Elon Musk Bikin Geger! Ramal 20 Tahun Lagi Manusia Tak Perlu Kerja dan Uang Kehilangan Nilainya
Perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan robotika terus memunculkan perdebatan besar tentang masa depan manusia. Di satu sisi, teknologi menjanjikan efisiensi, produktivitas, dan kemudahan hidup yang belum pernah ada sebelumnya.
Di sisi lain, muncul kekhawatiran tentang hilangnya pekerjaan, ketimpangan ekonomi, hingga krisis makna hidup ketika mesin mampu melakukan hampir semua hal lebih baik dari manusia.
Belum lama ini, Elon Musk menguak prediksinya tentang dunia kerja dan masa depan manusia, seiring perkembangan AI dan robot. CEO Tesla dan SpaceX tersebut menyebut bahwa dalam satu atau dua dekade ke depan, manusia mungkin tidak lagi harus bekerja untuk bertahan hidup.
Ia yakin bahwa AI dan robot akan mengubah fondasi ekonomi dunia. “Prediksi saya adalah bahwa kerja akan bersifat opsional. Ini akan seperti bermain olahraga atau gim video atau semacam itu,” kata Musk di U.S.-Saudi Investment Forum di Washington, D.C., sebagaimana dikutip dari Fortune, Rabu, 21 Januari 2026.
Menurut Musk, kondisi ini terjadi karena jutaan robot akan masuk ke dunia kerja dan mendorong lonjakan produktivitas. Musk, yang kekayaannya diperkirakan sekitar US$681 miliar atau setara Rp11.508,9 triliun, tengah mengarahkan Tesla agar tidak hanya bergantung pada mobil listrik. Ia bahkan menargetkan sekitar 80 persen nilai Tesla berasal dari robot humanoid Optimus, meskipun proyek tersebut masih menghadapi berbagai kendala produksi.
Dalam podcast Moonshots with Peter Diamandis awal Januari 2026, Musk juga membahas dampak AI dan robot di bidang kesehatan. Ia memprediksi robot akan melampaui jumlah dokter bedah manusia dalam satu dekade, dengan kualitas layanan yang bahkan melebihi standar perawatan presiden.
Ilustrasi robot.
Musk juga menilai bahwa di masa depan, uang akan kehilangan relevansinya. Terinspirasi dari seri novel fiksi ilmiah Culture karya Iain M. Banks, ia membayangkan dunia pasca-kelangkaan.
“Dalam buku-buku itu, uang tidak ada. Itu cukup menarik,” kata Musk. “Dan tebakan saya adalah, jika Anda melihat cukup jauh ke depan, dengan asumsi ada peningkatan berkelanjutan dalam AI dan robotika, yang tampaknya mungkin, uang akan berhenti menjadi relevan,” paparnya.
Namun, banyak ekonom menilai visi ini sulit diwujudkan dalam waktu dekat. Ioana Marinescu, ekonom dan profesor kebijakan publik di University of Pennsylvania, menyoroti mahalnya biaya robotika.
“Kita telah lama membuat mesin sejak revolusi industri, dalam skala besar,” ujar Marinescu. “Kita tahu dari ekonomi bahwa untuk aktivitas semacam ini, sering kali kita menghadapi hasil yang menurun, karena semakin sulit membuat kemajuan dalam lini teknologi yang telah digarap selama berabad-abad.”
Laporan Yale Budget Lab Oktober 2025 juga menyebut bahwa sejak peluncuran publik ChatGPT pada November 2022, pasar tenaga kerja yang lebih luas belum mengalami gangguan signifikan akibat otomatisasi AI. Selain aspek teknis, ada pula tantangan sosial dan politik.
Samuel Solomon dari Temple University menekankan pentingnya struktur politik untuk mendukung masyarakat tanpa kerja wajib. “AI telah menciptakan begitu banyak kekayaan dan akan terus melakukannya,” katanya. “Namun pertanyaan kuncinya adalah, apakah ini akan inklusif?”
Anton Korinek dari University of Virginia juga menyoroti sisi eksistensial. “Jika nilai ekonomi tenaga kerja menurun sehingga tenaga kerja tidak lagi sangat berguna, kita harus memikirkan ulang bagaimana masyarakat kita terstruktur,” ujarnya.
Musk sendiri mengakui tantangan makna hidup ini. “Jika komputer dan robot bisa melakukan segalanya lebih baik dari Anda, apakah hidup Anda punya makna?” katanya. “Saya pikir mungkin masih ada peran bagi manusia, yaitu kita memberi makna pada AI."