Ada Lebaran Ketupat di Masyarakat Jawa, Ini Sejarah dan Maknanya
Lebaran tidak hanya identik dengan Hari Raya Idul Fitri. Di sejumlah daerah di Jawa, terdapat tradisi khas yang juga dinanti setiap bulan Syawal, yaitu Lebaran Ketupat.
Perayaan ini berlangsung sepekan setelah Idul Fitri, tepatnya pada 8 Syawal. Pada tahun 2026, Lebaran Ketupat jatuh pada 28 Maret 2026 (8 Syawal 1447 H), bertepatan dengan momen ketika masyarakat masih berada dalam suasana silaturahmi pasca-Lebaran.
Perayaan Lebaran Ketupat biasanya diwarnai dengan kegiatan berkumpul bersama keluarga, berkunjung ke rumah kerabat, hingga menyelenggarakan hajatan.
Ini menjadi momen tambahan untuk mempererat hubungan sosial setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa.
Sejarah Lebaran Ketupat
Tradisi Lebaran Ketupat memiliki akar sejarah kuat dalam budaya masyarakat Jawa. Mengacu pada pemberitaan (6/4/2025), tradisi ini diyakini sudah ada sejak masa Wali Songo, khususnya pada masa dakwah Sunan Kalijaga atau Raden Sahid.
Pada masa Kesultanan Demak di bawah kepemimpinan Raden Patah, Sunan Kalijaga dikenal sebagai tokoh yang pandai memadukan ajaran Islam dengan budaya lokal.
Ia memanfaatkan tradisi slametan dan kebiasaan masyarakat Nusantara sebagai media dakwah. Ketupat kemudian diperkenalkan sebagai simbol perayaan yang sarat makna spiritual dan sosial.
Tradisi “kupatan” merupakan adaptasi budaya lokal yang dibungkus dengan nilai-nilai Islam. Ketupat yang dibuat dari beras dan dibungkus janur, dijadikan simbol penyucian diri setelah melewati bulan Ramadan.
Bentuknya yang padat dan terbungkus rapat menggambarkan manusia yang kembali suci setelah menjalani proses pembersihan diri melalui ibadah puasa.
Makna Lebaran Ketupat bagi masyarakat Jawa
Penelitian berjudul “Makna Simbolik dan Kultural Tradisi Lebaran Ketupat bagi Masyarakat Jawa” dalam Jurnal Sociopolitico menjelaskan bahwa tradisi ini memiliki makna mendalam, terutama terkait nilai memaafkan dan menyucikan hati.
Beberapa makna penting Lebaran Ketupat antara lain:
1. Simbol saling memaafkan
Ketupat menjadi lambang permintaan maaf. Ketika kerabat datang berkunjung dan menikmati ketupat yang disuguhkan tuan rumah, hal itu dimaknai sebagai pembukaan pintu maaf. Semua salah dan khilaf di antara mereka dianggap luruh dan selesai.
Sejarah dan makna lebaran ketupat.
2. Pengingat bahwa diri telah suci kembali
Momen makan ketupat menjadi simbol bahwa seseorang telah terbebas dari dosa setelah menjalani puasa Ramadan. Karena itu, tradisi ini mendorong umat Islam untuk terus menjaga kebersihan hati dengan saling meminta dan memberi maaf.
3. Mempererat silaturahmi
Lebaran Ketupat juga menjadi momen penting untuk memperkuat komunikasi dan hubungan sosial. Warga biasanya saling berkunjung, berbagi makanan, atau mengadakan syukuran sederhana bersama tetangga.
Tradisi yang tetap hidup
Meski zaman terus berubah, Lebaran Ketupat tetap menjadi bagian penting dalam budaya masyarakat Jawa.
Tradisi ini tidak hanya mempertahankan nilai sejarah dari masa Wali Songo, tetapi juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk meneguhkan kembali nilai kebersamaan, kesederhanaan, dan saling memaafkan.
Dalam suasana Syawal yang penuh berkah, Lebaran Ketupat terus mengingatkan bahwa makna Lebaran bukan sekadar tentang merayakan kemenangan, tetapi juga menjaga hati agar tetap bersih dan hubungan antarmanusia semakin erat.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang