Cerita Pemudik Terjebak Macet Horor di Gilimanuk, Kholik Mawardi: Jalur Alternatif Pun Antre Panjang

Arus mudik Lebaran 2026 mencatatkan rekor kelam. Kemacetan menuju Pelabuhan Gilimanuk, Bali, dilaporkan menjadi yang terparah dalam sejarah. Ribuan kendaraan sempat terjebak dalam antrean sepanjang 32 kilometer dengan durasi tunggu mencapai lebih dari 15 jam.
Kondisi ini membuat para pemudik kelelahan hebat di tengah cuaca panas ekstrem. Pantauan di lapangan menunjukkan antrean mengular hingga memasuki kawasan Hutan Nasional Bali Barat.
Jalur Alternatif Juga Macet
Di tengah lumpuhnya jalur nasional, beberapa pemudik mencoba melakukan "pengamanan" mandiri dengan mencari rute lain. Salah satunya adalah Kholik Mawardi (43), pengurus Ikatan Keluarga Banyuwangi (Ikawangi) Dewata Bali.
Kholik mencoba mengambil langkah antisipatif dengan keluar dari jalur utama saat memasuki Kabupaten Jembrana. Ia memilih melewati jalur alternatif melalui jalan-jalan perkampungan di daerah Melaya guna menghindari tumpukan kendaraan besar dan bus di jalan protokol.
Namun, upaya pengamanan rute yang dilakukan Kholik tetap menemui jalan buntu. Volume kendaraan yang luar biasa besar membuat jalan-jalan sempit di pedesaan ikut terkunci.
"Saya mencoba ambil jalan berbeda, lewat jalur alternatif jalan kampung di daerah Melaya untuk menghindari kendaraan besar. Tapi tetap saja terjebak dalam antrean yang panjang," ujar Kholik, Senin (16/3/2026).
Batalkan Puasa
Kisah yang sama juga datang dari Supangat (53), pemudik asal Denpasar. Berangkat sejak Minggu (15/3/2026) pukul 21.00 WITA, hingga Senin sore pukul 15.00 WITA, mobil MPV yang memboyong anak istrinya baru menyentuh wilayah hutan Bali Barat.
Akibat durasi antre yang mencapai 18 jam, Supangat sekeluarga terpaksa membatalkan ibadah puasa demi menjaga stamina. Mereka menggelar tikar di bahu jalan untuk menyantap bekal yang seharusnya menjadi menu sahur.
"Untungnya kami bawa bekal untuk sahur, tapi tidak jadi puasa karena kondisi macet yang lama. Bekal sahur kami pakai untuk sarapan," tutur Supangat pasrah.
Kritik untuk ASDP dan Desakan Mudik Gratis
Kemacetan sepanjang 32 kilometer ini memicu sorotan tajam terhadap kinerja PT ASDP Indonesia Ferry. Operator penyeberangan dinilai kurang matang dalam melakukan perencanaan, terutama dalam penambahan armada dan percepatan durasi bongkar muat.
Selain faktor operator, kebijakan pemerintah daerah juga mendapat kritik pedas.
Sekretaris Jenderal Ikawangi Dewata Bali, Lulut Joni Prasojo, menyayangkan keputusan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi yang menghentikan program mudik gratis tahun ini.
"Saya miris dan hati teriris melihat pemudik motor yang pingsan di tengah antrean Gilimanuk," kata Lulut.
Menurutnya, program mudik gratis yang biasanya mengangkut motor dengan truk dan penumpang dengan bus adalah solusi paling efektif untuk mengurangi beban kendaraan di pelabuhan.
"Kami menyayangkan penghentian program mudik gratis dari Pemerintah, khususnya Pemkab Banyuwangi. Kami berharap program mudik gratis dari Bali ke Banyuwangi dilanjutkan tahun depan," pungkasnya.
Hingga berita ini diturunkan, koordinasi antara Dinas Perhubungan dan kepolisian terus diintensifkan untuk mengurai kepadatan, meski volume kendaraan dari arah Denpasar menuju Pelabuhan Gilimanuk terpantau belum menunjukkan tanda-tanda penurunan signifikan.
Update terbaru, antrean kendaraan menuju Pelabuhan Gilimanuk, Kabupaten Jembrana, Bali, masih mengular hingga sekitar 15 kilometer pada H-5 Lebaran 2026, Senin (16/3/2026) sore.
Berdasarkan pantauan petugas di lapangan, ekor antrean kendaraan saat ini terpantau berada di kawasan Tugu Persil yang berjarak sekitar 15 kilometer dari Pelabuhan Gilimanuk.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang