Israel Batasi Muslim Palestina Ibadah di Masjid Al Aqsa selama Ramadhan

Aparat Israel berjaga-jaga di Masjid Al Aqsha, Jerussalem Palestina
Aparat Israel berjaga-jaga di Masjid Al Aqsha, Jerussalem Palestina

 Seorang imam senior di Masjid Al-Aqsa, Yerusalem timur, menyatakan bahwa otoritas Israel melarangnya memasuki kompleks masjid tersebut hanya beberapa hari menjelang dimulainya bulan suci Ramadhan.

Syekh Muhammad al-Abbasi mengatakan larangan itu berlaku selama sepekan sejak Senin dan berpotensi diperpanjang. Ia mengaku tidak diberi penjelasan mengenai alasan pembatasan tersebut.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Saya baru kembali ke Al-Aqsa sebulan lalu setelah satu tahun dirawat di rumah sakit akibat kecelakaan mobil serius," ujarnya. Ia menambahkan, larangan tersebut sangat berat baginya. "Jiwa kami terikat pada Al-Aqsa. Al-Aqsa adalah hidup kami."

Ramadhan, bulan ketika umat Muslim menjalankan ibadah puasa dari fajar hingga matahari terbenam. Awal Ramadhan di Palestina, dimulai pada Rabu hari ini. Setiap tahunnya, ratusan ribu warga Palestina memadati Al-Aqsa untuk melaksanakan salat, terutama pada Jumat dan malam-malam terakhir Ramadhan.

Kompleks Al-Aqsa yang berada di Yerusalem timur direbut Israel dalam Perang 1967 dan kemudian dianeksasi—langkah yang tidak diakui sebagian besar komunitas internasional.

Muslim Palestina Dibatasi Ibadah di Masjid Al Aqsa

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan pada hari Senin, bahwa ia telah membuat "keputusan yang seimbang" untuk mengizinkan kebebasan beribadah di Masjid Al Aqsa Yerusalem selama Ramadhan, tetapi akses akan dibatasi sesuai dengan kebutuhan keamanan.

Ditanya tentang kemungkinan memblokir akses bagi Muslim Israel ke Al Aqsa, sebuah tempat ibadah yang rawan konflik di Kota Tua Yerusalem, kantor Netanyahu mengatakan: "Perdana Menteri membuat keputusan yang seimbang untuk mengizinkan kebebasan beribadah dalam kerangka kebutuhan keamanan yang ditentukan oleh para profesional." Tidak ada rincian lebih lanjut yang diberikan.

Israel sering menetapkan batasan bagi para jamaah yang dapat beribadah di Al Aqsa — misalnya berdasarkan usia — untuk menghindari kekerasan yang mungkin terjadi di tempat tersebut, yang merupakan bagian dari kompleks yang juga suci dalam agama Yahudi.

"Meskipun ada peringatan dari Shin Bet (badan keamanan internal) tentang potensi gangguan antara warga Palestina di dalam Israel dan polisi Israel, Netanyahu menyetujui rekomendasi dari Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir untuk membatasi akses umat Palestina ke Masjid Al Aqsa selama bulan Ramadhan mendatang," lapor Channel 13.

"Akses umat Islam Palestina ke Masjid Al-Aqsa selama Ramadhan akan dibatasi," lapor saluran tersebut, mengutip sumber yang tidak disebutkan namanya.

Beberapa media Israel, termasuk Channel 12, telah melaporkan dalam dua hari terakhir bahwa Shin Bet memperingatkan pemerintah bahwa melarang warga Palestina memasuki Masjid Al-Aqsa selama Ramadhan "dapat menyebabkan kerusuhan besar.”"

Badan keamanan tersebut memperingatkan bahwa keputusan ini dapat menyebabkan gangguan yang lebih "berbahaya" daripada meletusnya ketegangan di Yerusalem, Tepi Barat, dan wilayah sekitarnya pada tahun 1948 ketika Negara Israel dideklarasikan.

Sejak awal perang di Jalur Gaza, polisi Israel telah membatasi akses umat Islam Palestina ke Masjid Al-Aqsa, khususnya pada hari Jumat.

Jumat lalu, meskipun ada pembatasan Israel, sekitar 25.000 umat Islam Palestina dapat memasuki Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur untuk melaksanakan salat Jumat untuk pertama kalinya sejak perang.

Sementara itu, Kepolisian Israel menyatakan telah merekomendasikan penerbitan sekitar 10.000 izin bagi warga Palestina dari Tepi Barat yang diduduki untuk memasuki Yerusalem. Namun, belum ada penjelasan resmi terkait kemungkinan pembatasan usia.

Pemerintah Provinsi Yerusalem Palestina menyebut pihaknya mendapat informasi bahwa izin tersebut akan kembali dibatasi bagi pria berusia di atas 55 tahun dan perempuan di atas 50 tahun, seperti kebijakan tahun sebelumnya.

Mereka juga menuduh otoritas Israel menghalangi Waqf Islam—lembaga yang dikelola Yordania dan bertanggung jawab atas pengelolaan situs tersebut—untuk melakukan persiapan rutin Ramadhan, termasuk pemasangan tenda peneduh dan pendirian klinik medis sementara. Sumber dari Waqf menyebutkan 33 pegawainya dilarang memasuki kompleks dalam sepekan terakhir.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Berdasarkan pengaturan lama yang dikenal sebagai status quo, umat Yahudi diizinkan mengunjungi kompleks tersebut—yang mereka yakini sebagai lokasi Bait Suci pertama dan kedua—namun tidak diperkenankan berdoa di sana. Israel menyatakan komitmennya untuk mempertahankan pengaturan tersebut, meski pihak Palestina menilai aturan itu semakin tergerus.

Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah kelompok ultranasionalis Yahudi secara terbuka menentang larangan berdoa tersebut. Salah satu tokoh yang menuai sorotan adalah Itamar Ben-Gvir, yang sempat berdoa di kawasan itu saat menjabat sebagai menteri keamanan nasional pada 2024 dan 2025.