Ramai Stiker “Jangan Cium dan Pegang Bayi”, Ternyata Ada Alasan Medisnya

mencium bayi, campak, Ramai Stiker “Jangan Cium dan Pegang Bayi”, Ternyata Ada Alasan Medisnya, Kemenkes ingatkan hindari mencium bayi saat Lebaran, Ciuman pada bayi bisa menularkan virus, Sistem imun bayi belum berkembang sempurna, Orangtua berhak membatasi kontak dengan bayi

Belakangan ini media sosial ramai dengan stiker bertuliskan “jangan cium dan pegang bayi” yang digunakan orangtua saat menerima tamu atau saat memperlihatkan bayi mereka di media sosial.

Pesan tersebut sebenarnya bukan sekadar tren di internet.

Sejumlah ahli kesehatan mengingatkan bahwa menyentuh atau mencium bayi dapat meningkatkan risiko penularan penyakit karena sistem kekebalan tubuh bayi masih sangat rentan terhadap infeksi.

Imbauan ini juga menjadi perhatian pemerintah, terutama menjelang momen silaturahmi Lebaran ketika banyak keluarga berkumpul.

Kemenkes ingatkan hindari mencium bayi saat Lebaran

Kementerian Kesehatan mengimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati saat berinteraksi dengan bayi pada momen Lebaran.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, mengatakan kebiasaan menyentuh bayi saat bertemu keluarga sebaiknya dikurangi.

“Kebiasaan asal sentuh anak balita, bayi, terutama Lebaran sebaiknya memang dikurangi atau dihindari karena risiko penularan tinggi,” ujar Andi dalam konferensi pers daring, seperti diberitakan Jumat (6/3/2026).

Menurut Andi, pertemuan keluarga dalam jumlah besar dapat meningkatkan risiko penularan penyakit, termasuk campak.

Jika ada anak yang mengalami demam atau muncul ruam kemerahan, masyarakat diminta segera membawa anak ke fasilitas kesehatan dan menghindari kegiatan berkumpul.

Ciuman pada bayi bisa menularkan virus

mencium bayi, campak, Ramai Stiker “Jangan Cium dan Pegang Bayi”, Ternyata Ada Alasan Medisnya, Kemenkes ingatkan hindari mencium bayi saat Lebaran, Ciuman pada bayi bisa menularkan virus, Sistem imun bayi belum berkembang sempurna, Orangtua berhak membatasi kontak dengan bayi

Ilustrasi bayi. Tren stiker larangan mencium bayi muncul karena kekhawatiran terhadap risiko penularan infeksi pada bayi.

Selain sentuhan, mencium bayi juga dapat meningkatkan risiko penularan infeksi.

Dokter keluarga yang berbasis di Inggris, Dr. Sermed Mezher, menjelaskan bahwa mencium bayi di wajah atau bibir dapat menularkan virus tertentu.

“Untuk melindungi bayi, banyak dokter anak merekomendasikan kebijakan ‘tanpa ciuman’ bagi siapa pun yang bukan pengasuh utama, terutama di wajah atau tangan,” kata Mezher, dikutip dari laporan Antara, Rabu (25/2/2026).

Ia menjelaskan bahwa virus herpes simpleks tipe 1 (HSV-1) yang menyebabkan luka lepuh di bibir atau cold sore dapat menular melalui kontak dekat seperti ciuman atau sentuhan kulit.

Virus tersebut bahkan dapat menular meskipun seseorang tidak menunjukkan luka yang terlihat.

Sistem imun bayi belum berkembang sempurna

Melansir Science Alert (25/11/2024), bayi yang baru lahir memiliki sistem kekebalan tubuh yang belum berkembang sepenuhnya sehingga lebih rentan terhadap infeksi.

Peneliti mikrobiologi klinis dari University of Leicester, Primrose Freestone, menjelaskan bahwa pada bulan-bulan pertama kehidupan bayi memiliki lebih sedikit sel imun yang mampu melawan infeksi.

Akibatnya, infeksi yang ringan pada orang dewasa dapat menjadi jauh lebih serius bagi bayi.

Virus herpes yang biasanya hanya menyebabkan luka kecil pada orang dewasa dapat menyebabkan penyakit berat pada bayi.

Dalam beberapa kasus, infeksi bahkan dapat menyebar ke organ tubuh atau otak bayi jika tidak segera ditangani.

Orangtua berhak membatasi kontak dengan bayi

Para ahli menekankan bahwa orangtua tidak perlu merasa sungkan jika meminta tamu untuk tidak mencium atau menyentuh bayi.

Langkah tersebut merupakan bagian dari upaya melindungi kesehatan bayi dari risiko infeksi.

Freestone menjelaskan bahwa orang yang peduli terhadap kesehatan bayi seharusnya dapat memahami permintaan tersebut.

Karena itu, stiker atau pengingat seperti “jangan cium dan pegang bayi” yang ramai digunakan di media sosial sebenarnya menjadi cara sederhana bagi orangtua untuk mengingatkan orang lain agar lebih berhati-hati saat berinteraksi dengan bayi.

Kasih sayang kepada bayi tetap bisa ditunjukkan tanpa harus menyentuh atau mencium mereka secara langsung.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang