Benarkah Cinta pada Pandangan Pertama Itu Nyata?

cinta pada pandangan pertama, Benarkah Cinta pada Pandangan Pertama Itu Nyata?, Mengapa cinta pada pandangan pertama terasa begitu nyata?, Mitos yang sering disalahpahami tentang cinta pada pandangan pertama, Apa kata sains tentang cinta pada pandangan pertama?, Nyata atau hanya perasaan sesaat?

Konsep cinta pada pandangan pertama sering digambarkan dalam film, novel, hingga kisah romantis klasik. 

Banyak orang percaya bahwa hanya dengan sekali tatap, seseorang bisa langsung tahu bahwa ia telah menemukan orang yang tepat.

Namun, apakah hal tersebut benar-benar nyata atau hanya ilusi yang dibentuk oleh perasaan sesaat?

Para ahli hubungan dan psikologi menyebut bahwa fenomena ini lebih kompleks dari yang dibayangkan. Ada perbedaan besar antara cinta sejati dan ketertarikan awal yang terasa sangat kuat.

Perbedaan antara cinta pada pandangan pertama dan ketertarikan fisik

Banyak orang menganggap cinta pada pandangan pertama sama dengan ketertarikan instan. Padahal, keduanya tidak selalu sama.

“Konsep ‘cinta pada pandangan pertama’ adalah gagasan lama yang didasarkan pada keyakinan bahwa kita bisa merasakan koneksi romantis yang mendalam hanya dengan melihat seseorang,” jelas psikolog klinis Carla Marie Manly, PhD, dikutip Best Life, Selasa (7/4/2026).

Namun, Courtney Hubscher, LMHC menegaskan, ketertarikan fisik lebih bersifat dangkal.

“Ketertarikan fisik terjadi secara instan dan biasanya berdasarkan penampilan luar seperti wajah atau bahasa tubuh. Ini reaksi alami, tetapi cenderung bersifat superfisial.”

Perasaan yang muncul saat pertama kali melihat seseorang sering kali adalah kombinasi antara daya tarik visual dan respons emosional awal, bukan cinta yang sebenarnya.

Mengapa cinta pada pandangan pertama terasa begitu nyata?

Meski secara ilmiah berbeda, banyak orang tetap merasa bahwa cinta pada pandangan pertama itu nyata. Hal ini tidak lepas dari peran emosi dan intuisi.

Menurut Manly, perasaan tersebut sering disertai dengan intuisi yang kuat. Seseorang bisa merasa seolah-olah memiliki koneksi khusus yang sulit dijelaskan.

Keinginan manusia untuk menemukan cinta sejati juga berperan besar.

“Banyak orang ingin percaya pada cinta pada pandangan pertama karena hal itu memenuhi keinginan alami manusia untuk memiliki hubungan yang ditakdirkan,” ujar Manly.

Perasaan ini terasa nyata karena didukung oleh harapan dan imajinasi tentang cinta ideal.

Mitos yang sering disalahpahami tentang cinta pada pandangan pertama

Ada beberapa anggapan yang sering keliru terkait cinta pada pandangan pertama.

Salah satunya adalah keyakinan bahwa perasaan tersebut pasti dirasakan oleh kedua belah pihak. Padahal, kenyataannya tidak selalu demikian.

“Penting untuk diingat bahwa orang yang kita sukai belum tentu merasakan hal yang sama,” kata profesor dan direktur Sekolah Komunikasi dan Media di Universitas Illinois Springfield, Beth Ribarsky, PhD.

Selain itu, banyak yang menganggap bahwa hubungan yang dimulai dari ketertarikan instan akan berjalan mulus. Padahal, setiap hubungan tetap membutuhkan usaha dan komunikasi.

“Orang ingin percaya bahwa koneksi instan bisa menghilangkan proses dan usaha dalam membangun hubungan,” lanjutnya.

Padahal, hubungan yang sehat tetap membutuhkan waktu untuk berkembang.

Apa kata sains tentang cinta pada pandangan pertama?

Dari sudut pandang ilmiah, cinta pada pandangan pertama lebih sering dianggap sebagai ketertarikan kuat yang dipicu oleh reaksi kimia di otak.

Courtney Hubscher, LMHC, LCPC, NCC, dari GroundWork Cognitive Behavioral Therapy, mengungkap ada penelitian yang menunjukkan bahwa apa yang kita anggap sebagai cinta pada pandangan pertama kemungkinan besar adalah ketertarikan awal yang kuat.

Ia menambahkan, hormon seperti dopamin dan oksitosin berperan dalam menciptakan perasaan euforia saat pertama kali tertarik pada seseorang.

“Lonjakan hormon yang membuat perasaan senang bisa membuat seseorang merasa seperti jatuh cinta dengan cepat,” tambah Ribarsky.

Menariknya, sebuah studi tahun 2021 menemukan bahwa seseorang lebih cepat merasa jatuh cinta jika memang memiliki keinginan untuk jatuh cinta sejak awal.

Nyata atau hanya perasaan sesaat?

Cinta pada pandangan pertama bukanlah sesuatu yang sepenuhnya mitos, tetapi juga bukan cinta dalam arti yang sebenarnya.

Perasaan tersebut lebih tepat disebut sebagai ketertarikan awal yang sangat kuat, yang bisa berkembang menjadi cinta jika didukung oleh waktu, komunikasi, dan kedekatan emosional.

Pada akhirnya, cinta sejati tetap membutuhkan proses. Tatapan pertama mungkin bisa memicu awal cerita, tetapi hubungan yang bertahan lama dibangun dari usaha kedua belah pihak.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang