Ancaman Teror Menghantui Proyek China di Pakistan, Beijing Frustasi

Situasi Setelah Bom di Pakistan (Doc: The Sundaily)
Situasi Setelah Bom di Pakistan (Doc: The Sundaily)

Kekhawatiran China terhadap keamanan kepentingannya di Pakistan kian meningkat, menyusul rangkaian serangan yang menargetkan warga negara dan proyek-proyek strategis Beijing di negara tersebut. Situasi ini mulai mengikis narasi lama tentang hubungan “persaudaraan kokoh” antara kedua negara. 

Meski secara resmi pemerintah China masih menyebut Pakistan sebagai “mitra kerja sama strategis yang dapat diandalkan dalam segala cuaca”, berbagai laporan media dan kajian akademis di dalam negeri menunjukkan adanya nada yang lebih waspada—bahkan frustrasi—di kalangan pengamat Beijing. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pemicu utama meningkatnya kekhawatiran ini adalah serangan mematikan yang terus berulang. Salah satu yang paling menonjol terjadi pada Maret 2024, ketika bom bunuh diri menghantam konvoi terkait proyek China di Pakistan, menewaskan enam orang, termasuk lima warga negara China. Serangan itu merupakan bagian dari tiga aksi teror dalam satu pekan, mempertegas bahwa ancaman terhadap kepentingan China bukanlah insiden terpisah. 

Bagi publik China, peristiwa semacam ini mengubah hubungan bilateral dari sekadar keberhasilan geopolitik menjadi persoalan nyata: apakah Pakistan mampu menjamin keselamatan warga dan investasi China? 

Sejumlah akademisi China sebenarnya telah lama memperingatkan risiko tersebut. Kajian dari Universitas Peking pada 2021 menyoroti bahwa proyek Koridor Ekonomi China–Pakistan (CPEC) menghadapi ancaman serius dari kekerasan separatis, ekstremisme agama, serta ketidakstabilan regional. Meski upaya kontra-terorisme Pakistan disebut mampu menekan sebagian kekerasan, serangan terhadap target China dinilai tetap berlanjut dan semakin terarah. 

Laporan lain dari Akademi Ilmu Sosial China bahkan mengidentifikasi wilayah Balochistan sebagai salah satu kawasan paling berbahaya bagi kepentingan luar negeri China. Di wilayah ini, serangan terhadap target China kerap digunakan sebagai alat tekanan terhadap pemerintah Pakistan. 

Data menunjukkan bahwa sejak 2001 hingga serangan di Dasu pada 2021, setidaknya terjadi 32 insiden terorisme yang menargetkan kepentingan China di Pakistan. Angka tersebut memperlihatkan bahwa ancaman ini bersifat kronis, bukan sementara. 

Selain terorisme, perusahaan-perusahaan China juga harus menghadapi tantangan lain seperti ketidakstabilan politik lokal, korupsi, serta ketegangan antara pemerintah pusat dan daerah. Semua faktor ini semakin memperumit implementasi proyek-proyek besar di bawah CPEC. 

Meski demikian, kekhawatiran Beijing belum sepenuhnya mengarah pada perubahan sikap drastis terhadap Islamabad. Banyak kalangan elit China masih menilai kemitraan ini penting secara strategis dan mengakui pengorbanan Pakistan dalam memerangi terorisme. Namun, nada optimisme kini mulai disertai syarat dan kehati-hatian. 

Perkembangan terbaru juga menunjukkan meningkatnya ancaman dari kelompok seperti Tehrik-i-Taliban Pakistan, yang dinilai memperburuk keamanan regional dan memanfaatkan ketegangan geopolitik yang lebih luas. Hal ini membuat lingkungan bagi kepentingan China di Pakistan semakin rapuh. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Di tengah kondisi tersebut, jurang antara narasi resmi dan realitas di lapangan semakin terlihat jelas. Di satu sisi, istilah “saudara besi” tetap digunakan dalam diplomasi. Namun di sisi lain, banyak pengamat China kini melihat hubungan tersebut lebih sebagai persoalan manajemen risiko ketimbang ikatan emosional. 

Situasi ini menempatkan Pakistan dalam posisi yang unik—sebagai salah satu mitra terdekat China, sekaligus salah satu wilayah dengan tingkat risiko keamanan tertinggi bagi kepentingan Beijing di luar negeri.