Daftar Mata Uang Terlemah di Dunia 2026, Ada Rupiah yang Nyaris Sentuh Rp17.800 per Dolar AS
Ketika mata uang suatu negara melemah terhadap dolar Amerika Serikat, dampaknya bisa terasa luas. Mulai dari harga impor yang melonjak hingga tekanan inflasi di dalam negeri.
Pada 2026, sejumlah mata uang dunia kembali mengalami tekanan hebat terhadap dolar AS. Faktor seperti inflasi tinggi, konflik geopolitik, utang luar negeri, perlambatan ekonomi, hingga kebijakan suku bunga Amerika Serikat, menjadi penyebab utama pelemahan berbagai mata uang tersebut.
Indonesia juga masuk dalam daftar mata uang dengan nilai tukar terlemah terhadap dolar AS. Bahkan saat ini, Rabu, 20 Mei 2026, nilai tukar rupiah dilaporkan sudah menyentuh Rp17.743 per dolar AS.
Kondisi ini memicu perhatian publik karena pelemahan rupiah dapat berdampak pada harga barang impor, biaya perjalanan luar negeri, hingga sektor investasi.
Selain rupiah, ada beberapa mata uang dari negara-negara lain. Berikut daftar 10 mata uang terlemah di dunia pada 2026, sebagaimana dirangkum dari Forbes, Rabu, 20 Mei 2026.
1. Rial Iran, IRR
Rial Iran menjadi mata uang paling lemah di dunia pada 2026. Nilainya hanya sekitar US$0,000001 per 1 rial. Artinya, 1 dolar AS setara dengan lebih dari 1,3 juta rial Iran.
Pelemahan ini dipicu sanksi ekonomi internasional, inflasi tinggi, serta konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah yang terus menekan ekonomi Iran.
2. Pound Lebanon, LBP
Pound Lebanon berada di posisi kedua mata uang terlemah dunia. Nilainya berada di kisaran US$0,000011 per pound Lebanon.
Krisis perbankan, pengangguran tinggi, inflasi berkepanjangan, dan ketidakstabilan politik menjadi penyebab utama melemahnya mata uang Lebanon dalam beberapa tahun terakhir.
3. Dong Vietnam, VND
Dong Vietnam menempati posisi ketiga mata uang terlemah di dunia tahun ini. Satu dolar AS setara dengan sekitar 26 ribu dong Vietnam.
Meski ekonomi Vietnam terus berkembang, perlambatan ekspor dan tingginya suku bunga global membuat mata uang negara tersebut tetap tertekan terhadap dolar AS.
4. Kip Laos, LAK
Kip Laos juga masuk dalam daftar mata uang dengan nilai tukar terendah. Pelemahan mata uang ini dipengaruhi tingginya utang luar negeri, perlambatan ekonomi, dan inflasi yang terus meningkat.
Laos sendiri sangat bergantung pada ekspor komoditas seperti emas, kayu, dan tembaga.
5. Rupiah Indonesia, IDR
Rupiah Indonesia masuk lima besar mata uang terlemah di dunia versi 2026. Sebelumnya, 1 dolar AS setara dengan sekitar Rp17.420.
Namun tekanan terhadap rupiah masih berlanjut. Pada Rabu, 20 Mei 2026, nilai tukar rupiah bahkan telah menyentuh Rp17.743 per dolar AS. Pelemahan rupiah dipicu berbagai faktor, mulai dari penguatan dolar AS, kekhawatiran resesi global, keluarnya arus modal asing, hingga ketidakpastian geopolitik internasional.
6. Som Uzbekistan, UZS
Som Uzbekistan berada di posisi berikutnya. Negara bekas Uni Soviet tersebut masih menghadapi tantangan ekonomi berupa inflasi tinggi, pengangguran, dan masalah korupsi. Saat ini, 1 dolar AS setara dengan hampir 12 ribu som Uzbekistan.
7. Franc Guinea, GNF
Franc Guinea menjadi salah satu mata uang terlemah akibat inflasi tinggi dan kondisi politik yang belum stabil. Padahal Guinea memiliki sumber daya alam melimpah seperti emas dan berlian. Namun tekanan ekonomi domestik membuat nilai mata uangnya terus melemah.
8. Franc Burundi, BIF
Franc Burundi juga masuk daftar mata uang paling lemah dunia pada 2026. Burundi merupakan negara di Afrika Timur yang ekonominya masih bergantung pada ekspor kopi dan teh. Nilai tukarnya kini berada di kisaran hampir 3 ribu franc Burundi untuk 1 dolar AS.
9. Ariary Madagaskar, MGA
Ariary Madagaskar menjadi salah satu mata uang dengan nilai tukar rendah terhadap dolar AS. Ekonomi negara tersebut masih ditopang sektor pertanian, perikanan, hingga pertambangan. Produk ekspor utama Madagaskar antara lain vanila, cengkih, dan logam nikel.
10. Guarani Paraguay, PYG
Guarani Paraguay menutup daftar 10 mata uang terlemah di dunia tahun 2026. Tekanan inflasi, korupsi, serta peredaran uang palsu disebut menjadi faktor yang melemahkan nilai tukar mata uang Paraguay terhadap dolar AS.
Secara umum, lemahnya mata uang suatu negara tidak selalu berarti ekonominya buruk. Namun jika pelemahan berlangsung terus menerus, kondisi tersebut dapat meningkatkan harga barang impor, menekan daya beli masyarakat, dan memperbesar risiko ekonomi dalam jangka panjang.