Cloudflare Catat Serangan DDoS Terbanyak Sepanjang Sejarah

DDoS, Cloudflare, botnet, serangan siber, DDos, Cloudflare Catat Serangan DDoS Terbanyak Sepanjang Sejarah
  • Kuartal III-2025 catat serangan DDoS terbesar sepanjang sejarah, dengan 8,3 juta serangan diblokir Cloudflare.
  • Diserang botnet Aisuru dengan kekuatan ekstrem hingga 29,7 Tbps dan 14,1 Bpps, menyasar 15.000 port per detik hingga mengancam stabilitas internet global.
  • Indonesia jadi sumber serangan DDoS terbesar di dunia, diikuti Thailand, Bangladesh, dan Vietnam, sementara China jadi target utama, disusul Turki dan Jerman.

- Serangan Distributed Denial of Service (DDoS) yang terjadi pada kuartal III-2025 tercatat sebagai serangan DDoS terbesar yang pernah terjadi, khususnya dalam hal trafik serangannya.

DDoS merupakan serangan siber yang bertujuan membuat sebuah layanan atau server tidak bisa diakses, dengan cara membanjirinya menggunakan jumlah trafik atau permintaan (request) yang sangat besar dari banyak komputer sekaligus.

Menurut laporan perusahaan penyedia infrastruktur internet Cloudflare tentang serangan DDoS global pada triwulan ketiga (Juli-September) 2025, ada sekitar 8,3 juta serangan DDoS yang terdeteksi oleh sistemnya. Serangan tersebut juga telah diblokir oleh sistem pertahanan Cloudflare.

Jumlah serangan yang terdeteksi itu meningkat 15 persen dari kuartal sebelumnya dan 40 persen dibanding kuartal III-2024 (year-on-year/YoY).

Serangan DDoS periode itu didominasi oleh botnet bernama Aisuru yang menginfeksi 1-4 juta host di seluruh dunia. Host di sini mencakup berbagai perangkat atau sistem yang terhubung ke internet, seperti komputer, server, router dll.

Botnet Aisuru menginfeksi perangkat dengan serangan ekstrem karena kekuatannya melebihi satu terabit per detik (Tbps) dan lebih dari satu miliar paket per detik (Bpps), sehingga mampu meruntuhkan berbagai layanan dan mengganggu stabilitas internet.

Bahkan, serangan puncak Aisuru mencapai trafik 29,7 Tbps dan 14,1 Bpps, sehingga Cloudflare menggambarkan serangan ini sebagai "UDP carpet-bombing attack" karena membombardir 15.000 port tujuan per detik.

Serangan ini mengacak berbagai atribut paket data agar bisa mengakali sistem pertahanan. 

Jumlah serangan itu tercatat sebagai rekor, karena serangan Aisuru tertinggi yang tercatat Cloudflare sebelumnya mencapai 22,2 Tbps.

Indonesia sumber serangan DDoS terbesar

Menurut laporan Cloudflare, Indonesia menjadi sumber utama serangan DDos pada kuartal III-2025. Peringkatnya bertahan di posisi teratas, khususnya sejak kuartal III-2024.

Dalam lima tahun terakhir (sejak kuartal III-2021), persentase permintaan serangan DDoS berbasis HTTP yang berasal dari Indonesia (jumlah request HTTP berbahaya yang dikirim untuk membanjiri dan melumpuhkan server), meningkat hingga 31.900 persen.

Selain Indonesia, enam negara lainnya yang juga menjadi sebagai sumber serangan DDoS terbesar triwulan III-2025 mencakup negara-negara di Asia, termasuk Thailand, Vietnam, Singapura, Bangladesh, hingga India.

Rincian 10 negara sumber serangan DDoS terbesar di dunia kuartal III-2025 menurut Cloudflare, sebagai berikut:

  1. Indonesia
  2. Thailand
  3. Bangladesh 
  4. Ekuador
  5. Rusia
  6. Vietnam
  7. India
  8. Hong Kong
  9. Singapura
  10. Ukraina

Adapun target serangan DDoS paling banyak ditujukan ke China, negara yang kerap menjadi target utama serangan. Selain China, Turki dan Jerman juga menjadi wilayah yang menjadi target serangan siber ini.

Peningkatan serangan DDoS juga terjadi di Amerika Serikat, hingga menempati peringkat ke-5 dalam daftar 10 negara terbesar yang diserang.

Begitu pula Filipina yang kini menempati peringkat ke-10. Padahal sebelumnya AS dan Filipina tak masuk dalam daftar ini. Daftar lengkap target serangan DDoS sebagai berikut, dihimpun KompasTekno dari blog resmi Cloudflare.

  1. China
  2. Turki
  3. Jerman
  4. Brasil
  5. Amerika Serikat
  6. Rusia
  7. Vietnam
  8. Kanada
  9. Korea Selatan
  10. Filipina
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang