Cerita Rindu Para Perantau yang Memulai Perjalanan Mudik dari Jakarta

Ilustrasi mudik.
Ilustrasi mudik.

 Suasana hangat penuh haru terasa di area Masjid CIBIS Park, Jakarta Selatan, pada Sabtu pagi 14 Maret 2026. Di tengah iringan musik tanjidor khas Betawi, ratusan orang berkumpul dengan koper, tas ransel, dan wajah penuh harap. Bagi mereka, hari itu menandai awal perjalanan pulang menuju kampung halaman setelah sekian lama merantau.

Sebanyak 750 perantau dari wilayah Jabodetabek bersiap memulai perjalanan mudik menggunakan 15 bus yang diberangkatkan menuju sejumlah kota di Jawa dan Sumatera. Momen keberangkatan ini terasa semakin meriah oleh cuaca cerah serta suasana kekeluargaan yang tercipta di antara para peserta yang saling berbagi cerita tentang rencana Lebaran mereka di kampung. Scroll untuk info lengkapnya, yuk!

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Di antara para pemudik, Wagito menjadi salah satu yang tak bisa menyembunyikan rasa harunya. Pedagang mie ayam bakso yang sehari-hari berjualan di Ciputat, Tangerang Selatan itu akan pulang ke Wonogiri bersama istri dan anaknya.

“Yang paling ditunggu ya bisa kumpul sama keluarga di kampung. Meski ibu sudah tidak ada sejak tahun lalu, tapi bapak dan saudara masih di sana. Biasanya kalau pulang, saya juga bantu bertani,” kata Wagito sambil tersenyum, mengutip keterangannya, Senin 16 Maret 2026. 

Ia berencana menghabiskan sekitar tiga minggu di kampung halamannya sebelum kembali bekerja di Jakarta. Baginya, mudik bukan sekadar perjalanan pulang, tetapi juga kesempatan untuk mengisi kembali energi setelah setahun bekerja di perantauan.

Tradisi mudik sendiri memang menjadi bagian penting dalam budaya masyarakat Indonesia, terutama menjelang Hari Raya Idul Fitri. Bagi para perantau, perjalanan pulang ini sering kali menjadi momen langka untuk melepas rindu, mempererat hubungan keluarga, sekaligus bernostalgia dengan kampung halaman.

Beberapa kota tujuan para pemudik tahun ini antara lain Purwokerto, Yogyakarta, Solo, dan Semarang di Jawa Tengah; Ponorogo dan Surabaya di Jawa Timur; serta Lampung di Pulau Sumatra.

Sebelum keberangkatan, para peserta diketahui telah melalui proses pendaftaran dan verifikasi yang berlangsung pada akhir Februari 2026 lalu. Mayoritas peserta berasal dari kalangan pekerja sektor informal seperti pedagang kecil, guru honorer, guru ngaji, marbot masjid, asisten rumah tangga, hingga buruh harian.

Program mudik bersama ini merupakan salah satu inisiatif yang kembali digelar untuk membantu masyarakat dengan keterbatasan ekonomi agar tetap bisa pulang kampung saat Lebaran. Tahun ini menjadi penyelenggaraan keempat sejak program tersebut diperkenalkan.

Selain transportasi, para peserta juga menerima bekal uang saku untuk membantu kebutuhan selama perjalanan maupun saat berada di kampung halaman.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pelepasan keberangkatan ini dipimpin langsung oleh Ketua Pengurus Dompet Dhuafa, Ahmad Juwaini, didampingi para jajaran pengurus dan manajemen Dompet Dhuafa. Pada sambutannya, Ahmad Juwaini menyampaikan bahwa Mudik Kalcer merupakan program unggulan mereka yang bertujuan membantu masyarakat agar dapat melaksanakan tradisi mudik dan merayakan Idul Fitri bersama keluarga tercinta tanpa terkendala biaya.

“Layanan mudik ini juga menjadi pertanggungjawaban Dompet Dhuafa kepada para donaturnya dalam mengupayakan kebaikan Ramadhan ini. Semoga membawa kebahagiaan untuk bersilaturahmi bersama sanak keluarga. Dompet Dhuafa bersedia melaksanakan program ini tiap tahunnya, namun kami berharap, para pemudiknya berganti. Mustahik telah menjadi Muzakki,” pungkas Ahmad Juwaini.