Sejarah Jet Tempur Chengdu J-10, Proyek Ambisius dari Militer China
Teka-teki mengenai rencana akuisisi jet tempur baru untuk memperkuat TNI Angkatan Udara menemui titik terang. Menteri Pertahanan (Menhan) Sjafrie Sjamsoeddin akhirnya memastikan bahwa pesawat tempur multiperan Chengdu J-10 buatan Tiongkok akan segera tiba di Indonesia dan dijadwalkan terbang di langit Jakarta dalam waktu dekat.
Pernyataan ini menegaskan bahwa proses pengadaan jet tempur generasi keempat tersebut, yang di dunia Barat dijuluki "Vigorous Dragon" (Naga Ganas), telah memasuki tahap akhir implementasi.
Minat Indonesia terhadap jet ini sendiri semakin menguat setelah Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU), Marsekal TNI Mohamad Tonny Harjono, mengunjungi pameran alutsista di Tiongkok, di mana J-10C ditawarkan sebagai bagian dari kerja sama pertahanan strategis.
Sejarah J-10: Proyek Ambisius Transisi Militer China
Pengembangan Chengdu J-10 oleh Chengdu Aircraft Industries Corporation (CAC) sudah dimulai sejak tahun 1988, didorong oleh kebutuhan mendesak Tiongkok untuk memiliki jet tempur yang setara dengan standar Barat generasi ke-4, seperti F-16 Fighting Falcon.
Akar Desain Kontroversial (1980-an)
Secara historis, J-10 adalah lompatan teknologi raksasa. Tiongkok saat itu masih mengandalkan jet tempur tua berbasis desain Soviet. Proyek J-10 dirancang sebagai upaya mandiri, meskipun banyak analis Barat meyakini bahwa desain J-10, khususnya konfigurasi sayap delta-canard dan teknologi sistem kontrol penerbangan Fly-by-Wire (FBW), mengambil inspirasi signifikan dari proyek jet tempur Israel yang dibatalkan, IAI Lavi.
Penerbangan dan Kedinasan
Prototipe J-10 berhasil melakukan penerbangan perdananya pada 23 Maret 1998. Setelah melalui serangkaian pengujian, J-10 secara resmi mulai dioperasikan oleh Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat China (PLAAF) pada 2006. Sejak itu, J-10 menjadi salah satu tulang punggung kekuatan udara Tiongkok, dengan total produksi yang kini telah melampaui 350 unit, bahkan mengungguli jumlah produksi jet tempur Eropa seperti Rafale dan Gripen.
Ketergantungan Mesin
Pada versi awalnya (J-10A), Tiongkok masih mengandalkan mesin turbofan Saturn AL-31FN buatan Rusia, menegaskan tantangan Tiongkok dalam pengembangan mesin pesawat jet domestik. Namun, pada varian-varian berikutnya, Tiongkok mulai mengintegrasikan mesin buatan dalam negeri seperti Shenyang WS-10, menandai kemandirian teknologi yang semakin besar.
J-10C: Varian Paling Modern yang Memikat Indonesia
Varian yang paling menarik perhatian Indonesia adalah J-10C, yang merupakan puncak dari modernisasi platform ini. J-10C disebut setara dengan F-16 Block 50/52 dalam hal ukuran dan daya dorong maksimum yang mencapai 19.277 kg.
Kepastian kedatangan J-10 ini menandai babak baru modernisasi alutsista TNI AU, yang kini akan mengintegrasikan jet tempur yang tidak hanya memiliki sejarah panjang dalam pengembangan militer Tiongkok, tetapi juga dilengkapi dengan teknologi tempur udara terkini.