Perundingan Iran‑AS Segera Digelar, Akankah Sukses?
Hari ini, Jumat 10 April 2026, Iran dan Amerika Serikat dijadwalkan akan menggelar pertemuan di Islamabad, ibu kota Pakistan. Kota tersebut menjadi tuan rumah pembicaraan antara delegasi kedua negara, setelah keduanya menyepakati gencatan senjata selama dua minggu pada Selasa malam yang mengakhiri kebuntuan menegangkan.
Menjelang perundingan ini, perhatian publik dunia pun tertuju pada berbagai hal. Mulai dari agenda yang akan dibahas hingga kemungkinan tercapainya kesepakatan. Lalu, apa saja yang perlu diketahui dari pertemuan ini? Berikut rangkumannya, dikutip dari Al Jazeera, Jumat, 10 April 2026.
Kapan dan di mana perundingan digelar?
Perundingan dijadwalkan dimulai akhir pekan ini di Islamabad, setelah Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif secara resmi mengundang kedua pihak untuk mencari penyelesaian penuh atas konflik.
Gedung Putih mengonfirmasi bahwa pembicaraan formal akan dimulai Sabtu pagi waktu setempat.
Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menyatakan pada 8 April bahwa perundingan bisa berlangsung hingga 15 hari. Artinya, sebagian delegasi mungkin akan tinggal lebih lama di Islamabad atau kembali lagi untuk putaran berikutnya.
Delegasi akan menginap di Serena Hotel Islamabad, yang berada di kawasan Red Zone, area dengan pengamanan tinggi yang juga menjadi lokasi gedung pemerintahan dan kedutaan besar. Hotel ini bahkan dikosongkan sementara untuk keperluan tersebut.
Pemerintah setempat juga menetapkan 9 dan 10 April sebagai hari libur, kecuali untuk layanan penting seperti polisi, rumah sakit, dan utilitas. Pengamanan di seluruh kota diperketat, termasuk penutupan akses ke kawasan strategis.
Siapa saja yang akan hadir?
Gedung Putih menyebut Wakil Presiden AS JD Vance akan memimpin delegasi Amerika, didampingi utusan khusus Steve Witkoff dan menantu Presiden Jared Kushner.
Dari pihak Iran, Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi diperkirakan memimpin delegasi.
Namun, pejabat Pakistan mengingatkan bahwa kehadiran para tokoh tersebut belum bisa dipastikan sampai mereka benar-benar tiba.
Duta Besar Iran untuk Pakistan, Reza Amiri Moghadam, sempat mengumumkan kedatangan delegasi Iran pada 9 April melalui X, tetapi unggahan itu kemudian dihapus.
Bagaimana jalannya perundingan?
Perdana Menteri Sharif diperkirakan akan membuka perundingan secara resmi dan menggelar pertemuan awal terpisah dengan masing-masing pihak.
Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar akan berperan sebagai mediator utama. Perundingan kemungkinan dilakukan secara tidak langsung, dengan delegasi AS dan Iran berada di ruangan terpisah, sementara pejabat Pakistan menyampaikan pesan di antara keduanya.
Kehadiran JD Vance dianggap penting, karena Iran menilai dia lebih terbuka untuk mengakhiri konflik dibandingkan perwakilan AS lainnya.
Apa saja yang dibahas?
Kedua pihak masih memiliki perbedaan besar.
Iran mengajukan proposal 10 poin, termasuk pengawasan atas Selat Hormuz, penarikan pasukan tempur AS dari Timur Tengah, serta penghentian operasi militer terhadap kelompok sekutunya.
Di sisi lain, AS belum secara resmi menerima proposal tersebut. Presiden Donald Trump menyebutnya bisa dijalankan, namun tetap menuntut Iran menyerahkan cadangan uranium yang diperkaya, syarat yang belum disetujui Iran.
Isu lain yang menjadi perdebatan adalah Lebanon. Serangan besar Israel ke negara itu, yang menewaskan ratusan orang, memperkeruh situasi.
Araghchi memperingatkan bahwa Iran bisa keluar dari gencatan senjata jika serangan Israel terus berlanjut. Namun, Vance dan Gedung Putih menegaskan bahwa kesepakatan gencatan senjata tidak mencakup Lebanon.
Apa tantangan dan kemungkinan hasilnya?
Para analis menilai kesepakatan final dalam waktu dekat masih sulit tercapai karena tingginya ketidakpercayaan antara kedua pihak.
Lebanon kini menjadi titik paling sensitif dalam perundingan. Iran bersikeras serangan Israel harus dihentikan, sementara posisi AS dan Israel belum sejalan.
Beberapa analis juga menilai absennya Israel dalam perundingan menjadi tantangan besar, karena negara tersebut adalah pihak utama dalam konflik.
Meski begitu, ada peluang kompromi terbatas misalnya terkait isu nuklir dan pembukaan kembali Selat Hormuz karena kedua pihak mulai menunjukkan tanda kelelahan akibat konflik berkepanjangan.
Namun, untuk mencapai perdamaian yang benar-benar stabil, dibutuhkan dukungan luas dari negara-negara Timur Tengah, anggota tetap Dewan Keamanan PBB, serta kesepakatan yang mengikat secara internasional.