Mengapa Polusi Udara Berbahaya untuk Ibu Hamil? Ini Faktanya

kehamilan, ibu hamil, polusi, polusi udara, Mengapa Polusi Udara Berbahaya untuk Ibu Hamil? Ini Faktanya, 1. Berat badan lahir rendah, 2. Kelahiran prematur, 3. Risiko cacat lahir, 4. Dampak jangka panjang, 5. Ancaman kesehatan bagi ibu selama kehamilan

Papaparan polusi udara pada ibu hamil, dampaknya bisa jauh lebih serius karena paparan polutan tidak hanya memengaruhi kesehatan ibu, tetapi juga perkembangan janin di dalam kandungan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa sekitar 99 persen populasi dunia kini menghirup udara yang kualitasnya berada di bawah standar aman kesehatan.

Dokter spesialis kandungan sekaligus Director and Senior Consultant di Cloudnine Group of Hospitals New Delhi, Dr. Sunita Lamba menjelaskan,  tubuh perempuan mengalami banyak perubahan selama kehamilan, termasuk peningkatan kebutuhan oksigen.

“Karena ibu hamil menghirup volume udara yang lebih besar, mereka juga menghirup lebih banyak polutan. Partikel ini dapat masuk ke aliran darah dan melewati plasenta, sehingga berpotensi membahayakan bayi,” ujar Dr. Lamba, dikutip dari Only My Health, Sabtu (2/5/2026).

Lalu, seperti apa pengaruh polusi udara terhadap ibu hamil? Berikut penjelasannya.

Mengapa ibu hamil lebih rentan terhadap polusi udara?

Selama kehamilan, tubuh bekerja lebih keras untuk memenuhi kebutuhan janin yang sedang tumbuh. Salah satu dampaknya adalah sistem pernapasan menjadi lebih aktif untuk memasok oksigen tambahan.

Kondisi ini membuat ibu hamil secara alami menghirup udara dalam jumlah lebih banyak dibandingkan biasanya. 

Jika udara yang dihirup mengandung polutan seperti partikulat halus (PM2.5), karbon monoksida, nitrogen dioksida, atau zat kimia berbahaya lain, maka paparan yang diterima tubuh juga meningkat.

Dr. Lamba menjelaskan, paparan polusi dapat memicu stres oksidatif, yaitu kondisi ketika radikal bebas di dalam tubuh meningkat dan merusak sel sehat.

“Stres oksidatif dapat merusak plasenta, mengganggu aliran nutrisi dan oksigen dari ibu ke janin,” jelasnya.

Sumber polusi sendiri tidak hanya berasal dari asap kendaraan atau pabrik, tetapi juga dari paparan asap rokok, kompor gas tanpa ventilasi baik, pembakaran sampah, hingga debu konstruksi.

Risiko polusi udara bagi perkembangan janin

Paparan polusi selama kehamilan dapat berdampak langsung pada tumbuh kembang bayi sejak dalam kandungan.

1. Berat badan lahir rendah

Salah satu risiko paling umum adalah bayi lahir dengan berat badan rendah. Kondisi ini terjadi ketika suplai oksigen dan nutrisi ke janin terganggu akibat fungsi plasenta yang tidak optimal.

Bayi dengan berat badan lahir rendah memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan kesehatan pada awal kehidupan, termasuk infeksi dan keterlambatan tumbuh kembang.

2. Kelahiran prematur

Paparan polutan tertentu dapat memicu peradangan sistemik pada tubuh ibu, yang kemudian meningkatkan risiko kontraksi dini dan persalinan prematur.

Kelahiran prematur dapat menyebabkan berbagai komplikasi, mulai dari gangguan paru-paru, masalah pencernaan, hingga keterlambatan perkembangan saraf.

3. Risiko cacat lahir

Menurut Dr. Lamba, beberapa penelitian menunjukkan hubungan antara polusi udara dengan peningkatan risiko cacat bawaan.

“Paparan polusi tertentu dikaitkan dengan meningkatnya kemungkinan cacat tabung saraf, bibir sumbing, dan kelainan jantung bawaan,” ujarnya.

Gangguan ini dapat muncul karena polutan memengaruhi pembentukan organ-organ vital janin pada trimester awal kehamilan.

4. Dampak jangka panjang

Yang tak kalah mengkhawatirkan, dampak polusi bisa bertahan hingga anak tumbuh dewasa.

Beberapa studi menemukan paparan polusi dalam kandungan dapat meningkatkan risiko diabetes, penyakit jantung, hingga gangguan metabolik di kemudian hari.

5. Ancaman kesehatan bagi ibu selama kehamilan

Selain membahayakan janin, polusi udara juga dapat memperburuk kondisi kesehatan ibu hamil.

Paparan udara kotor dapat memicu atau memperparah gangguan pernapasan seperti asma, bronkitis, dan sesak napas. 

Pada ibu dengan riwayat hipertensi atau gangguan jantung, kualitas udara buruk dapat meningkatkan tekanan pada sistem kardiovaskular.

Polusi juga dapat meningkatkan risiko komplikasi kehamilan seperti preeklamsia, yaitu kondisi tekanan darah tinggi yang berbahaya bagi ibu dan bayi.

Kondisi ini memerlukan penanganan medis segera karena dapat mengancam keselamatan keduanya.

Cara melindungi ibu hamil dari paparan polusi

Meski sulit sepenuhnya menghindari polusi, ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan.

Pertama, pantau kualitas udara harian melalui aplikasi atau situs resmi. Jika indeks kualitas udara sedang buruk, sebaiknya kurangi aktivitas di luar rumah.

Gunakan masker dengan filtrasi baik seperti N95 saat harus bepergian. Lalu, pastikan ventilasi rumah baik dan gunakan air purifier bila memungkinkan.

Ibu hamil juga sebaiknya hindari paparan asap rokok serta pembakaran sampah di sekitar rumah.

Dr. Lamba juga menyarankan ibu hamil menjaga pola makan kaya antioksidan dari buah dan sayur.

“Nutrisi yang baik membantu tubuh melawan efek stres oksidatif akibat polusi,” jelasnya.

Selain itu, rutin memeriksakan kehamilan penting dilakukan agar setiap gangguan perkembangan janin dapat terdeteksi lebih dini.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang