Intip Arsitektur Unik Masjid Jami Al Huriyyah yang Mepet Stasiun Pasar Minggu
Masjid Jami Al Huriyyah di depan Stasiun Pasar Minggu Baru, Jakarta Selatan memiliki keunikan yang perlu diketahui traveler. Masjid ini mempunyai arsitektur unik dengan simbol huruf Allah pada minaret, juga ramah energi.
Lokasi Masjid Jami Al Huriyyah tepat di depan Stasiun Pasar Minggu Baru. Dengan posisi itu, masjid tersebut tidak sulit untuk ditemukan.
Arsitektur masjid itu juga spesial, dirancang untuk menyatu dengan kehidupan masyarakat di sekitarnya. Area masjid sengaja dibuat terbuka agar dapat berfungsi sebagai ruang bersama bagi warga.
Konsep itu diharapkan menjadikan masjid sebagai "serambi" kawasan Pasar Minggu Baru, tempat masyarakat dari berbagai latar belakang dapat berinteraksi.
"Masjid Jami Al Huriyyah ini merupakan masjid dengan konsep modern. Fungsinya bukan hanya sebagai tempat ibadah umat Islam, di kawasan Pasar Minggu tentu banyak orang dari latar belakang agama yang berbeda, dan semuanya beraktivitas di sini," kata Abimantra Pradhana, arsitek yang mendesain Masjid Jami Al Huriyyah sekaligus pemandu wisata dalam kegiatan Jelajah Ramadan di Selatan, Sabtu (14/3/2026).
Selayaknya masjid sebagai rumah ibadah, kami merancang Masjid Jami Al Huriyyah ini sebagai tempat interaksi dan rumah untuk seluruh umat," ujar Abi, sapaan karibnya.

Masjid Al Hurriyah, Pasar Minggu, Jaksel (Nyimas Amrina Rosada/detikcom)
Abi menyebut masjid itu dibangun dengan tiga konsep utama. Pertama, simbolisasi nama Allah melalui bentuk bangunan. Menara masjid digabungkan dengan atap bangunan sehingga membentuk siluet huruf Arab yang melambangkan lafaz Allah.
"Kalau kita lihat, masjid ini punya minaret yang bergabung dengan atap masjid. Di mana minaretnya kami simbolkan sebagai huruf alif, bersambung dengan huruf 'la' dan 'ha' sehingga tampak seperti lafar Allah," kata dia.
Selain menjadi simbol religius, desain itu juga membantu menekan biaya pembangunan menara yang biasanya membutuhkan anggaran besar.
"Dengan menggabungkan minaret dengan atap masjid, harapannya dapat mengefisiensi biaya dan bentuk bangunan. Selain itu, desain ini bertujuan untuk menghadirkan lafaz 'Allah' yang jadi simbol estetika masjid," kata Abi.
Konsep kedua adalah menghadirkan simbol kehadiran Tuhan melalui cahaya alami. Pada bagian atap terdapat celah-celah yang memungkinkan sinar matahari masuk ke dalam ruang utama masjid. Cahaya yang masuk akan berubah arah dan intensitasnya sepanjang hari, menciptakan suasana yang berbeda pada setiap waktu salat.
"Konsep kedua adalah kehadiran Tuhan yang disimbolkan oleh cahaya. Kalau dilihat ruang atap masjid terdapat sobekan atau jarak sebagai tempat cahay masuk. Konsep ini melambangkan kehadiran Tuhan. Ketika cahaya masuk pada waktu asar, maghrib, akan berbeda-beda. Nah, disitulah kita bisa melihat konstan dialog antara umat dan Tuhannya," ujar dia.

Peserta walking tour Dispar Sudin Jaksel di Masjid Al Hurriyah, Pasar Minggu, Jaksel (Nyimas Amrina Rosada/detikcom)
Sementara konsep ketiga adalah menjadikan masjid sebagai ruang ibadah yang inklusif. Masjid tiga lantai ini menyediakan fasilitas yang setara bagi jamaah laki-laki dan perempuan, mulai dari ukuran toilet yang sama hingga akses yang nyaman menuju area ibadah.
Terdapat pula ramp yang menghubungkan lantai bawah hingga atas untuk memudahkan lansia dan penyandang disabilitas, serta ruang menyusui bagi jamaah perempuan.
Selain mengedepankan nilai inklusivitas, desain masjid ini juga memperhatikan isu keberlanjutan. Masjid berkapasitas sekitar 500 hingga 800 jamaah ini dirancang tanpa menggunakan pendingin udara.
Sistem ventilasi alami diperkuat dengan konsep "double skin" berupa lapisan kayu di bagian luar bangunan yang berfungsi menahan panas matahari sekaligus melindungi dari hujan.
"Menariknya, masjid ini sengaja kami konsep tanpa AC sebagai jawaban atas tantangan krisis energi. Kayu-kayu yang berada di bagian atas berfungsi sebagai identitas bangunan dan penangkal panas berlebih masuk ke bangunan masjid," kata Abi.