Bunga Kredit Jadi Ancaman Baru bagi Penjualan Mobil 2026
Industri otomotif nasional menghadapi tantangan baru setelah Bank Indonesia memutuskan menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate menjadi 5,50 persen. Kebijakan tersebut dinilai berpotensi menahan laju penjualan kendaraan, terutama karena sebagian besar pembelian mobil di Indonesia masih mengandalkan fasilitas kredit.
Kenaikan suku bunga acuan memang tidak langsung berdampak pada penjualan dalam waktu singkat. Namun, efeknya diperkirakan akan mulai terasa ketika konsumen mulai menghitung ulang kemampuan finansial mereka sebelum membeli kendaraan baru.
Chief Economist PT Bank Permata Tbk, Josua Pardede, menjelaskan bahwa pasar otomotif Indonesia sangat bergantung pada pembiayaan. Karena itu, perubahan suku bunga akan memengaruhi biaya kredit yang pada akhirnya berdampak pada keputusan konsumen.
“Ketika bunga pembiayaan cenderung tinggi, masyarakat biasanya menjadi lebih selektif. Mereka akan mempertimbangkan lebih banyak aspek sebelum memutuskan membeli kendaraan,” ujarnya saat dihubungi VIVA Otomotif, Rabu 10 Juni 2026.
Menurut Josua, kendaraan termasuk barang konsumsi yang pembeliannya dapat ditunda. Berbeda dengan kebutuhan pokok, konsumen masih memiliki pilihan untuk menunggu hingga kondisi ekonomi dianggap lebih stabil.
Ia menilai dampak kenaikan suku bunga bukan hanya terkait besarnya cicilan bulanan. Faktor psikologis juga memiliki peran penting karena masyarakat akan cenderung lebih berhati-hati dalam mengelola pengeluaran.
“Rumah tangga biasanya akan memprioritaskan kebutuhan yang dianggap paling penting. Dalam situasi seperti ini, pembelian kendaraan bisa saja ditunda hingga mereka merasa lebih yakin terhadap kondisi keuangan ke depan,” tuturnya.
Di sisi lain, pelemahan nilai tukar rupiah juga menjadi tantangan tambahan bagi industri otomotif. Pasalnya, sejumlah komponen dan bahan baku kendaraan masih bergantung pada impor.
Kondisi tersebut membuat industri berada dalam posisi yang tidak mudah. Di satu sisi biaya produksi berpotensi meningkat, sementara di sisi lain permintaan konsumen berisiko melambat akibat biaya kredit yang lebih mahal.
Karena itu, Josua menilai diperlukan dukungan kebijakan yang mampu menjaga keseimbangan antara stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat agar pasar otomotif tetap bergerak positif sepanjang 2026.