Setelah Meta dan Cloudflare, Kini LinkedIn Ikut Pangkas Karyawan

Media sosial LinkedIn.
Media sosial LinkedIn.

Industri teknologi global kembali dihantam gelombang efisiensi besar-besaran pada 2026. Setelah sempat melambat dalam dua tahun terakhir, perusahaan teknologi kini kembali ramai-ramai memangkas tenaga kerja di tengah fokus besar terhadap pengembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Terbaru, LinkedIn dikabarkan akan memangkas sekitar 5 persen tenaga kerjanya sebagai bagian dari restrukturisasi organisasi.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Laporan Reuters menyebut perusahaan milik Microsoft itu akan mulai memberi tahu karyawan terkait PHK pada Rabu waktu setempat. Sumber yang mengetahui rencana tersebut mengatakan pengurangan tenaga kerja dilakukan untuk menyesuaikan struktur organisasi dengan area bisnis yang tumbuh lebih cepat.

"LinkedIn sendiri saat ini memiliki lebih dari 17.500 karyawan penuh waktu di seluruh dunia. Namun hingga kini belum diketahui divisi mana saja yang akan terdampak pemangkasan tersebut," tulis laporan tersebut, sebagaimana dikutip dari Trading View, Jumat, 15 Mei 2026.

PHK dilakukan di tengah pertumbuhan bisnis LinkedIn yang masih positif. Berdasarkan dokumen keuangan Microsoft, pendapatan LinkedIn tumbuh 12 persen pada kuartal terakhir dibanding periode sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan itu bahkan disebut mengalami percepatan sepanjang 2026. Meski begitu, LinkedIn bukan satu-satunya perusahaan teknologi yang melakukan efisiensi tahun ini. Industri teknologi global kembali memasuki fase gelombang PHK baru setelah sempat melambat pada 2024 dan 2025.

Perusahaan pembayaran digital Block yang didirikan Jack Dorsey sebelumnya juga mengumumkan rencana memangkas hampir separuh tenaga kerjanya. Selain itu, Cloudflare pekan lalu mengungkapkan pengurangan sekitar 20 persen staf perusahaan.

Sementara Meta Platforms juga dilaporkan tengah menyiapkan tambahan PHK dalam waktu dekat. Meski perkembangan AI sering dikaitkan dengan pengurangan tenaga kerja, salah satu sumber Reuters mengatakan PHK di LinkedIn tidak secara langsung disebabkan AI yang menggantikan pekerjaan manusia.

Namun, perkembangan AI tetap memengaruhi arah bisnis perusahaan teknologi global. Banyak perusahaan kini melakukan reorganisasi operasional demi fokus pada pengembangan AI dan efisiensi kerja.

Penggunaan AI generatif juga semakin luas di berbagai bidang pekerjaan, termasuk pengembangan perangkat lunak. Banyak insinyur kini menggunakan AI untuk membantu membuat atau menyusun kode pemrograman.

Di sisi lain, perdebatan mengenai dampak AI terhadap lapangan kerja masih terus berlangsung. Sebagian eksekutif teknologi menilai AI dapat menggeser banyak pekerjaan manusia, sementara lainnya percaya AI hanya mengubah pola kerja tanpa sepenuhnya menghilangkan tenaga kerja.

Data dari Layoffs.fyi menunjukkan jumlah PHK sektor teknologi melonjak tajam sepanjang tahun ini. Hingga pertengahan Mei 2026, lebih dari 103 ribu pekerja teknologi di seluruh dunia kehilangan pekerjaan.

Jumlah itu mendekati total PHK sepanjang 2025 yang mencapai lebih dari 124 ribu pekerja. Platform riset Statista juga melaporkan total PHK sektor teknologi mencapai sekitar 81.700 pekerja hanya pada kuartal pertama 2026.

Angka tersebut menjadi jumlah PHK kuartalan tertinggi sejak awal 2023. Selain itu, sekitar 20 ribu PHK tambahan diumumkan dalam enam minggu pertama kuartal kedua tahun ini.

Lonjakan PHK tersebut menandai berakhirnya periode stabilisasi industri teknologi setelah tekanan pascapandemi beberapa tahun terakhir.

Gelombang efisiensi juga mulai menjalar ke sektor ritel. Walmart dilaporkan memangkas atau merelokasi sekitar 1.000 karyawan korporat setelah perusahaan mengonsolidasikan sebagian operasi teknologi global dan AI mereka.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Laporan The Wall Street Journal menyebut Walmart mengatakan perubahan itu dilakukan untuk penyelarasan organisasi dan penyederhanaan pengambilan keputusan, bukan karena AI menggantikan pekerja secara langsung.

Meski demikian, meningkatnya investasi perusahaan terhadap AI dinilai tetap mengubah prioritas kebutuhan tenaga kerja di banyak sektor industri teknologi global.