Kisah Anak-anak Keturunan Indonesia di Perbatasan Filipina hingga Dapat Beasiswa

Anak keturunan Indonesia di perbatasan Filipina berhasil raih beasiswa
Anak keturunan Indonesia di perbatasan Filipina berhasil raih beasiswa

 Pemerintah Indonesia mendirikan Sekolah Indonesia Davao (SID) guna mewujudkan mimpi anak-anak Indonesia di perbatasan Filipina. Para pelajar itu disebut People with Indonesia Decent (PID), keturunan Indonesia yang bermukim di pulau-pulau terluar seperti Pulau Balut dan Saranggani.   Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Filipina, Nina Yulianti mengatakan selama puluhan tahun, anak-anak itu menghadapi berbagai kesulitan, termasuk status kewarganegaraan yang kurang jelas, serta membatasi akses terhadap pendidikan yang layak. 

Dengan adanya inisiatif pemerintah, kata Nina, anak-anak tersebut bisa mendapatkan pendidikan yang layak di Indonesia.

Hal tersebut diungkap Nina saat berkunjung ke Sekolah Tinggi Teologi (STT) Iman Jakarta, pada Minggu, 7 September 2025.

Ilustrasi buku dan pendidikan (dokumen pribadi)

Ilustrasi buku dan pendidikan (dokumen pribadi)

"Ini adalah pengalaman pertama bagi mereka menginjakkan kaki di Indonesia. Kami berharap ini akan mengobarkan semangat mereka untuk tidak hanya menimba ilmu, tetapi juga menjadi duta yang dapat membawa keluarga mereka kembali ke Indonesia dan mengabdi bagi bangsa dan negara," kata Nina dalam keterangannya, Rabu, 10 September 2025.

Dalam kunjungannya, Nina tak hanya menjalin kemitraan, tetapi juga bertemu langsung dengan dua alumni SID, Evalyn Mamonto Layang dan Brigete Macaya Kuhanta.

Keduanya, lanjut Nina, berhasil meraih beasiswa penuh di STT Iman dan menorehkan prestasi dalam sebuah perlombaan. 

"Kehadiran mereka di kampus ini menjadi bukti nyata bahwa bakat dan kerja keras dapat membuka jalan," kata Nina.

Di sisi lain, pihak SID juga akan melakukan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) bersama STT Iman Jakarta. Penandatanganan itu, kata Nina, menjadi landasan formal bagi serangkaian program kolaborasi yang akan datang. 

Sebagai langkah konkret, STT Iman berencana mengunjungi Davao pasca-penandatanganan MoU untuk melakukan kegiatan pengabdian masyarakat. 

"Fokus utama kegiatan ini akan berada di wilayah perbatasan, termasuk Pulau Balut dan Saranggani, tempat asal para siswa PID. Lebih dari itu, STT Iman berkomitmen untuk membuka peluang lebih besar dengan menyediakan lebih banyak beasiswa bagi alumni SID di tahun-tahun mendatang," katanya. 

Ia menegaskan langkah ini menjadi bukti nyata komitmen Indonesia untuk merangkul kembali para anak-anak yang tersebar di perbatasan. Kerja sama ini diharapkan menjadi jembatan yang kuat bagi anak-anak PID untuk meraih pendidikan tinggi dan membangun masa depan yang lebih baik, memberikan secercah harapan di tengah tantangan yang hadapi.

ilustrasi buku sebagai ornamen pendidikan

ilustrasi buku sebagai ornamen pendidikan

"Kisah Evalyn dan Brigete hanyalah permulaan dari banyak cerita sukses yang akan lahir dari inisiatif mulia ini," ujar Nina.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Ketua STT Iman Jakarta, Suyadi Thin menyampaikan apresiasinya terhadap pemerintah Indonesia dan menerima siswa SID sebagai calon mahasiswa.

"Kami sangat terkesan dengan mereka. Kemampuan berbahasa Inggris dan seni mereka luar biasa," ungkap Suyadi. 

Ia menambahkan bahwa potensi yang dimiliki anak-anak tersebut sejalan dengan visi STT Iman untuk mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga memiliki kepekaan terhadap sosial dan budaya, serta mampu berkomunikasi secara global.