Skill Digital Kini Jadi Hal yang Banyak Dipelajari Anak Muda
'Kerja apa sekarang? Pertanyaan itu mungkin jadi salah satu hal yang paling sering didengar anak muda saat ini. Namun di tengah cepatnya perkembangan teknologi dan dunia digital, cara generasi muda mencari pekerjaan ternyata mulai banyak berubah.
Jika dulu pekerjaan identik dengan kantor, seragam, dan jam kerja tetap, kini banyak anak muda justru mulai melirik peluang kerja digital yang lebih fleksibel dan kreatif. Tak sedikit dari mereka yang mulai belajar editing video, desain grafis, affiliate marketing, copywriting, hingga mengelola media sosial demi membuka peluang karier baru.
Bahkan, beberapa pekerjaan digital kini bisa dilakukan hanya dengan modal laptop, ponsel, dan koneksi internet. Fenomena ini pun membuat skill digital semakin banyak diminati, terutama oleh generasi muda yang ingin lebih siap menghadapi dunia kerja modern.
Perubahan ini bukan tanpa alasan. Persaingan kerja yang semakin ketat membuat banyak anak muda sadar bahwa ijazah saja kini belum cukup. Perusahaan mulai mencari kandidat yang punya kemampuan praktis dan mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
Di sisi lain, perkembangan media sosial dan ekonomi digital juga membuka banyak peluang pekerjaan baru yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan. Mulai dari content creator, admin media sosial, affiliate marketer, hingga freelance designer kini menjadi profesi yang makin populer di kalangan anak muda.
Menariknya lagi, sebagian pekerjaan tersebut bisa dilakukan secara fleksibel tanpa harus bekerja di kantor setiap hari.
Melihat tren tersebut, berbagai pihak kini mulai mendorong anak muda untuk meningkatkan keterampilan digital agar lebih siap menghadapi dunia kerja masa depan. Sebab di era sekarang, kemampuan menggunakan teknologi bukan lagi sekadar nilai tambah, melainkan sudah menjadi kebutuhan.
Berkaitan dengan itu, YCAB Foundation dengan dukungan dari Global Innovation Challenge 2025 dari Citi Foundation, secara resmi meluncurkan program Anak Muda untuk Dunia Kerja dan Wirausaha Digital yang Inklusif (ANDAL), sebuah inisiatif yang bertujuan memperkuat kesiapan kerja dan memperluas peluang ekonomi digital bagi generasi muda Indonesia, terutama perempuan. Selain itu, kolaborasi ini juga membuka kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk dapat berpartisipasi dalam program ini.
Program ANDAL dirancang untuk membangun kesiapan generasi muda melalui dua pilar utama, yaitu persiapan kerja dan kewirausahaan digital. Berbagai kegiatan akan dilaksanakan secara hybrid, mulai dari pelatihan vokasi berbasis kompetensi, pengembangan soft skills, literasi finansial, edukasi Prevention of Sexual Harassment, Exploitation and Abuse (PSHEA), hingga pelatihan afiliator dan integrasi peserta ke berbagai platform digital.
Wakil Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia, Afriansyah Noor, menegaskan pentingnya kesiapan kerja yang inklusif bagi generasi muda di tengah percepatan transformasi ekonomi digital yang menutut peningkatan keterampilan serta akses kesempatan kerja yang lebih setara dan berkelanjutan.
“Transformasi ekonomi digital harus diiringi dengan kesiapan sumber daya manuasia yang adaptif, kompeten, dan inklusif. Generasi muda perlu mendapatkan akses yang lebih luas terhadap pelatihan, pengembangan keterampilan, dan peluang kerja agar mampu bersaing serta berkembang di dunia kerja yang terus berubah. Pemerintah juga terus mendorong penguatan pelatihan vokasi dan kolaborasi lintas sector untuk menciptakan ekosistem ketenagakerjaan yang lebih inklusif dan bebas dari diskriminasi,” kata dia dalam keterangannya.
Ia juga menekankan bahwa penguatan ekosistem ketenagakerjaan membutuhkan sinergi antara pemerintah, dunia usaha, Lembaga Pendidikan dan pelatihan, organisasi masyarakat sipil, komunitas, serta berbagai pemangku kepentingan untuk memastikan generasi muda Indonesia memiliki kesempatan yang lebih inklusif dalam menghadapi masa depan dunia kerja.
Sementara itu, Contry Head of Public Affairs, Citi Indonesia, Hario Widyananto, menyampaikan dukungan terhadap inisiatif ini.
“Melalui dukungan ini kami ingin membantu membuka akses yang lebih luas bagi generasi muda untuk mengembangkan keterampilan, membangun kesiapan kerja, serta menangkap peluang ekonomi di tengah perkembangan dunia yang terus berubah. Inisiatif ini mencerminkan komitmen berkelanjutan kami untuk berkontribusi secara positif bagi komunitas di mana kami berada sekaligus mendorong kemajuan ekonomi di Indonesia,” ujar Hario.
Sejalan dengan semangat kolaborasi tersebut, YCAB Foundation menilai bahwa dukungan lintas sektor menjadi elemen penting dalam menciptakan ekosistem yang mampu mendukung kesiapan generasi muda menghadapi tantangan dunia kerja masa depan.

Chief Operating Officer YCAB Foundation, Linda Sukandar, menyebut melalui program ini pihaknya berupaya untuk membantu generasi muda membangun kesiapa kerja melalui pelatihan ketrampilan, penguatan soft skills, dan pendampingan yang relevan dengan kebutuhan industri saat ini.
”Bersama Citi Foundation, dukungan pemerintah, dan berbagai pihak, kami berharap program ini dapat membuka akses dan peluang yang lebih inklusif bagi generasi muda, termasuk perempuan dan penyandang disabilitas, agar mereka lebih siap berkembang di dunia kerja,” ujar Linda.