Polusi Udara dari Kendaraan Bermotor Makin Mengkhawatirkan, Apa yang Perlu Kita Ubah?
Polusi udara di kota-kota besar kini bukan lagi sekadar isu lingkungan tapi sudah jadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Kendaraan bermotor masih menjadi salah satu penyumbang utama polusi udara di kota. Jumlahnya terus meningkat, seiring dengan kebutuhan mobilitas dan gaya hidup yang makin praktis. Tidak hanya untuk perjalanan pribadi, penggunaan kendaraan juga melonjak karena tingginya aktivitas pengiriman barang.
Efek polusi udara sering kali tidak langsung terasa, sehingga banyak orang menganggapnya hal biasa. Padahal, dampaknya bisa muncul secara perlahan dalam keseharian.
Menurut World Health Organization, polusi udara merupakan salah satu faktor risiko terbesar bagi kesehatan global. Paparan jangka panjang dapat berdampak pada sistem pernapasan dan kardiovaskular, bahkan meningkatkan risiko penyakit serius.
Di tengah kondisi ini, mulai muncul berbagai upaya untuk mengurangi dampak polusi, salah satunya melalui penggunaan kendaraan listrik. Dibandingkan kendaraan berbahan bakar fosil, kendaraan listrik dinilai lebih ramah lingkungan karena menghasilkan emisi yang lebih rendah.
Dalam sektor logistik, analisis ITDP Indonesia menunjukkan bahwa peralihan ke kendaraan listrik bahkan berpotensi mengurangi emisi karbon hingga sekitar 25 persen bahkan dengan memperhitungkan bauran listrik yang masih berbasis batu bara. Selain itu, biaya operasionalnya juga lebih efisien dalam jangka panjang.
Dengan sektor logistik perkotaan yang didominasi sepeda motor untuk pengiriman last-mile lebih dari 60 persen dinilai memiliki posisi strategis sebagai penggerak awal adopsi kendaraan listrik di Indonesia.
"Percepatan elektrifikasi logistik perkotaan membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Melalui forum ini, kami ingin mendorong dialog yang lebih terarah agar solusi yang dihasilkan tidak hanya relevan, tetapi juga dapat diimplementasikan," ujar Direktur Asia Tenggara Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) Indonesia, Gonggomtua Sitanggang dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Akselerasi Transisi Kendaraan Listrik pada Layanan Pengiriman Barang Perkotaan sebagai upaya mendorong percepatan adopsi kendaraan listrik di sektor logistik perkotaan.
Dalam diskusi itu mengungkap bahwa secara teknis, kendaraan listrik roda dua sebetulnya sudah siap untuk sebagian besar kebutuhan operasional kurir. Namun tantangan sesungguhnya ada di ekosistem pendukungnya. Meningkatkan infrastruktur pengisian daya menjadi komponen krusial untuk mendukung operasional, terutama bagi kurir layanan on-demand yang menempuh lebih dari 100 kilometer per hari.
Peserta dari industri logistik juga menyoroti pentingnya standarisasi teknologi baterai, baik secara fisik maupun perangkat lunak, agar interoperabilitas antar-merek dapat terwujd dan mengurangi risiko investasi untuk transisi ke sepeda motor listrik. Industri sepeda motor listrik menyatakan siap untuk mengupayakan produk-produk sesuai kebutuhan kegiatan logistik.
Isu pembiayaan menjadi benang merah yang paling kuat sepanjang diskusi. Kesenjangan antara harga kendaraan listrik dan kemampuan finansial mitra kurir masih terlalu lebar untuk ditanggung secara mandiri. Tanpa skema dukungan yang terstruktur, transisi ini berpotensi menekan pendapatan harian mitra hingga sekitar 21 persen.
Peserta mengusulkan agar subsidi pembelian sepeda motor listrik ditargetkan kepada pekerja logistik, karena menghasilkan dampak besar daripada subsidi pembelian bagi penggunaan pribadi. Untuk mengatasi isu nilai jual kembali dan jaminan pembiayaan, peserta mengusulkan mekanisme buy-back guarantee yang ditanggung Pemerintah. Di sisi yang lebih struktural, inkonsistensi regulasi serta ketidakpastian mengenai siapa yang mengoordinasikan kebijakan pecepatan transisi KBLBB di tingkat pemerintah, turut menjadi catatan serius yang perlu segera ditangani.

Dari diskusi ini, ITDP Indonesia mengidentifikasi beberapa arah kebijakan prioritas: kerja sama antar industri logistik dan manufaktur sepeda motor listrik untuk meningkatkan uji coba implementasi sepeda motor listrik pada segmen pengiriman last-mile guna mengidentifikasi kesenjangan operasional, skema pembiayaan yang disesuaikan dengan pola operasional dan kemampuan finansial mitra kurir, serta kehadiran pemerintah sebagai orchestrator yang memastikan standarisasi, kepastian regulasi, dan keseimbangan antar pemain industri.
FGD ini merupakan bagian dari studi ITDP Indonesia mengenai elektrifikasi kendaraan logistik perkotaan yang didukung ViriyaENB yang akan diluncurkan tahun ini. Studi ini akan menghasilkan rekomendasi kebijakan yang dapat diadopsi oleh pemerintah pusat maupun daerah untuk mendorong adopsi kendaraan listrik pada armada logistik perkotaan.
“Melalui forum ini, kami berharap dapat menjembatani berbagai perspektif serta mengidentifikasi langkah-langkah prioritas untuk mempercepat transisi menuju sistem logistik perkotaan yang lebih efisien, bersih, dan berkelanjutan,” kata Gonggom.