Manfaatkan Biogas Tangki Septik, Warga Jaktim Bisa Hemat Rp 1,2 Juta per Tahun
Ribuan warga Jakarta Timur (Jaktim) mulai memanfaatkan biogas berbasis kotoran manusia yang dihimpun dalam tangki septik komunal.
Penggunaan energi terbarukan ini memungkin rumah tangga warga tidak bergantung pada LPG untuk memasak.
Dikutip dari , Kamis (13/11/2025), Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memprakirakan sistem ini bisa menghemat pengeluaran rumah tangga sampai Rp 1,2 juta per tahun.
“Warga yang dulu harus beli LPG, sekarang tidak perlu lagi. Mereka bisa menghemat sampai Rp 1,2 juta per tahun,” kata Pramono.
Promono juga menilai inisiatif ini bisa menekan perilaku buang air besar sembarangan hingga nol persen di wilayah tersebut.
Menurutnya, sistem biogas dari tangki septik komunal memberikan dampak langsung bagi warganya.
Wali Kota Jakarta Timur Munjirin menyebutkan, instalasi biogas di wilayahnya saat ini ada tiga titik, yang telah melayani 439 kepala keluarga (KK) atau sekitar 2.400 jiwa.
Tiga titik tersebut berada di Rusunami Bidara Cina (Jatinegara), Jalan H. Said (Rambutan, Ciracas), dan Jalan Delta (Pekayon, Pasar Rebo).
Dari gerakan di Jakarta Timur tersebut, berikut fakta menarik mengenai biogas yang perlu diketahui.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meresmikan groundbreaking pembangunan Septic Tank Komunal Terintegrasi Teknologi Biogas di Rusunami Bidara Cina, Jatinegara, Jakarta Timur, pada Senin (28/7/2025).
Apa itu biogas dan manfaatnya?
Menurut Youmatter yang dikutip , biogas adalah salah satu jenis energi terbarukan yang dihasilkan dari proses penguraian bahan organik dalam kondisi anaerob (tanpa oksigen).
Kombinasi gas yang dihasilkan dari proses ini didominasi metana 50-75 persen, yang dapat dimanfaatkan untuk memasak, memanaskan air, hingga membangkitkan listrik.
Menurut penelitian Nagamani dan Ramasamy (1999), 1 kilogram tinja manusia dapat menghasilkan 28 liter biogas.
Dengan 1 meter kubik biogas, masyarakat dapat:
- Menyalakan lampu 60–100 watt selama 6 jam,
- Memasak 3 kali untuk 5–6 orang,
- Mendapatkan energi setara 1,25 kWh listrik (Gladstone, 2006).
Menurut ETIP Bioenergy yang dikutip Kompas.com, beberapa manfaat biogas antara lain:
-
Ramah lingkungan
Pemanfaatan biogas semakin dilirik sebagai salah satu solusi energi terbarukan yang ramah lingkungan.
Gas yang dihasilkan dari proses penguraian bahan organik ini tidak menimbulkan polusi sehingga berpotensi membantu mengurangi emisi rumah kaca.
Dengan karakter tersebut, biogas kerap disebut sebagai salah satu pilihan energi alternatif yang dapat turut menekan laju pemanasan global.
Selain bersih, bahan baku biogas juga tersedia secara berkelanjutan karena berasal dari limbah hewan maupun tumbuhan.
Kondisi itu membuat biogas menjadi sumber energi terbarukan yang dapat terus diproduksi tanpa bergantung pada pasokan bahan bakar fosil.
-
Mengurangi pencemaran tanah dan air
Salah satu manfaat biogas yang krusial adalah kemampuannya mengurangi pencemaran tanah dan air.
Penumpukan sampah di darat sering memunculkan bau tidak sedap dan meningkatkan risiko keluarnya cairan beracun yang merembes ke sumber air tanah.
Sistem biogas dapat menjadi solusi karena proses anaerob di dalam digester mampu menonaktifkan patogen maupun parasit dalam limbah.
Dengan proses pengolahan yang tertutup dan terkontrol, limbah tidak lagi tersebar ke lingkungan.
Pengumpulan dan pengelolaan limbah di wilayah yang memiliki instalasi biogas pun cenderung meningkat, sehingga berdampak positif pada sanitasi dan kebersihan permukiman.
-
Menghasilkan pupuk organik
Selain gas untuk kebutuhan energi, proses biogas juga menghasilkan produk sampingan berupa bahan organik yang diperkaya.
Material ini dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik dan menjadi pengganti pupuk kimia.
Pupuk hasil digester biogas dapat membantu mempercepat pertumbuhan tanaman sekaligus meningkatkan ketahanan terhadap penyakit.
Penggunaan pupuk organik ini juga dapat menjadi alternatif lebih aman dibanding pupuk kimia, yang dalam jangka panjang berpotensi menimbulkan dampak buruk terhadap lingkungan serta risiko kontaminasi pada bahan pangan.
-
Teknologi yang relatif murah dan aplikatif
Dibanding teknologi energi terbarukan lain, pengolahan biogas relatif murah dan dapat diterapkan dalam skala rumah tangga hingga industri.
Di tingkat peternakan, limbah harian dari ternak dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar biogas.
Bahkan, limbah dari seekor sapi disebut mampu menghasilkan energi yang cukup untuk menyalakan lampu bohlam sepanjang hari.
Dalam skala industri, biogas dapat diproses lebih lanjut hingga mencapai kualitas setara dengan gas alam, sehingga dapat digunakan sebagai bahan bakar kendaraan bermotor.
-
Alternatif kayu bakar
Di sejumlah wilayah pedesaan, kayu bakar masih dipakai sebagai sumber energi utama untuk memasak.
Padahal, asap dari pembakaran kayu dapat menyebabkan gangguan pada pernapasan.
Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan sekitar 4,3 juta orang meninggal setiap tahun akibat polusi udara dari asap pembakaran kayu.
Biogas menawarkan alternatif yang lebih aman karena tidak menghasilkan asap berbahaya.
Selain itu, bahan bakunya mudah ditemukan dan tidak merusak lingkungan seperti praktik penebangan kayu untuk kebutuhan energi.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.