Gus Yahya Bantah Dimakzulkan, Tegaskan Masih Sah Pimpin PBNU
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, menegaskan bahwa dirinya masih memegang mandat kepemimpinan PBNU secara penuh, baik secara hukum organisasi maupun praktik di lapangan. Penegasan tersebut ia sampaikan untuk merespons berbagai pernyataan yang mempertanyakan kedudukannya dalam beberapa hari terakhir.
Gus Yahya menjelaskan bahwa dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) NU, mekanisme penggantian Ketua Umum PBNU hanya dapat dilakukan melalui forum resmi, yaitu Muktamar atau Muktamar Luar Biasa. Dengan demikian, tidak ada mekanisme lain yang bisa digunakan untuk memberhentikan atau mengganti Ketua Umum di luar ketentuan tersebut.
“Secara de jure, berdasarkan AD/ART NU, saya tetap sebagai Ketua Umum PBNU dan tidak bisa diganti atau dimundurkan kecuali melalui forum Muktamar atau Muktamar Luar Biasa,” tegasnya dalam pernyataan di Jakarta, sebagaimana dikutip dari NU Online, Senin, 1 Desember 2025.
Selain menegaskan kedudukan de jure, Gus Yahya juga menyoroti posisi de facto dirinya sebagai pimpinan organisasi. Ia menyampaikan bahwa ia masih menjalankan tugas yang diamanatkan oleh Muktamar Ke-34 NU di Lampung untuk masa khidmah 2021–2026/2027.
Seluruh agenda program dan layanan organisasi PBNU juga tetap berjalan normal di bawah kepemimpinannya.
“Secara de facto saya tetap menjalankan tugas saya sebagai Mandataris Muktamar NU ke-34 di Lampung hingga tahun 2026/2027. Saya masih terus mengupayakan untuk menjalankan agenda dan khidmah PBNU demi kepentingan dan kemaslahatan jamaah dan jam’iyyah NU,” ujarnya.
Dalam pernyataan lanjutan, Gus Yahya menyoroti dinamika internal yang terjadi di tubuh PBNU beberapa hari terakhir. Ia menegaskan bahwa berbagai proses penyelesaian terus dilakukan secara terukur dengan merujuk pada arahan para masyayikh dan tetap mengedepankan prinsip islah sebagai jalan menjaga persatuan organisasi.
“Selain itu saya juga terus mengupayakan penanganan permasalahan dan turbulensi yang terjadi di tubuh organisasi PBNU saat ini, dengan bimbingan dan arahan para masyayikh, termasuk mengikhtiarkan islah demi persatuan jamaah dan jam’iyyah NU,” jelasnya.
Dengan pernyataan ini, Gus Yahya sekaligus ingin memastikan bahwa roda organisasi PBNU tetap berjalan serta bahwa proses perawatan dinamika internal dilakukan dengan pendekatan yang mengutamakan persatuan jamaah dan keberlanjutan khidmah.