Bukan Hanya Sebabkan Polusi Udara, Asap Kendaraan Bermotor Juga Berdampak Pada Kesehatan

Ilustrasi Turis Naik Motor
Ilustrasi Turis Naik Motor

Kendaraan bermotor menjadi salah satu transportasi primadona di kalangan masyarakat ibukota Jakarta. Ada banyak alasan kenapa masyarakat memilih kendaraan bermotor. Salah satunya terkait dengan kemampuan kendaraan bermotor untuk menyalip kemacetan ibukota.

Meski memberi kemudahan, namun asap knalpot yang dihasilkan oleh kendaraan justru bisa menyebabkan pencemaran udara hingga mengganggu kesehatan. Berbagai zat kimia dari produk buang ini meliputi benzena, arsenik, formaldehyde, karbon monoksida, nitrogen oksida, sulfur dioksida,1, 3-butadiene, polycyclic aromatic hydrocarbons (PAH), dan karbon hitam.

Berbagai zat kimia ini akan tercampur di udara begitu kendaraan mengeluarkan gas buangnya. Zat tersebut yang masuk ke dalam tubuh dapat menimbulkan sejumlah penyakit. 

Salah satu permasalahan yang serius adalah kanker. Beberapa kandungan dalam asap knalpot, seperti benzena, arsenik, formaldehyde, dan 1, 3-butadiene, memiliki sifat karsinogenik. 

Artinya, kandungan ini berpotensi menyebabkan perubahan mutasi genetik yang merupakan penyebab dari penyakit kanker. Bahkan dalam suatu penelitian pun menemukan, paparan asap knalpot diesel meningkatkan risiko penyakit kanker paru, terutama pada pengemudi truk atau pekerja kereta api.

Target penurunan emisi 

Indonesia  menargetkan penurunan emisi hingga 31,89 persen dengan upaya sendiri dan 43,20 persen dengan bantuan internasional pada 2030, sebagai bagian dari upaya untuk mencapai target emisi nol bersih pada tahun 2060 atau lebih awal. 

Transportasi berkelanjutan, khususnya elektrifikasi kendaraan, merupakan salah satu strategi penting untuk mencapai target tersebut. Tetapi kendaraan listrik (EV) saat ini masih di bawah 1 persen dari total populasi kendaraan nasional.

Untuk mempercepat transisi dan memastikan dampaknya signifikan terhadap penurunan emisi, elektrifikasi perlu dimulai dari sektor transportasi publik, khususnya armada bus perkotaan yang dapat memberikan efek pengganda terhadap pengurangan emisi dan peningkatan kualitas layanan transportasi.

Studi  Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) yang didukung oleh ViriyaENB menunjukkan bahwa elektrifikasi armada bus perkotaan dapat menurunkan emisi gas rumah kaca hingga 66,7 persen pada 2040 sekaligus menghemat subsidi transportasi hingga 30 persen. 

“Transisi ke bus listrik bukan hanya soal mengganti teknologi, tapi membuka peluang bagi kota-kota di Indonesia untuk menghadirkan layanan transportasi publik yang lebih efisien, bersih, dan terjangkau. Langkah ini juga dapat menciptakan lapangan kerja hijau dan memperkuat rantai nilai industri transportasi bersih,” ujar Direktur Asia Tenggara ITDP Indonesia, Gonggomtua Sitanggang dalam acara MOVE: Moving Cities the Electric Way, Sabtu 1 November 2025 di Atmajaya Jakarta Pusat. 

Di sisi lain, elektrifikasi sektor logistik perkotaan berperan penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi hijau. Menurut data Statista (2024), pasar logistik Indonesia diproyeksikan meningkat 45,6 persen hingga 2030, menjadikannya peluang besar bagi sektor swasta untuk ikut berkontribusi dalam transisi energi bersih.

"Logistik adalah urat nadi pergerakan barang di kota. Saat sektor ini ikut bertransisi ke energi bersih, kita tidak hanya menurunkan emisi, tapi juga membuka peluang kerja hijau, menggerakkan ekonomi lokal, dan mewujudkan kota yang lebih sehat," kata Direktur Eksekutif ViriyaENB, Suzanty Sitorus.

Infrastruktur Masih Jadi Kendala

Sejumlah survei yang diselenggarakan beberapa lembaga pemerhati konsumen menemukan bahwa infrastruktur pengisian daya masih menjadi hambatan utama masyarakat beralih ke kendaraan listrik. 

Studi ITDP 2025 juga menunjukkan bahwa biaya pengisian daya kendaraan listrik di Indonesia tergolong murah secara global. Artinya, tantangan dari adopsi kendaraan listrik ini bukan karena faktor tarif pengisian daya listrik, tetapi keterbatasan akses terhadap infrastruktur baik stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) maupun fasilitas pengisian daya di rumah (home charging).

Untuk home charging, tantangan utama terletak prosedur menaikkan daya listrik rumah dan instalasi sarana pengisian daya, sehingga masih menjadi beban bagi pengguna dan membutuhkan intervensi kebijakan agar lebih aksesibel. Sementara itu, pada sisi public charging, dibutuhkan insentif bagi pelaku industri agar pembangunan SPKLU dapat berkembang lebih cepat dan luas.

Studi ini juga menggali persepsi dan perilaku masyarakat terkait kendaraan listrik dan infrastruktur pengisian daya di wilayah-wilayah prioritas seperti Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi), Kedungsepur (Kendal, Demak, Semarang, Salatiga, Purwodadi), dan Mamminasatapa (Makassar, Maros, Sungguminasa, Takalar, Pangkep), serta wilayah tier 2 seperti Kartamantul (Yogyakarta, Sleman, Bantul).

Dari sisi ekonomi, investasi elektrifikasi terbukti memberikan nilai balik yang positif. Untuk menghadirkan 100 persen armada transportasi publik di wilayah perkotaan hingga 2030, Indonesia berpotensi memperoleh manfaat sosial dan lingkungan jangka panjang senilai hingga 2,4 kali dari nilai investasi yang dikeluarkan. 

MOV-E yang mengemas diskusi interaktif, pameran dan instalasi edukatif yang menghubungkan penelitian, kebijakan dan praktik juga menghadirkan Otomotif conten creator kenamaan, Alitt Susanto. 

Dalam sesi diskusi tersebut, Alitt mengungkap bahwa sebenarnya banyak orang Indonesia yang tertaik dengan motor listrik tapi masih ragu untuk benar-benar beralih. Berdasarkan obrolannya dengan komunitas dan orang disekitarnya, alasan mereka ragu beralih ke motor listrik ada dua yakni harga hingga masalah keterbatasan infrastruktur pengisian daya 

“Dari obrolan dengan teman komunitas dan orang-orang di sekitar saya, ada dua alasan yang paling sering muncul: harga awal yang masih lebih tinggi dibanding motor bensin, dan keterbatasan infrastruktur pengisian daya. Buat banyak orang, yang dilihat pertama adalah harga beli, bukan biaya jangka panjang, padahal biaya listrik dan perawatan motor listrik yang berkualitas justru jauh lebih murah," kata dia.

Tak hanya itu saja, Alit juga menjelaskan bahwa ada beberapa yang sudah mencoba menggunakan motor listrik. Namun sayangnya mereka kecewa karena membeli motor listrik versi paling murah yang ternyata kurang powerful dan tidak tahan lama. 

"Artinya, standar kualitas juga penting, bukan hanya soal harga. Mungkin perlu ada regulasi yang mengatur standarisasi kendaraan listrik yang masuk ke Indonesia, supaya konsumen tidak salah pilih. Di sisi lain, akses stasiun cas atau penukaran baterai masih terbatas, sehingga masih banyak kekhawatiran baterai habis di jalan. Apalagi bagi pengguna dengan mobilitas harian seperti ojek online," kata dia.