Ikut Aksi Tanam Mangrove, Anak Muda Semakin Sadar Bahaya Krisis Iklim

Tanam Pohon Bakrie Center Foundation
Tanam Pohon Bakrie Center Foundation

 Minggu pagi 10 Mei 2026, puluhan pemuda dari berbagai komunitas sudah bersiap mengikuti aksi tanam mangrove di Hutan Lindung Angke Kapuk, Jakarta Utara. Mereka berpartisipasi aktif dalam kegiatan Garden of Memory: From Moscow To Jakarta yang diselenggarakan oleh Russian House Jakarta, Generasi Energi Bersih Indonesia, dan Yayasan Indonesia Bebas Emisi. Kegiatan ini juga didukung oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Selain para pemuda yang mewakili berbagai komunitas, kegiatan ini juga turut dihadiri oleh mitra diplomatic dan perwakilan pemerintah.

Garden of Memory: From Moscow to Jakarta merupakan inisiatif hijau yang diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Kemenangan (Victory Day) yang merupakan hari besar bagi warga Rusia setiap tanggal 9 Mei.  Aksi tanam mangrove merupakan wujud nyata diplomasi Hijau antara Rusia dan Indonesia untuk mengajak seluruh elemen masyarakat dalam satu gerakan kolektif demi masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kegiatan ini sekaligus memperkuat komitmen Russian House Jakarta dan Generasi Energi Bersih Indonesia dalam mendorong kerja sama internasional untuk aksi iklim yang berkelanjutan, selaras dengan target Indonesia mencapai Net Zero Emissions pada tahun 2060 atau lebih cepat.

Antusiame Pemuda Ikut Aksi Tanam Mangrove

Kurang lebih 80 pemuda dari berbagai komunitas hadir dan terlihat sangat antusias ketika sudah memegang masing-masing 1 bibit mangrove. Bakrie Center Foundation terlibat sebagai community sekaligus media partner. Para alumni lintas program BCF, turut hadir sebagai perwakilan.

Jihan, salah satu alumni BCF dari Campus Leaders Program batch 8, cukup terkejut ketika menjejakkan kaki ke area penanaman mangrove. Apalagi ini pengalaman pertamanya ikut menanam mangrove. 

“Kirain hanya selutut, ternyata di sini kok bisa sampai seleher ya airnya?”, serunya. 

Ya, kawasan Angke mengalami penurunan tanah drastis dengan rata-rata 8-20 cm (penurunan) per tahun. Mengutip jurnal Strategi Pengelolaan Taman Wisata Alam Mangrove Angke Kapuk Jakarta Melalui Konsep Ekowisata (JIIP - Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan, 7(3), 2609-2615), hal ini disebabkan oleh berbagai faktor. Berdasarkan geografis, wilayah Angke memiliki tanah alluvial yang lembek (sedimen) yang secara alami mengalami pemadatan. Ditambah dengan penggunaan air tanah yang masif serta kepadatan kawasan yang mempercepat proses penurunan.

Tidak heran jika tinggi air di kawasan Angke lebih tinggi daripada daratan. Meski badan harus terendam hingga seleher (orang dewasa), para pemuda yang mengikuti aksi tanam mangrove ini tidak gentar. Hal ini menunjukkan semangat dan komitmen para pemuda dalam upaya memperbaiki ekosistem alam dari ancaman krisis iklim. 

“Seru banget kegiatannya, karena selain kita bisa kenalan sama teman-teman lintas komunitas, dengan melihat langsung ke alam seperti ini, kita jadi lebih aware soal perubahan iklim yang terjadi. Ancamannya semakin nyata, gambarannya bisa kita lihat di Angke ini,” ungkap Jihan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Keterlibatan pemuda dalam aksi tanam mangrove untuk mencegah abrasi dan memulihkan ekosistem, diapresiasi oleh Kepala Bidang Kewaspadaan Bakesbangpol DKI Jakarta, Handoko Tri. 

“Pada dasarnya, kegiatan ini merupakan upaya bersama untuk menjaga Jakarta agar tetap menjadi kota yang aman, nyaman, hijau, dan layak dihuni, sekaligus memperkuat posisinya sebagai kota global yang berbudaya dan berkelanjutan. Terima kasih untuk para pemuda yang telah hadir dan menunjukkan semangat untuk menciptakan lingkungan yang lebih berkelanjutan,” jelas Handoko.