarakan kompetisi.
Sehingga, turnamen sepak bola putri harus memiliki keberlanjutan dan masa depan, bukan hanya sekadar memenuhi permintaan PSSI.
“Kami memerlukan fondasi yang kuat, tidak ingin sekadar hadir dan kemudian pergi. Jika klub seperti Persib Bandung terlibat, mereka pasti memiliki komitmen, tetapi jika klub tersebut tidak memiliki basis yang kuat, mereka bisa saja hengkang di tengah jalan, yang pastinya tidak menarik,” pungkasnya.
Di saat situasi tidak menentu, Kompas.com tetap berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update terkini dan notifikasi penting di Aplikasi Kompas.com.