Jelang Bayern Muenchen Vs PSG, Luis Enrique Jadikan Rafael Nadal sebagai Motivasi
Pelatih Paris Saint-Germain (PSG), Luis Enrique, menyebut menilai keunggulan agregat satu gol tidak berarti menjelang leg kedua semifinal Liga Champions melawan Bayern Muenchen.
Duel sengit Bayern Muenchen vs PSG akan tersaji dalam leg kedua semifinal Liga Champions 2025-2026 di Stadion Allianz Arena, Kamis (7/5/2026) dini hari WIB.
Hasil pertandingan Bayern Muenchen vs PSG ini akan menentukan siapa yang berhak menantang Arsenal di partai puncak UEFA Champions League musim ini.
Meski mengantongi modal kemenangan 5-4 dari leg pertama yang tercatat sebagai semifinal dengan gol terbanyak sepanjang sejarah, Luis Enrique menegaskan bahwa timnya tidak akan bermain pasif hanya untuk mempertahankan kedudukan.
Pelatih asal Spanyol tersebut menyadari sepenuhnya kekuatan Die Roten saat bermain di hadapan publik sendiri.
Ia memastikan Les Parisiens akan tetap mengusung identitas menyerang dan tidak berniat memarkir bus.
“Kami tahu Bayern bisa membalikkan keadaan dan kami juga bisa mencetak gol,” ujar Enrique dikutip dai Antara, pada Rabu (6/5/2026).
"Kami jelas tidak datang ke sini untuk bertahan, kami ingin memenangkan pertandingan."
Menurutnya, mentalitas pemenang adalah kunci utama dalam menghadapi laga hidup-mati seperti ini.
“Mentalitas kami adalah memenangkan setiap pertandingan, bukan bermain untuk hasil tertentu,” tegasnya.
Enrique pun mengakui bahwa Bayern merupakan lawan terkuat yang dihadapi timnya sepanjang musim ini.
Filosofi Rafael Nadal dan Motivasi Tinggi
Menghadapi tekanan tinggi di Allianz Arena, Luis Enrique menggunakan analogi dari dunia tenis untuk memotivasi skuadnya.
Penyerang Paris Saint-Germain, Khvicha Kvaratskhelia, merayakan gol pada laga leg pertama semifinal Liga Champions antara Paris Saint-Germain (PSG) dan Bayern Muenchen di Parc des Princes di Paris pada 28 April 2026.
Ia ingin anak asuhnya melihat tantangan besar sebagai pemicu untuk meningkatkan level permainan mereka.
"Kami akan bermain dengan tujuan untuk menjadi lebih kompetitif dari sebelumnya," kata Enrique.
"Rafael Nadal pernah mengatakan bahwa pada titik tertentu dalam kariernya, pertandingan melawan Roger Federer dan Novak Djokovic menjadi motivasi baginya. Itulah yang kami inginkan."
Ia juga menambahkan rasa kagumnya terhadap kualitas permainan lawan.
"Kami mengagumi Bayern, tetapi kekaguman itu mendorong kami untuk menjadi lebih baik. Kami akan berusaha untuk mengalahkan tim yang memainkan sepak bola sensasional," lanjutnya.
Vincent Kompany Siapkan Respons Balasan
Di sisi lain, pelatih tuan rumah Vincent Kompany tidak ingin membuang kesempatan untuk membalikkan keadaan.
Ia menyoroti agresivitas lawan dan meminta pemainnya untuk bekerja lebih keras dalam mencari celah di pertahanan lawan.
"Kami ingin mengakhiri pertandingan dengan cara apa pun yang kami bisa," jelas Kompany dikutip dari TNT Sports.
"Kami berhasil melakukannya melawan PSG beberapa kali di masa lalu dan leg pertama adalah contoh di mana setiap ruang kecil dimanfaatkan secara maksimal oleh kedua tim."
Kompany menyadari bahwa intensitas pressing dari lini depan lawan akan menjadi tantangan utama.
ciri kedua tim ini serupa. Jika lini depan PSG tidak melakukan pressing setinggi dan sekeras itu, kami tidak akan kehilangan bola."
"Mereka sangat intens, sehingga memaksa Anda untuk bekerja keras hanya untuk menciptakan sudut atau sedikit ruang untuk mengalirkan bola ke area yang tepat," pungkasnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang