Masjid Al Fajri, Jejak Arsitektur Turki Utsmani di Tengah Permukiman Pejaten Barat
Belakangan ini ada masjid yang menjadi viral karena memiliki arsitektur seperti masjid-masjid di Turki. Dikatakan bahwa masjid tersebut mirip masjid Sultan Ahmet atau Blue Mosque di Istanbul. Karena penasaran saya pun meluncur ke lokasi masjid tersebut.
Namanya Masjid Al Fajri, yang terletak di jalan Masjid Al Fajri, Pejaten Barat. Lokasinya mudah dicapai dari Pasar Minggu. Saya naik kereta turun di stasiun Pasar Minggu.
Dari stasiun menyeberang dulu ke terminal, lalu naik angkot KWK 05 berwarna merah dengan trayek Pasar Minggu - Rawa Jati. Angkot ini melalui jalan Siaga, kemudian belok ke jalan masjid Al Fajri. Kita turun depan masjid.
Dari depan bentuk bangunannya memang menyerupai masjid-masjid di Turki. Tetapi untuk dikatakan sebagai masjid yang mirip Blue Mosque, kurang tepat. Sebagai orang yang dahulu senang bertandang di masjid Sultan Ahmet, saya merasa masjid ini belum tepat kalau dibilang sama dengan masjid biru.
Ciri khas masjid-masjid di Turki, dengan bangunan yang dominan berwarna abu-abu dan menara masjid yang tinggi, meruncing ke atas. Ini memang sudah ada di masjid Al Fajri sehingga tampak gagah dan megah.
Dari depan ada tangga di kedua sisinya untuk naik ke atas, sedangkan di bawahnya ada pintu masuk ke ruang bawah yang tampaknya akan menjadi aula. Sebenarnya masjid ini belum selesai pengerjaannya.
Tempat berwudu (dok.pri)
Ruang wudhu dan toilet ada di bawah. Meskipun tidak seberapa besar, tampak apik dan menarik. Bentuknya tidak sama dengan masjid-masjid pada umumnya di Indonesia. Saya suka sekali dengan tempat berwudu tersebut.
Di dekat tempat wudhu tersebut ada sebuah bedug yang cukup besar, terbuat dari kulit sapi. Bedug ini dibunyikan sebelum azan berkumandang. Terutama pada waktu Subuh dan Magrib.
Bedug masjid (dok.pri)
Secara keseluruhan, seluruh area masjid seluas 1000 meter persegi bergaya Turki Utsmani. Masjid Al Fajri menjadi mencolok karena berada di tengah-tengah pemukiman padat penduduk. Karena itu, tidak memiliki area parkir yang luas. Hanya sanggup menampung beberapa mobil dan motor.
Menaranya hanya satu tapi menjulang tinggi seperti telunjuk mengarah ke langit. Warna abu-abu menjadi kontras dengan keadaan di sekitarnya sehingga kita dapat dengan mudah mengenali masjid ini. Sebuah anomali sebab pemukiman perumahan yang biasanya rendah dan tak beraturan.
Saya di bawah kubah (dok.pri)
Setelah saya naik tangga dan masuk ke dalam masjid. Ruang shalat dengan langit-langit tinggi, dengan kubah dan sekelilingnya penuh dengan kaligrafi yang indah. Tulisan kaligrafi berwarna-warni sehingga mudah dibaca meskipun dari bawah.Tempat untuk imam juga tampak artistik, dengan lapisan kayu berukir. Begitu pula dengan mimbar masjid untuk khutbah oleh penceramah atau ulama. Bentuknya langsing dan tinggi seperti yang ada di Turki.
Tempat imam dan mimbar (dok.pri)
Sejarah Pembangunan Masjid Al Fajri
Hal ini tak terlepas dari kebersamaan warga Kampung Kerobokan yang masuk wilayah Pejaten Barat, Pasar Minggu. Masjid ini didirikan di atas tanah wakaf seluas 1625 meter persegi. Sejak awal memang sudah dimaksudkan untuk menjadi tempat ibadah.
Tadinya hanya ada bangunan Mushola sederhana dengan nama Langgar Ki Ojen " yang dibangun tahun 1942. Lokasinya dekat sumber air bersih yang disebut Empang Batu. Lahan Mushola berdampingan dengan lahan milik keluarga Al Haddad yang kemudian menyalakan api keislaman di kawasan tersebut.
Seiring berjalannya waktu, ahli waris Habib Idrus bin Husein mewakafkan tanahnya kepada masyarakat Kampung Kerobokan. Atas persetujuan ulama setempat, lalu dibangun masjid Jami Al Fajri. Pembangunan masjid berlangsung dari tahun 1947 hingga 1958. Pada waktu itu masjid tersebut sudah menjadi masjid yang megah dengan bahan diimpor langsung dari Arab Saudi.
Namun saat itu bentuk bangunan masjid justru bergaya klasik Betawi. Ornamen menggunakan kaca bakar dan kaca timah. Masjid ini sempat mengalami renovasi pada tahun 1965. Sayangnya pada tahun 1972 salah satu kubah tersambar petir sampai hancur.
gara peristiwa tersebut, maka masjid harus mengalami perombakan total. Mulai tahun 1972 sampai 1978 masjid Al Fajri direnovasi besar-besaran.
Fondasi menara pun dibangun, masjid diperluas. Walaupun demikian, masjid ini masih mempertahankan arsitektur sebelumnya yang bergaya Betawi. Masjid masih mengalami renovasi beberapa kali menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.
Diubah bergaya Turki Utsmani
Pada tahun 2017 pengurus masjid menggagas ide mengubah menjadi masjid Al Fajri bergaya Turki Utsmani. Referensinya adalah masjid Sultan Ahmet atau Blue Mosque. Mereka bahkan survey ke Istanbul dan melakukan riset.
Pembangunan masjid dalam arsitektur Turki ini memang belum sepenuhnya selesai. Tetapi kemegahannya sudah menarik perhatian masyarakat di luar kawasan Pejaten Barat. Sekarang menjadi salah satu tujuan wisata religi umat muslim Jakarta dan sekitarnya.
Masjid Al Fajri tampak dari atas (dok.ariwibisono)
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Menjadi Wisata Religi, Masjid Al Fajri Bergaya Turki"
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang