Krisis Tidur pada Remaja Kian Parah, Berisiko Memicu Depresi hingga Gangguan Kognitif

Krisis Tidur pada Remaja Kian Parah, Berisiko Memicu Depresi hingga Gangguan Kognitif

Remaja era modern tengah menghadapi krisis kurang tidur yang terpantau jauh lebih parah dibandingkan masa-masa sebelumnya.

Berbagai efek negatif yang timbul akibat minimnya waktu istirahat malam, berdasarkan sebuah studi terbaru yang dipublikasi dalam Journal of the American Medical Association (JAMA) pada 2 Maret 2026, melansir New York Post, Jumat (20/3/226).

"Intinya di sini adalah adanya krisis tidur pada remaja, dan situasinya semakin memburuk. Ini telah menjadi keadaan darurat kesehatan masyarakat yang serius," kata Clinical Director of Digital Behavioral Health di Northwell Healh, Courtney Bancroft, PsyD.

Dampak serius krisis tidur pada kesehatan remaja

Risiko depresi hingga gangguan kognitif

Bahaya ini secara khusus mengintai kelompok usia remaja, yang memiliki tingkat risiko jauh lebih tinggi untuk mengidap masalah depresi, gangguan kecemasan, penurunan pada fungsi kognitif otak, hingga ancaman terserang penyakit sklerosis ganda pada rentang kehidupan mereka di masa depan.

Selama ini, tingginya intensitas penggunaan gawai selalu dituding oleh masyarakat, sebagai biang keladi utama atas munculnya berbagai masalah terkait jam tidur pada kaum remaja.

Namun, penelitian terbaru ini melaporkan bahwa gawai bukanlah satu-satunya pihak yang harus disalahkan.

Terjebak di antara keharusan untuk mematuhi jam masuk sekolah yang sangat pagi, serta kebiasaan menatap layar gawai hingga larut malam, kelompok usia belasan tahun ini nyatanya terus-menerus gagal memenuhi anjuran waktu istirahat ideal, yakni berkisar antara delapan hingga sepuluh jam setiap malamnya.

Studi tersebut tidak hanya berhasil menemukan adanya tren lonjakan dramatis pada persentase remaja yang rutin terlelap kurang dari lima jam dalam semalam, tetapi juga mengidentifikasi secara gamblang serangkaian faktor sosial yang kemungkinan besar bertindak sebagai pemicu utamanya.

Tren lonjakan kasus selama dua dekade

Para peneliti telah melacak dan menelusuri tumpukan data selama 16 tahun di Amerik Serikat.

Dari proses tersebut, mereka menemukan fakta bahwa persentase kalangan siswa yang mengalami kondisi kekurangan jam istirahat melonjak secara tajam.

Persentase beranjak dari angka 69 persen pada tahun 2007, hingga meroket mendekati titik 77 persen pada penghujung tahun 2023.

“Ini bukan masalah yang muncul dalam semalam, dan data tersebut menunjukkan krisis yang terjadi secara perlahan dan terus berkembang selama hampir dua dekade," ujar Bancroft.

Krisis Tidur pada Remaja Kian Parah, Berisiko Memicu Depresi hingga Gangguan Kognitif

Ilustrasi remaja. Kasus pubertas dini pada anak usia 7 tahun yang viral di media sosial mengingatkan orangtua untuk mengenali tanda awal, dampak jangka panjang, dan pentingnya pemeriksaan medis sejak dini.

Fenomena buruknya kualitas memejamkan mata ini secara garis besar memengaruhi hampir seluruh kalangan remaja secara merata tanpa pandang bulu.

Kondisi ini bahkan turut menimpa anak-anak muda yang sama sekali tidak pernah melibatkan diri mereka dalam berbagai bentuk perilaku berisiko tinggi, seperti penggunaan zat adiktif terlarang.

Kendati demikian, tren peningkatan atas kasus kurang istirahat ini terpantau secara signifikan jauh lebih masif pertumbuhannya di kalangan kelompok pelajar kulit hitam non-Hispanik, jika dibandingkan dengan rasio pada kalangan pelajar kulit putih non-Hispanik.

Menurut Bancroft, rentetan kegagalan dalam memenuhi hak biologis tubuh ini pada akhirnya berkontribusi terhadap meledaknya krisis kesehatan mental remaja, yang secara langsung memicu timbulnya rasa kecemasan, depresi, gangguan suasana hati, hingga tendensi keinginan untuk mengakhiri hidup.

Mengapa gawai bukan satu-satunya penyebab?

Benturan antara ritme biologis dan jadwal sekolah

Rutinitas penggunaan gawai sering menjadi pihak yang selalu disalahkan, tapi penelitian tersebut justru membongkar sebuah fakta baru.

Para remaja yang menggunakan gawai atau tablet dari empat jam dalam sehari pun nyatanya tetap memiliki kualitas istirahat malam yang sangat buruk.

Bancroft menjelaskan, ada banyak elemen dari rutinitas kehidupan sehari-hari yang dapat memberikan kontribusi besar terhadap terbatasnya waktu istirahat tersebut.

Faktor eksternal ini mencakup durasi hari sekolah yang berjalan terlalu panjang, padatnya aktivitas ekstrakurikuler di luar jam belajar, hingga tuntutan kehidupan sosial mereka yang luar biasa sibuk.

Di samping tekanan lingkungan tersebut, terdapat pula elemen biologis mutlak yang ikut memainkan peranan krusial dari dalam tubuh.

“Pergeseran pola tidur sirkadian pada remaja terjadi ketika otak mereka mulai memiliki ritme sirkadian yang berbeda, dibandingkan saat mereka masih muda,” kata Bancroft.

“Jadi, mereka tidak mulai memproduksi melatonin hingga sekitar pukul 23.00. Artinya, mereka benar-benar tidak merasa mengantuk hingga waktu itu," lanjut dia.

Segala bentuk upaya untuk membatasi penggunaan gawai dan mengurangi waktu menatap layar menjelang jam tidur memang dapat memberikan bantuan positif.

Namun, Bancroft menegaskan, tindakan menyelaraskan kewajiban jadwal masuk sekolah dengan jam biologi alami remaja juga perlu dilakukan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang