Motor Biasa Pertamax Turun Pakai Pertalite, Efek Langsung Terasa

Pertamax, Pertalite, motor, Motor Biasa Pertamax Turun Pakai Pertalite, Efek Langsung Terasa

Kenaikan harga Pertamax berpotensi membuat sebagian pengguna motor mempertimbangkan beralih ke BBM dengan nilai oktan (RON) yang lebih rendah, seperti Pertalite.

Pertamax yang sebelumnya dibanderol Rp 12.300 per liter naik jadi Rp 16.250. Kalau dihitung, kenaikannya mencapai 30 persenan.

Sayangnya kalau beralih dari Pertamax langsung ke Pertalite, bisa menyebabkan dampak yang langsung terasa saat berkendara.

Pertamax, Pertalite, motor, Motor Biasa Pertamax Turun Pakai Pertalite, Efek Langsung Terasa

Antrean kendaraan yang sedang isi BBM Pertalite di SPBU Pajajaran 34.16102

2W Service Head PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) Victor Assani mengatakan, penggunaan BBM dengan RON di bawah rekomendasi pabrikan dapat memengaruhi performa kendaraan dalam waktu relatif singkat.

“Kendaraan akan terasa tenaganya tidak pada performa terbaiknya seperti pada akselerasi dan power, atau bahkan kita merasakan getaran yang tidak sewajarnya di setang sepeda motor,” ujar Victor kepada Kompas.com, Rabu (10/6/2026).

Sensor Mesin Menyesuaikan Pengapian

Menurut Victor, kendaraan modern sudah dilengkapi sensor yang mampu mendeteksi kualitas bahan bakar yang digunakan. Ketika nilai RON tidak sesuai kebutuhan mesin, sistem akan menyesuaikan waktu pengapian untuk mengurangi risiko kerusakan.

Akibat penyesuaian tersebut, performa mesin tidak lagi optimal. Selain tenaga berkurang, konsumsi bahan bakar juga bisa menjadi lebih boros dibanding saat menggunakan BBM sesuai spesifikasi.

Mesin Bisa Mengelitik

Efek lain yang juga dapat muncul adalah knocking atau suara mengelitik dari mesin. Kondisi ini terjadi ketika bahan bakar terbakar sebelum waktu yang seharusnya akibat tekanan kompresi di dalam ruang bakar.

“Memang ada referensi yang mengatakan knocking dulu dan kemudian performa terasa, tapi ini relatif. Yang jelas paling tidak kedua hal tersebut adalah point-point yang langsung terasa dan ditemui,” ujar Victor.

Ia menambahkan, gejala tersebut umumnya lebih mudah dikenali oleh pengguna yang sebelumnya terbiasa memakai BBM sesuai rekomendasi pabrikan. Jika penggunaan BBM beroktan lebih rendah dilakukan terus-menerus, risiko kerusakan komponen mesin juga akan semakin besar.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang