Fakta-fakta Iran Tuduh Agen Mossad Israel dan CIA Amerika Menyamar Jadi Demonstran, 2.500 Orang Tewas

Aksi demonstrasi warga Iran
Aksi demonstrasi warga Iran

Republik Islam Iran kini benar-benar berada di ambang api unggun geopolitik. Di tengah gelombang demonstrasi yang kian beringas, Presiden Masoud Pezeshkian melontarkan tuduhan yang menyebut Agen intelijen Mossad (Israel) dan CIA (Amerika Serikat) dituding telah menyusup ke tengah massa dan menyamar sebagai demonstran untuk menggulingkan rezim.

Hingga Rabu, 14 Januari 2026, situasi dilaporkan sudah tidak terkendali. Data dari Human Rights Activists News Agency (HRA) menunjukkan angka kematian yang mengerikan, yakni menembus 2.571 orang hanya dalam waktu singkat.

1. Pezeshkian: Ada Teroris yang Dilatih di Luar Negeri

Dalam pernyataan resminya melalui saluran negara IRIB, Pezeshkian mengalihkan fokus dari krisis ekonomi internal ke ancaman spionase asing. Ia mengeklaim bahwa kerusuhan ini bukan sekadar protes warga biasa, melainkan operasi terencana yang dilakukan oleh "orang-orang yang sama" yang menyerang Iran pada konflik Juni lalu.

"Mereka telah melatih sejumlah orang baik di dalam maupun di luar negeri. Mereka membawa masuk teroris dari luar," tegas Pezeshkian dalam keterangannya.

Ia menuding para penyusup inilah yang bertanggung jawab atas aksi pembakaran masjid dan serangan brutal di pasar-pasar tradisional di Rasht.

2. Pengakuan dari Pihak Luar

Tuduhan Iran seolah mendapat konfirmasi dari pernyataan-pernyataan provokatif pejabat Barat. Mantan Direktur CIA, Mike Pompeo, sempat mengirimkan pesan yang menghebohkan publik internasional melalui media sosialnya.

"Selamat Tahun Baru untuk setiap warga Iran di jalanan. Juga untuk setiap agen Mossad yang berjalan di samping mereka," tulis Pompeo dalam unggahannya.

Tak hanya itu, Menteri Warisan Budaya Israel, Amichai Eliyahu, juga sempat mengakui secara implisit bahwa aset-aset intelijen mereka memang sudah tertanam di tanah Iran. Ia menyebut bahwa Israel "tahu bagaimana cara meletakkan dasar untuk serangan" langsung dari dalam wilayah Iran.

3. Kekacauan di Lapangan: Internet Mati, Starlink Beraksi

Kondisi di Teheran dan kota-kota besar lainnya digambarkan mirip dengan suasana Revolusi 1979. Berikut adalah fakta-fakta mencekam di lapangan:

  • Pembantaian 2 Pekan: Jumlah korban tewas kali ini empat kali lipat lebih banyak dibandingkan protes Mahsa Amini tahun 2022.
  • Sweeping Internet: Aparat keamanan mulai merazia apartemen untuk mencari antena satelit Starlink.
  • Perang Urat Syaraf: Donald Trump melalui Truth Social memerintahkan demonstran untuk "menguasai institusi negara" dan menjanjikan bantuan segera datang.

Menanggapi hal itu, Ali Larijani dari Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran membalas dengan keras. Ia secara resmi melabeli Donald Trump dan PM Israel Benjamin Netanyahu sebagai "pembunuh utama" rakyat Iran.

Hingga saat ini, lebih dari 18.100 orang telah dijebloskan ke penjara. Dengan layanan kamar jenazah yang kini digratiskan oleh pemerintah,.