Coca-Cola Mulai PHK 75 Pegawai, Restrukturisasi Besar-besaran 2026 Dimulai
Raksasa sektor Industri minuman global, Coca-Cola, baru-baru ini mengumumkan langkah strategis yang cukup signifikan, yaitu restrukturisasi organisasi yang berdampak pada sejumlah pegawai. Perubahan diketahui seiringan dengan tren konsumen yang kini lebih memilih minuman rendah gula, air mineral, dan minuman olahraga dibandingkan soda tradisional.
Langkah restrukturisasi ini juga menjadi bagian dari persiapan perusahaan dalam menghadapi pergantian kepemimpinan. James Quincey, CEO saat ini, akan bertransisi menjadi Executive Chairman pada Maret 2026.
Perubahan tersebut membuka peluang bagi Coca-Cola untuk meninjau kembali fokus bisnisnya, termasuk investasi pada bidang-bidang pertumbuhan baru seperti kecerdasan buatan (AI).
Menurut pemberitahuan WARN (Worker Adjustment and Retraining Notification) yang diajukan pekan lalu, Coca-Cola akan memulai PHK di kantor pusatnya sekitar tanggal 28 Februari 2026, dengan 75 pegawai menjadi yang pertama terdampak.
Perusahaan memperkirakan pemangkasan tenaga kerja akan terjadi dalam beberapa fase, namun belum merinci jumlah total posisi yang akan terdampak. Quincey sendiri sempat menyinggung rencana restrukturisasi ini saat panggilan laporan keuangan Oktober 2025.
Coca-Cola.
“Kita harus tetap fokus pada apa yang perlu kita lakukan untuk menang tahun depan, tahun berikutnya, dan seterusnya, terlepas dari seberapa baik kinerja kita di masa lalu,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari Food Dive, Kamis, 8 Januari 2026.
Perusahaan sendiri diketahui menghadapi tantangan karena selera konsumen bergeser dari minuman manis ke pilihan yang lebih sehat. Minuman berenergi, air mineral, dan produk-produk rendah gula kini menjadi favorit.
Hal ini mendorong Coca-Cola untuk menyesuaikan portofolio produknya agar tetap relevan. Meskipun menghadapi pemangkasan tenaga kerja, kinerja finansial perusahaan tetap menunjukkan pertumbuhan positif.
Pada kuartal ketiga 2025, pendapatan bersih Coca-Cola meningkat 5 persen menjadi US$12,5 miliar atau setara Rp208,75 triliun. Perusahaan memperkirakan pertumbuhan serupa akan berlanjut hingga akhir tahun.
Langkah ini menjadikan Coca-Cola sebagai salah satu perusahaan CPG (Consumer Packaged Goods) terbaru yang mengumumkan pengurangan tenaga kerja. Tahun lalu, perusahaan lain seperti Nestlé, General Mills, dan Molson Coors juga melakukan pemangkasan staf sebagai bagian dari upaya efisiensi dan penyesuaian bisnis.
Selain adaptasi terhadap tren konsumsi, Coca-Cola berencana untuk berinvestasi di area yang diproyeksikan sebagai potensi pertumbuhan. Salah satunya adalah teknologi AI yang diyakini bisa meningkatkan efisiensi operasi dan menghadirkan inovasi produk yang lebih sesuai dengan preferensi konsumen modern.