Akademisi Pro Israel Peter Berkowitz Jadi Pemateri Akademi Kepemimpinan PBNU, Ini Penjelasan Gus Yahya
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf menyampaikan permintaan maaf terkait kehadiran Peter Berkowitz, akademisi asal Amerika Serikat yang dikenal pro-Israel, dalam acara Akademi Kepemimpinan Nasional PBNU pada 15 Agustus 2025 lalu.
Undangan terhadap Berkowitz memicu sorotan publik karena dianggap bertentangan dengan sikap PBNU yang selama ini konsisten mendukung perjuangan bangsa Palestina.
Dalam keterangannya, Gus Yahya mengakui adanya kekeliruan dalam proses seleksi pembicara. Ia menyebutkan bahwa undangan kepada Peter Berkowitz terjadi akibat kurang cermatnya PBNU dalam meneliti rekam jejak narasumber.
"Hal ini terjadi semata-mata karena kekurangcermatan saya dalam melakukan seleksi dan mengundang narasumber," ujar Gus Yahya, Kamis (28/8/2025).
Ia menegaskan, undangan itu bukanlah bentuk dukungan terhadap pandangan pro-Israel yang disuarakan Berkowitz.
Menurutnya, hal ini murni karena kelalaian dalam memverifikasi latar belakang sang akademisi.
Apa Sikap PBNU terhadap Palestina?
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya (tengah) di Kantor PBNU, Jakarta Pusat, Selasa (22/4/2025).
Meski menuai kritik, Gus Yahya menegaskan bahwa sikap PBNU tidak pernah bergeser dalam mendukung Palestina.
Ia menekankan bahwa PBNU tetap konsisten memperjuangkan kemerdekaan bangsa Palestina serta menentang tindakan Israel di Gaza.
"Sikap saya dan PBNU dalam masalah Palestina tidak pernah berubah dari dulu hingga sekarang. PBNU mendukung perjuangan bangsa Palestina untuk memiliki negara yang merdeka dan berdaulat," kata Gus Yahya.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa PBNU dengan tegas mengutuk tindakan genosida yang dilakukan pemerintah Israel.
"PBNU mengajak semua pihak dan aktor internasional untuk bekerja keras menghentikan genosida di Gaza dan mengusahakan terciptanya perdamaian," ujarnya.
Kontroversi kehadiran Peter Berkowitz dalam forum PBNU memicu kritik dari berbagai pihak, terutama mengingat rekam jejaknya yang pro-Israel.
Siapa Peter Berkowitz?
Peter Berkowitz adalah Peneliti Senior Tad dan Dianne Taube di Hoover Institution, Universitas Stanford. Ia pernah menjabat sebagai Direktur Staf Perencanaan Kebijakan Departemen Luar Negeri Amerika Serikat pada periode 2019-2021 di bawah pemerintahan Donald Trump.
Posisi itu membuatnya semakin dikenal sebagai figur akademik sekaligus politisi yang dekat dengan kebijakan pro-Israel.
Berkowitz lahir dari keluarga Yahudi dan menghabiskan masa kecilnya di Deerfield, Illinois. Ia menempuh pendidikan tinggi di Swarthmore College dengan gelar Bachelor of Arts bidang sastra Inggris pada tahun 1981.
Kemudian, ia memperoleh Master of Arts dalam filsafat dari Universitas Ibrani Yerusalem pada 1985, sebelum melanjutkan pendidikan doktoralnya di Universitas Yale dan meraih gelar Ph.D. dalam ilmu politik pada 1987. Tak berhenti di situ, ia juga menyelesaikan studi hukum di Yale Law School pada 1990.
Apa Pandangan Berkowitz tentang Israel dan Palestina?
Kontroversi terbesar seputar Berkowitz terletak pada pandangannya terhadap konflik Israel-Palestina.
Dalam sejumlah tulisannya yang dimuat di media seperti RealClearPolitics, ia kerap membela tindakan Israel dan menilai dukungan terhadap Palestina di kampus-kampus Amerika sebagai bentuk simpati terhadap kelompok radikal.
Beberapa judul tulisannya yang menuai kritik antara lain “Oxford Scholars Betray Their Vocation To Vilify Israel”, “Campus Backing of Hamas Condemns U.S. Higher Education”, dan “Confronting the Woke-Left and Jihad-Enthusiast Alliance”. Judul-judul ini menunjukkan sikap kerasnya terhadap pihak-pihak yang menyoroti agresi militer Israel.
Sebagian artikel ini telah tayang di dengan judul "Ketum PBNU Minta Maaf Undang Peter Berkowitz, Akademisi AS Pendukung Genosida Israel".
Terangi negeri dengan literasi, satu buku bisa membuka ribuan mimpi. Lewat ekspedisi Kata ke Nyata, Kompas.com ingin membawa ribuan buku ke pelosok Indonesia. Bantu anak-anak membaca lebih banyak, bermimpi lebih tinggi. Ayo donasi via Kitabisa!