Mengapa Obrolan dengan Orangtua Kerap Memancing Emosi?
Bagi sebagian orang dewasa, percakapan sederhana dengan orangtua bisa tiba-tiba terasa begitu menguras emosi. Pertanyaan yang terdengar biasa saja dapat memancing kekesalan, memicu rasa bersalah, atau bahkan membuat pertahanan diri runtuh dalam sekejap.
Tak jarang, seseorang merasa kembali menjadi anak kecil ketika berhadapan dengan orangtuanya, meski telah hidup mandiri dan mampu mengambil keputusan sendiri. Mengapa hal ini bisa terjadi?
Melansir Real Simple, Rabu (10/6/2026), reaksi emosional tersebut ternyata berkaitan dengan cara sistem saraf merespons hubungan yang telah terjalin sejak masa kanak-kanak. Ikatan yang sangat dekat dengan orangtua membuat percakapan sehari-hari pun dapat memunculkan berbagai perasaan yang kompleks.
Alasan obrolan dengan orangtua kerap memancing emosi
Perubahan peran dan kebutuhan batasan privasi
Hubungan antara orangtua dan anak menyimpan sejarah panjang yang sarat dengan pengalaman emosional, harapan keluarga, serta berbagai konflik atau ketegangan yang mungkin belum sepenuhnya terselesaikan.
Karena itu, interaksi yang tampak sederhana sering kali membawa muatan emosi yang lebih besar dibandingkan hubungan lainnya.
"Salah satu perubahan terbesar yang terjadi saat kita menua adalah bahwa kita tidak lagi membutuhkan orangtua kita dengan cara yang sama seperti saat kita masih anak-anak, dan itu bisa menjadi sulit bagi kedua belah pihak," ujar pekerja sosial klinis berlisensi, Jocelyn Chamra-Barrera, LCSW.
Frekuensi komunikasi yang semakin berkurang seiring kemandirian anak bisa membuat pertanyaan biasa terasa sangat emosional.
Alasan lainnya adalah semakin besar, seseorang membutuhkan privasi dan batasan personal.
Mereka mungkin hanya ingin membagikan sebagian aspek kehidupannya kepada orangtua. Ketika batasan tersebut terasa dilanggar, percakapan pun dapat memicu ketegangan atau respons emosional yang kuat.
Ilustrasi ibu mertua dan menantu.
Tubuh secara otomatis mengingat pola masa lalu
Berbagai pola komunikasi dari masa kecil ternyata terus membentuk cara interaksi kita. Pengalaman pernah dikritik, pengabaian emosional, dan harapan tinggi, menciptakan pola yang dibawa oleh kedua pihak ke dalam hubungan orangtua dan anak.
"Orangtua mungkin tak bisa lepas dari cara yang selalu mereka biasakan, bahkan yakin begitulah cara mereka menunjukkan kepedulian dan cinta," tutur terapis pernikahan dan keluarga berlisensi, Saba Harouni Lurie, LMFT.
Sikap yang diniatkan sebagai bentuk kepedulian tersebut sering kali ditangkap anak sebagai tuntutan yang membebani.
Interaksi ini secara otomatis membuat otot tubuh menegang, memicu keinginan untuk membela diri, atau bahkan membuatmu memilih menghindar.
Lurie menuturkan, sistem saraf manusia pandai dalam mendeteksi apa yang terasa familier. Sekalipun anak sudah tumbuh dewasa dan mandiri, kembali ke tengah dinamika keluarga akan langsung mengaktifkan pola respons masa kecil tersebut demi merasa aman.
Tanda kamu merespons layaknya "anak kecil"
Tanda paling kentara dari munculnya pola lama ini adalah saat kita merasa kehilangan jati diri ketika berdekatan dengan orangtua.
Kita mungkin jadi lebih mudah marah, tertutup, atau justru mencari persetujuan mereka secara berlebihan tanpa disadari.
"Banyak orang dewasa tidak menyadari bahwa mereka sama sekali tidak bereaksi dari diri mereka yang dewasa, namun versi mudanya," kata terapis hubungan dan trauma, Nina Batista
Pada saat masih muda kita masih belajar bahwa cinta, persetujuan, keamanan, atau stabilitas emosional dapat menghilang berdasarkan suasana hati, kritik, pencapaian, atau konflik.
Cara sederhana membangun interaksi yang lebih hangat
Para ahli menyebutkan beberapa hal yang perlu diingat agar obrolan dengan orangtua bisa terasa lebih hangat dan bermakna.
Salah satunya adalah mengambil jeda untuk menelaah pertanyaan atau komentar yang dikatakan, apakah itu sesuatu yang diniatkan untuk menyinggung atau tidak.
"Ini bisa berbentuk strategi pengaturan sistem saraf yang sederhana, seperti menarik napas sebelum merespons, menyadari kapan tubuh mulai bereaksi, atau bahkan mengizinkan diri untuk menjauh sebentar saat obrolan mulai terasa membebani," saran Lurie.
"Saat anak yang sudah dewasa mampu menciptakan sedikit saja jarak antara pemicu dan responsnya, hal itu membuka peluang bagi mereka untuk berinteraksi sebagai diri mereka yang sekarang, bukan diri mereka di masa lalu," pungkas dia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang