Selat Hormuz Masih Diblokir, Cadangan Minyak Terpaksa Mengalir

Kapal tanker melintas di Selat Hormuz, Iran.
Kapal tanker melintas di Selat Hormuz, Iran.

Seluruh anggota Badan Energi Internasional (IEA), yang merupakan gabungan negara pengguna energi terbesar di dunia, sepakat untuk melepas ratusan juta barel minyak mentah dari cadangan strategis mereka.

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Namun, langkah itu tidak membuat harga minyak mentah turun, melainkan sebaliknya. Akhir pekan lalu, harga minyak mentah Brent naik hingga US$100 (Rp1,69 juta) per barel.

Sementara Iran meningkatkan serangan di dekat Selat Hormuz, juga terhadap sejumlah kapal angkutan komersial termasuk tanker minyak dan kapal kargo. Pemerintah Iran telah memblokade Selat Hormuz sejak 28 Februari 2026.

Padahal, lewat selat tersebut negara-negara Teluk mengekspor seperlima minyak mentah dan gas alam, terutama ke Asia. Akibatnya, lalu lintas kapal kargo dan tanker terhenti.

Negara-negara produsen minyak utama seperti Arab Saudi, Irak, Kuwait, dan Uni Emirat Arab (UEA) juga mengurangi produksi karena penyimpanan domestik mereka sendiri sudah mendekati kapasitas penuh, sehingga meningkatkan kekhawatiran akan stabilitas pasar energi.

Apa itu cadangan minyak strategis?

Adalah simpanan minyak mentah yang dikuasai pemerintah dan digunakan jika pasokan tidak berjalan lancar atau untuk keadaan darurat pasar. Penyimpanan modern pertama dibuat oleh Amerika Serikat (AS) pada 1975, setelah embargo minyak Arab menunjukkan bagaimana rentannya suplai energi global.

Keterkejutan itu melipatgandakan harga minyak dan menyulut kurangnya bahan bakar di negara-negara Barat dan menyingkap kerentanan stabilitas ekonomi jika suplai menurun. Sekarang, puluhan negara, terutama anggota IEA, memiliki simpanan strategis sebagai bagian sistem terkoordinasi untuk menjadi keamanan energi.

Anggota IEA memiliki cadangan lebih dari 1,2 miliar barel, ditambah dengan sekitar 600 juta barel yang dimiliki sektor industri. Diperkirakan, China memiliki penyimpanan darurat terbesar, diikuti AS.

Perusahaan analisa energi dan angkutan, Vortexa, memperkirakan China memiliki simpanan 1,3 miliar barel. Cadangan tersebut diduga mampu menopang perekonomian China sampai tiga atau empat bulan.

Simpanan AS yang berjumlah 415 juta barrel, ditambah 439 juta barel yang dimiliki swasta, setara dengan suplai darurat selama lebih dari 40 hari, sebagaimana dikutip dari situs DW, Jumat, 20 Maret 2026.

Seberapa banyak cadangan minyak mentah akan dilepas anggota IEA?

IEA menyatakan, anggotanya akan melepas 400 juta barel minyak mentah dari cadangan mereka. Untuk perbandingan, setelah Rusia menyerang Ukraina pada 22 Februari 2022, minyak mentah yang dilepas 182 juta barrel.

IEA menyatakan, stok akan dilepas secara berkala, tergantung situasi di setiap negara. AS memimpin dengan melepas 172 juta barel mulai pekan depan, dan akan berlangsung selama sekitar 120 hari. Jepang mengatakan akan melepas 80 juta barel. Kontributor lainnya adalah Jerman, Australia, Prancis, Korea Selatan dan Inggris.

IEA diperkirakan akan menyimpan sekitar 90 hari cadangan darurat impor minyak bersih. Pengekspor seperti Kanada, Meksiko dan Norwegia tidak memiliki cadangan darurat, namun dapat membuka cadangan komersial selama krisis.

China, yang bukan anggota penuh IEA tidak memberikan pengumuman serupa, melainkan memprioritaskan keamanan suplai domestik dengan menghentikan ekspor bahan bakar olahan. Rencana ekonomi lima tahun terakhir di Beijing bahkan menetapkan penambahan cadangan minyak strategis.

Apakah simpanan minyak mentah membantu menurunkan harga?

Analis industri minyak mengatakan, suntikan dari persediaan strategis dapat meringankan tekanan pada pasar minyak mentah, namun, jarang dapat menurunkan harga secara dramatis atau untuk waktu lama.

Langkah ini terutama berfungsi sebagai tanda persatuan dan suplai tambahan, dan meyakinkan pedagang bahwa pemerintahnya bersedia turun tangan jika kekurangan di pasar semakin menajam.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

IEA mengungkap, pelepasan simpanan hanya menutupi sekitar tiga atau empat pekan kurangnya pasokan minyak mentah dari daerah Teluk. Jadi, walalupun harga turun, diperkirakan efeknya tidak terlalu nampak, karena volume minyak mentah yang dilepas kecil dibanding dengan 100 juta barrel per hari di pasar global.

"Harga minyak mentah akan terus meningkat jika Selat Hormuz tetap diblokade untuk waktu lama. Walaupun IEA memiliki stok untuk digunakan setelah pelepasan ini, konflik berkepanjangan dapat menyebabkan kerugian lebih besar daripada total cadangan yang dipegang langsung oleh anggota IEA," kata Analis David Morrison dari perusahaan pialang Inggris Trade Nation.