Cerita Pemudik di Pelabuhan Gilimanuk, dari Nusa Dua ke Ketapang Banyuwangi Butuh Waktu 27 Jam

Arus mudik menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah di ujung barat Pulau Bali diwarnai kemacetan horor. Ribuan kendaraan pemudik yang hendak menyeberang menuju Pulau Jawa terjebak antrean panjang selama puluhan jam di kawasan Pelabuhan Gilimanuk, Jembrana, sejak akhir pekan lalu hingga Senin (16/3/2026).
Berdasarkan pantauan di lapangan, kepadatan kendaraan roda dua, mobil pribadi, hingga bus pariwisata membuat laju lalu lintas tersendat. Bahkan, pada Minggu (15/3/2026), antrean kendaraan tercatat mengular hingga 35 kilometer.
Kesaksian Pemudik, 27 Jam untuk Menyeberang
Kondisi sulit dialami oleh Jidda Kusnandar, pemudik asal Nusa Dua yang hendak menuju Jawa Tengah. Jidda mengaku berangkat pada Sabtu (14/3/2026) pukul 17.30 WITA, namun baru bisa menyentuh Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, pada Minggu malam.
"Total sudah nyaris 24 jam perjalanan dari Nusa Dua dan baru mau masuk area Pelabuhan Gilimanuk Minggu sore," ujar Jidda.
Setelah berhasil menyeberang dan tiba di Ketapang pukul 20.30 WITA, ia memilih beristirahat karena kelelahan hebat.
"Saya nyerah, dan pilih bermalam di Banyuwangi dulu karena tujuan masih jauh," imbuhnya.
Pengalaman serupa dirasakan oleh Dewi (56). Warga Jembrana ini terjebak macet selama 20 jam untuk jarak yang relatif dekat.
"Dari pagi ketemu dini hari baru masuk pelabuhan. Macetnya parah," keluh Dewi. Ia berharap pemerintah segera mencari solusi agar kemacetan serupa tidak terulang di tahun-tahun mendatang.
Data Lonjakan Kendaraan H-7 Lebaran
Kemacetan parah ini selaras dengan data dari Posko Gilimanuk yang mencatat lonjakan signifikan dibandingkan periode mudik tahun 2025.
Pada H-7 Lebaran 2026 (14 Maret), tercatat sebanyak 54.652 orang menyeberang dari Bali ke Jawa, naik 8,1 persen dari tahun lalu yang berjumlah 50.545 orang.
Berikut rincian kenaikan volume kendaraan di Pelabuhan Gilimanuk:
- Kendaraan Roda Dua: 10.733 unit (Naik 37,5 persen dibandingkan tahun lalu sebanyak 7.808 unit).
- Kendaraan Roda Empat: 4.610 unit (Naik 0,7 persen dibandingkan tahun lalu sebanyak 4.577 unit).
Ipung (50), seorang sopir travel, menyebut situasi tahun ini jauh lebih parah. "Tahun 2025 antrean hanya 5 sampai 7 kilometer saja. Sekarang saya berangkat jam 12 malam, baru tiba di Terminal Kargo jam 17.00 WITA," ungkapnya.
Upaya Polisi dan Imbauan Tertib Lalu Lintas
Polda Bali bersama pemangku kepentingan terkait telah berupaya mengurai kepadatan dengan menerapkan sistem penundaan kendaraan (delay system) serta rekayasa lalu lintas.
Karo Ops Polda Bali, Kombes Pol. Soelistijono, menjelaskan bahwa selain volume kendaraan yang membludak, aksi tidak tertib pengendara juga memperburuk keadaan.
"Ada pengendara nekat ngeblong (menyerobot jalur), namun justru semakin membuat parah situasi," kata Soelistijono.
Pihak kepolisian mengimbau agar para pemudik tetap sabar dan mematuhi arahan petugas di lapangan.
"Kami mengimbau masyarakat untuk tetap tertib. Jangan ada yang menyerobot antrean karena itu hanya akan memperparah situasi dan memicu konflik di lapangan," tandasnya.
Hingga Senin pagi, antrean kendaraan di jalur menuju Pelabuhan Gilimanuk dilaporkan masih terjadi, meski petugas terus berupaya mempercepat proses bongkar muat kapal untuk mengurai penumpukan di dermaga.
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Cerita Pemudik dari Gilimanuk ke Banyuwangi Ditempuh Selama 27 Jam Gara-gara Macet Horor
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang