Umat Muslim Diserang saat Hendak Salat Ied di Sekitar Masjid Al Aqsa
Ketegangan di Masjid Al Aqsa kembali memuncak menjelang Hari Raya Idul Fitri 2026. Sejumlah umat Muslim dilaporkan mendapat tindakan represif dari pasukan Israel saat mencoba melaksanakan salat Ied di sekitar kawasan tersebut pada Jumat, 20 Maret 2026.
Peristiwa ini terekam dalam video yang beredar luas di media sosial dan memicu perhatian publik internasional. Dalam rekaman tersebut terlihat warga Palestina yang hendak beribadah dihadang bahkan diserang ketika mendekati area masjid.
"Pasukan Israel menyerang umat Islam Palestina yang mendekati Masjid Al Aqsa untuk shalat Ied,” tulis keterangan dalam video yang diunggah @muslim, dikutip pada Sabtu, 21 Maret 2026.
Situasi ini menjadi semakin memprihatinkan karena untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, umat Muslim tidak dapat melaksanakan salat Idul Fitri di dalam kompleks Al Aqsa. Sejak 1967, momen seperti ini belum pernah terjadi.
Akses Ditutup Sejak Awal Maret
Kondisi ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Otoritas Israel diketahui telah menutup akses menuju kawasan Al Aqsa sejak awal Maret 2026. Penutupan tersebut disebut berkaitan dengan meningkatnya konflik regional, termasuk ketegangan antara Israel dan Iran.
Tidak hanya area masjid, pembatasan juga diberlakukan di seluruh kawasan Kota Tua Yerusalem. Akibatnya, berbagai aktivitas keagamaan seperti salat tarawih dan salat Jumat tidak dapat dilaksanakan di lokasi tersebut selama periode Ramadan.
Sejumlah laporan dari media internasional seperti Middle East Eye menyebutkan bahwa penutupan ini bahkan direncanakan berlangsung hingga Idul Fitri dan kemungkinan berlanjut setelahnya.
Respons dan Kecaman
Kebijakan tersebut menuai kritik dari berbagai pihak. Sejumlah negara mengecam penutupan akses ke salah satu situs suci umat Islam itu. Namun hingga kini, kebijakan tersebut belum menunjukkan tanda-tanda akan dicabut.
“Penutupan kota tua dalam cada demikian tidak pernah terjadi sebelumnya,” ujar Mustada Abu Sway.
Ia juga menyoroti adanya perbedaan kondisi antara wilayah dalam dan luar kota tua.
“Terdapat inkonsistensi ketika kami bandingkan apa yang tengah terjadi di dalam kota tua dengan apa yang terjadi di luarnya, di mana orang-orang bergerak bebas, shalat di masjid-masjid, dan hidup di kota berlangsung sebagaimana biasanya,” lanjutnya.
Warga Tetap Bertahan
Meski akses ditutup dan pengamanan diperketat, warga Palestina tidak sepenuhnya menyerah. Banyak di antara mereka tetap datang ke sekitar gerbang Al-Aqsa untuk melaksanakan ibadah secara terbatas, bahkan di jalanan dan tangga-tangga sekitar masjid.
"Meskipun ditutup, warga Yerusalem terus berbondong-bondong ke sekitar Al-Aqsa dan gerbangnya, melaksanakan salat di jalanan dan di tangga selama beberapa malam berturut-turut," demikian keterangan dari WAFA.
Fenomena ini menjadi simbol perlawanan sekaligus bentuk tekad masyarakat untuk mempertahankan hak beribadah mereka, meskipun berada di bawah tekanan dan pembatasan ketat.